<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#duku Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/duku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/duku/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 10 Feb 2019 23:26:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#duku Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/duku/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jangan Kosumsi Buah Duku Berlebihan, Ini Alasannya</title>
		<link>https://prokabar.com/jangan-kosumsi-buah-duku-berlebihan-ini-alasannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2019 23:26:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[#Buah]]></category>
		<category><![CDATA[#duku]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[#musiman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=30294</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padang, Prokabar  — Buah duku tengah ‘membanjiri’ Kota Padang, hampir di setiap jengkal jalan ada saja masyarakat yang berjualan buah bulat berwarna kuning ini. ...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/jangan-kosumsi-buah-duku-berlebihan-ini-alasannya/">Jangan Kosumsi Buah Duku Berlebihan, Ini Alasannya</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang</strong>, <strong>Prokabar</strong><span class="Apple-converted-space">  </span>— Buah duku tengah ‘membanjiri’ Kota Padang, hampir di setiap jengkal jalan ada saja masyarakat yang berjualan buah bulat berwarna kuning ini.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Harganya yang murah membuat buah ini menjadi ‘jajanan’ favorit masyarakat kota Padang saat ini. Dengan harga Rp8.000 hingga Rp10.000 masyarakat sudah bisa menikmati satu kilogram buah tersebut.</p>
<p>Namun, jangan sampai terlena dengan kelezatan buah dan murahnya tersebut karena bisa mendatangkan penyakit yang membahayakan tubuh. Masyarakat harus jeli meng­kondisikan tubuh dengan mengkonsumsi jumlah buah tersebut.</p>
<p>Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Feri Mulyani mengatakan harus berhati-hati dalam meng­konsumsi buah tersebut. Jangan sampai berlebihan dalam mengkonsumsinya.</p>
<p>“Segala sesuatu yang berlebihan pasti akan berdampak buruk pada kesehatan. Sebenarnya bukan bu­ahnya yang berbahaya na­mun cara memakannya.” ungkapnya saat dihubungi beberapa saat lalu.</p>
<p>Ia menambahkan, sebagian masyarakat banyak yang memakan dengan cara yang salah seperti membuka ku­litnya dengan mulut seperti rambutan. “Ka­rena kulit buah tersebut tentu banyak mengandung kuman, apalagi jika dijual di tepi jalan yang terkena debu langsung, belum lagi sudah banyak tangan yang memegang buah tersebut, jika langsung dibuka dengan mulut tentunya akan mendatangkan pe­nyakit,” ungkapnya.</p>
<p>Lebih lanjut ia mengatakan, jika mengkosumsi duku secara berlebihan juga akan berdampak pada pencernaan. “Buahnyakan ada yang asam, jika di kosumsi dalam jumlah berlebihan akan berdampak pada pencernaan,” sambungnya.</p>
<p>Untuk itu dirinya mengingatkan masyarakat untuk membudayakan hidup bersih, seperti dengan mencuci tangan sebelum makan dan memperhatikan kebersihan. (<b>hdp</b>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/jangan-kosumsi-buah-duku-berlebihan-ini-alasannya/">Jangan Kosumsi Buah Duku Berlebihan, Ini Alasannya</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>‘Banjir’ Buah Duku di Padang, Begini Cerita Pedagang</title>
		<link>https://prokabar.com/banjir-buah-duku-di-padang-begini-cerita-pedagang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2019 07:51:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[#duku]]></category>
		<category><![CDATA[#gas]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#OLA]]></category>
		<category><![CDATA[#UMKM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=29497</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padang, Prokabar — Siapa yang tak kenal buah duku. Buah bulat tak berbulu itu, saat ini tengah digrandungi banyak orang. Di Padang, buah duku...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/banjir-buah-duku-di-padang-begini-cerita-pedagang/">‘Banjir’ Buah Duku di Padang, Begini Cerita Pedagang</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang</strong>, <strong>Prokabar</strong> — Siapa yang tak kenal buah duku. Buah bulat tak berbulu itu, saat ini tengah digrandungi banyak orang. Di Padang, buah duku atau lansek banyak dijumpai. Terayal di jalan utama. Di Kota &#8220;Bengkoang&#8221; ini, buah itu seperti musimnya saja, tapi tak berbatang.</p>
<p>Buahnya didatangkan dari Palembang atau Jambi. Warga Padang hanya menjualnya saja. Mereka peroleh untung dari hasil jualan buah itu. Tak perlu memanjat. Tapi untung juga.</p>
<p>Buah dengan isinya yang sudah tersusun rapi itu banyak pembeli. Begitu juga pedagangnya. Pedaganya &#8220;menjamur&#8221; dipinggir jalan jalan utama. Jl Khatib Sulaiman, contohnya. Belum lagi jalan Andalas, Aur Duri, Lubeg, Sultan Syahrir. Mereka menjual buah duku menggunakan mobil bak. Ada juga menggunakan trase.</p>
<p>Sekarang, pedagang menjualnya sepuluh ribu perkilo. Sebelumnya lima belas hingga dua puluh per kilogram. Murah memang, karena penjualnya membludak. Santi (32), contohnya, ia memperoleh untung hingga lima ratus ribu perhari dari hasil jualan itu. Dalam sehari dagannya terjual<span class="Apple-converted-space">  </span>20 hingga<span class="Apple-converted-space">  </span>50 karung.</p>
<p><span class="Apple-converted-space"> </span>Dalam sekarung, beratnya beragam, delapan belas hingga dua puluh satu kilo.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>&#8220;Kalau ramai, lebih lima ratus ribu untungnya,&#8221;sebutnya, Selasa (29/1).</p>
<p>Santi mengakui berjualan semenjak akhir Desember 2018. Saat itu harga jual buah duku masih mahal. Ia juga menampik dagangannya habis terjual pada hari pergantian tahun tersebut.</p>
<p>&#8220;Pas tahun baru kemarin, laku terjual,&#8221;katanya.</p>
<p>Antusias warga untuk menikmati buah itu memang tinggi. Terlihat dari kesibukan Santi saat melayani pembelinya. Diatas mobil bak terbuka itu, ia tampak sibuk. Pembelinya silih berganti saja berdatangan. Ada yang pakai motor, bahkan mobil.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>&#8220;Berapa sekilo Ni?&#8221; sebut seorang pembeli. Lalu dengan cekatan Santi yang dibantu<span class="Apple-converted-space">  </span>seorang rekannya memasukan buah itu kedalam kantong plastik, lalu ditimbangnya.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>&#8220;Dari pagi, belum sempat beristirahat karena pembeli ramai,&#8221;imbuhnya.</p>
<p>Saat Singgalang ditempat jualan Santi di Kapalo Koto, Seberang Padang utara, sudah delapan karung yang terjual. Diatas mobil tersisa sekitar empat karung. Diatas becak juga ada persediaan sekitar delapan karung.</p>
<p>&#8220;Kalau ramai kayak gini sampai sore, insaallah habis dagangan semuanya,&#8221;bebernya lagi.</p>
<p>Ia menampik berjualan hingga jam tujuh saja disana. Setelah itu beralih ke warungnya di Seberang Padang Utara.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Berbicara tentang untung yang ia peroleh selama berjualan buah itu, tidak dihitungnya jelas. &#8220;Kalau sudah selesai musim duku, baru kita hitung jumlah untungnya,&#8221;tegasnya.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Ia juga menilai, jualan buah musiman itu menggiurkan, bahkan banyak juga yang beralih dagangannya. &#8220;Sekarang banyak yang lari dari dagangan, dan berjualan duku seperti pedagang cabe,&#8221;ujar Santi lagi.</p>
<p>Meski maraknya pedagang buah duku, Santi menilai tidak merasa ada saingan dengan pedagang lain. Bahkan disepanjang jalan Sutan Syharir yang merupakan tempat jualan Santi, terdapat kurang lebih empat pedagang dengan buah yang sama.</p>
<p>&#8220;Kucinya adalah cara pelayanan kita kepada pembeli,&#8221;sautnya.</p>
<p>Hingga prokabar pamit, Santi masih saja sibuk melayani pembelinya. (<b>gas</b>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/banjir-buah-duku-di-padang-begini-cerita-pedagang/">‘Banjir’ Buah Duku di Padang, Begini Cerita Pedagang</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 31/63 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/12 queries in 0.011 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 20:17:00 by W3 Total Cache
-->