<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#Budaya Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/budaya/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 27 May 2024 01:38:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#Budaya Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/budaya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Budaya Kampar, Elok Dijaga</title>
		<link>https://prokabar.com/budaya-kampar-elok-dijaga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fadhil Wafi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 May 2024 01:12:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#kampar]]></category>
		<category><![CDATA[#Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ocu]]></category>
		<category><![CDATA[Teratak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=120334</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kabupaten Kampar mempunyai sebuah sejarah yang cukup menarik. Pembagian wilayahnya pada zaman jajahan Belanda secara administratif, dilihat berdasarkan hukum adat. Terdapat beberapa kelompok regional...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/budaya-kampar-elok-dijaga/">Budaya Kampar, Elok Dijaga</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kabupaten Kampar mempunyai sebuah sejarah yang cukup menarik. Pembagian wilayahnya pada zaman jajahan Belanda secara administratif, dilihat berdasarkan hukum adat. Terdapat beberapa kelompok <em>regional </em>Kabupaten Kampar, yaitu:</p>
<ol>
<li>Desa</li>
</ol>
<p>Desa Swapraja meliputi beberapa daerah seperti Kunto Darussalam, Tambusai dan Kepenuhan, Rambah, dan Rokan.</p>
<ol start="2">
<li>Kedemangan</li>
</ol>
<p>Kedemangan Bangkinang membawahi daerah Kuok, Salo, Air Tiris, dan Batu Bersurat. Kedemangan Bangkinang menggunakan struktur daerah yang sama dengan Minangkabau yaitu koto, nagari, dan teratak.</p>
<ol start="3">
<li>Desa Swapraja Bagian</li>
</ol>
<p>Desa Swapraja bagian Pelalawan meliputi daerah Pangkalan Kuras, Bunut, Serapung dan Kuala Kampar.</p>
<ol start="4">
<li>Desa Swapraja Bagian Sebapelan</li>
</ol>
<p>Desa Swapraja ini meliputi daerah Gunung Sahilan, Kewedanan Kampar Kiri, Kuantan Singingi sampai Tapung Kiri dan Tapung Kanan, dan Kesultanan Siak.</p>
<p>Kabupaten Kampar sekarang berada di posisi ke-II di Provinsi Riau dengan infrastruktur pembangunan yang cukup baik. Menurut perspektif sejarah, Kabupaten Kampar termasuk ke dalam Luhak Lima Puluh Kota yang terdiri dari Bangkinang, Salo, Kuok, dan Air Tiris.</p>
<p>Kabupaten Kampar masih memegang struktur kebudayaan Minangkabau seperti lingkungan tempat tinggal masyarakat, dan kesenian. Dalam lingkungan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>masyarakat terdapat koto, dusun, dan teratak, sedangkan bagian tradisi seperti <em>ayi ayo onam</em>, <em>batobo</em>. Adapun kesenian yang terdapat di Bangkinang seperti tari piring, <em>randai</em>, <em>calempong, cong</em>, <em>badikiu</em>, <em>berzanzi</em>, dan rebana. Tari piring dan randai merupakan kesenian yang berasal dari Minangkabau dan biasanya dilakukan ketika acara adat serta pernikahan.</p>
<p>Tari piring merupakan salah satu tarian yang berasal dari Minangkabau. Tarian ini dalam Bahasa Minangkabau disebut sebagai tari piriang dengan menjadikan piring sebagai media utama. Dahulu tari piring merupakan sebuah gerakan atau ritual sebagai ucapan rasa syukur terhadap para dewa setelah memperoleh hasil panen. Namun, setelah agama Islam telah masuk ke Minangkabau, maka tari piring tidak lagi digunakan dalam ritual ucapan rasa syukur terhadap para dewa, tapi dilaksanakan untuk hiburan masyarakat dan dalam sebuah acara seperti pernikahan.</p>
<p>Selain tari piring, dalam kesenian Kabupaten Kampar terdapat namanya tradisi <em>Batobo</em>. Tradisi <em>batobo </em>juga disebut sebagai arisan tani karena para petani akan melakukan gotong royong dalam mengerjakan pekerjaan sawah. Kata <em>batobo </em>berasal dari bahasa daerah Bangkinang, memiliki filosofi yaitu suatu pekerjaan akan lebih mudah dan cepat selesai jika dikerjakan secara bersama-sama.</p>
<p>Selain mempunyai unsur makna gotong royong dan kebersamaan, <em>batobo </em>juga memiliki filosofi dalam hal tertib. Setiap anggota <em>batobo </em>harus menunggu jadwal pengerjaan sawah secara bergiliran, dengan kata lain bahwa akan lebih cepat selesai, <em>easy</em>, dan hasilnya dapat dinikmati secara bersama-sama.</p>
<p>Selain <em>batobo </em>yang menjadi ciri khas budaya Kabupaten Kampar, terdapat sebuah tradisi yang dilaksanakan ketika lebaran idul fitri. Tradisi ini dinamakan <em>ayi ayo onam/ zorah </em>atau hari raya enam/ ziarah yang dilaksanakan setelah hari pertama lebaran idul fitri.</p>
<p><em>Ayi Ayo Onam </em>(hari raya enam) merupakan sebuah tradisi dari daerah Kabupaten Kampar, terkhusus Bangkinang Seberang. <em>Ay</em>i <em>Ayo Onam </em>lebih meriah dilaksanakan daripada hari raya idul fitri. Sebelum melaksanakan <em>ayi ayo onam,</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>terlebih dahulu masyarakat melaksanakn puasa sunnah enam di bulan Syawal. Ayi ayo onam dilaksanakan setiap tanggal 8 Syawal dan terlebih dahulu mengerjakan puasa sunnah enam hari.</p>
<p>Unsur kebudayaan yang ada di Kabupaten Kampar selain tradisi adalah bahasa yang menjadi sarana komunikasi masyarakat. Masyarakat Kabupaten Kampar lebih dominan menggunakan bahasa daerah daripada bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan adalah bahasa <em>Ocu </em>yang mempunyai kemiripan dengan bahasa Minang.</p>
<p><em>Ocu </em>merupakan salah satu suku yang tidak terlalu besar di Riau dan Melayu. Suku <em>Ocu </em>adalah orang asli yang berasal dari Kabupaten Kampar dan mempunyai sejarah tersendiri dalam perkembangannya. Penulis mempunyai pandangan tersendiri terkait orang <em>Ocu </em>ini. Penulis berpandangan bahwa orang <em>Ocu </em>berasal dari Minangkabau, karena dilihat dari lokasinya Kabupaten Kampar berbatasan dengan Sumatera Barat. Selain itu dari perspektif sejarah bahwa dahulu Kabupaten Kampar seperti Bangkinang, Kuok, Salo, Air Tiris termasuk ke dalam Luhak Lima Puluh Kota. Maka hal inilah yang membuat bahasa <em>Ocu </em>hampir persis seperti bahasa Minang.</p>
<p>Bahasa <em>Ocu </em>merupakan percampuran antara bahasa Melayu dan Minang, serta mempunyai kemiripan dengan bahasa Kuantan. Adapun contoh bahasa <em>Ocu </em>sebagai berikut:</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="34">No</td>
<td width="200">Bahasa Indonesia</td>
<td width="164">Bahasa Minang</td>
<td width="154">Bahasa <em>Ocu</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="34">1</td>
<td width="200">Saya pengen pergi ke Riau</td>
<td width="164"><em>Awak nio pai ka Riau</em></td>
<td width="154"><em>Deyen</em> <em>nio</em> <em>poi ka Riau</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="34">2</td>
<td width="200">Saya tidak mau makan</td>
<td width="164"><em>Ndak amuah awak </em><em>makan</em></td>
<td width="154"><em>Ndak nio deyen </em><em>makan do</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="34">3</td>
<td width="200">Saya suka dengan dia</td>
<td width="164"><em>Aden suko samo paja tu</em></td>
<td width="154"><em>Den cinan ka inyo</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan kesamaan bahasa antara <em>Ocu </em>dan Minang, hal inilah yang membuat pandangan penulis semakin kuat tentang orang Ocu adalah masyarakat Minangkabau yang merantau dan menetap di Kabupaten Kampar, jauh sebelum wilayah ini masuk ke dalam Provinsi Riau.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Fakhrul Haq<br />
Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang </strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/budaya-kampar-elok-dijaga/">Budaya Kampar, Elok Dijaga</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wakil Bupati Pasaman Komitmen Menjadikan Lubuk Sikaping Sebagai Kota Pendidikan</title>
		<link>https://prokabar.com/wakil-bupati-pasaman-komitmen-menjadikan-lubuk-sikaping-sebagai-kota-pendidikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fadhil Wafi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Jul 2023 15:39:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Lubuk Sikaping]]></category>
		<category><![CDATA[Pasaman]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Bupatin Pasaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=113911</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pasaman, Prokabar.com &#8211; Wakil Bupati Pasaman Sabar AS meresmikan Pondok Pesantren Alquran Sabidah Karimi di Sungai Pandahan, Nagari Sundatar Selatan, Kecamatan Lubuk Sikaping, Pasaman. &#8220;Saya...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/wakil-bupati-pasaman-komitmen-menjadikan-lubuk-sikaping-sebagai-kota-pendidikan/">Wakil Bupati Pasaman Komitmen Menjadikan Lubuk Sikaping Sebagai Kota Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://prokabar.com">Pasaman, Prokabar.com &#8211;</a> </strong>Wakil Bupati Pasaman Sabar AS meresmikan Pondok Pesantren Alquran Sabidah Karimi di Sungai Pandahan, Nagari Sundatar Selatan, Kecamatan Lubuk Sikaping, Pasaman.</p>
<p>&#8220;Saya berkomitmen untuk menjadikan Lubuk Sikaping sebagai Kota Pendidikan,&#8221; kata Sabar AS, Senin (3/7/2023).</p>
<p>Sabar AS mengatakan jika makin banyak lembaga pendidikan, maka akan memajukan dunia pendidikan itu sendiri sekaligus membantu peningkatan ekonomi daerah.</p>
<p>&#8220;Ini merupakan wujud nyata komitmen kita dari pemerintah daerah ke depan menjadikan Lubuk Sikaping sebagai kota pendidikan, budaya, dan wisata,&#8221; ucap Sabar.</p>
<p>Komitmennya itu dibuktikan dengan ikutnya pemerintah daerah membantu dana sebanyak Rp15 juta untuk pembangunan pondok pesantren.</p>
<p>&#8220;Semoga bermanfaat, dengan harapan agar pembangunan pondok pesantren ini cepat selesai dan dapat difungsikan untuk pembinaan generasi muda,&#8221; tutupnya <strong>(antara/prokabar)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/wakil-bupati-pasaman-komitmen-menjadikan-lubuk-sikaping-sebagai-kota-pendidikan/">Wakil Bupati Pasaman Komitmen Menjadikan Lubuk Sikaping Sebagai Kota Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SMAN 1 Tanjung Raya Gelar Pentas Seni, Projek Pelajar Pancasila ditampilkan.</title>
		<link>https://prokabar.com/sman-1-tanjung-raya-gelar-pentas-seni-projek-pelajar-pancasila-ditampilkan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2023 15:07:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#seni]]></category>
		<category><![CDATA[#sman1tanjungraya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=110975</guid>

					<description><![CDATA[<p>Maninjau, Prokabar &#8211; Beragam seni pertunjukan dan minat bakat pelajar SMA Negeri 1 Tanjung Raya tampil dalam pentas seni dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sman-1-tanjung-raya-gelar-pentas-seni-projek-pelajar-pancasila-ditampilkan/">SMAN 1 Tanjung Raya Gelar Pentas Seni, Projek Pelajar Pancasila ditampilkan.</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Maninjau, Prokabar</strong> &#8211; Beragam seni pertunjukan dan minat bakat pelajar SMA Negeri 1 Tanjung Raya tampil dalam pentas seni dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di halaman olahraga, Selasa (23/1).</p>
<p>Siswa-siswi dari kelas X (satu) hingga kelas XII (tiga) secara trampil menunjukan kebolehan mereka sebagai hobi sekaligus kemampuan dimiliki.</p>
<p>Kepala SMAN 1 Tanjung Raya, Zulkifli mengatakan, agenda Pentas Seni sebenarnya menjadi agenda tahunan dari sekolah tersebut.</p>
<p>Namun dua tahun mengalami pandemi covid 19 pada 2020 dan 2021, sempat ditiadakan dan membuat aktifitas dan kreatifitas siswa vakum.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah, tahun 2022 ini Pentas Seni sudah bisa kita laksanakan dan menyalurkan minat dan bakat siswa-siswi kita,&#8221; terangnya.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-110976" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG-20230124-WA0072-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG-20230124-WA0072-300x225.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG-20230124-WA0072-1024x768.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG-20230124-WA0072-768x576.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG-20230124-WA0072-1536x1152.jpg 1536w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG-20230124-WA0072.jpg 1600w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Zulkifli melanjutkan, selain berbagai kesenian dan keterampilan seperti tari-tarian, pencak silat, Tambua Tansa, membaca puisi dan bermain musik tradisional atau modren Band, siswa-siswi juga menampilkan Projek Pelajar Pancasila atau Pembelajaran Kurikulum Merdeka. Seperti Kearifan Lokal, Kewirausahaan dan Gaya Hidup Keberlanjutan.</p>
<p>&#8220;Kearifan lokal kita telah sukses mengkader pelajar kita menjadi Janang atau juru bicara dalam Pasambahan Adat Manjapuik Marapulai. Di kewirausahaan kita melatih anak-anak belajar membatik. Dan Gaya Hidup Keberlanjutan, anak-anak berhasil memproduksi usaha kuliner khas danau dan membuat pupuk organik cair dari bahan sendimen danau. Semua proses pelajaran selama empat bulan ini, kita tampilkan dalam Pentas Seni 2023,&#8221; ungkap Zulkifli.</p>
<p>Sementara itu, Kepala Cabang Wilayah I Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Mardison diwakili Fadrizal mengatakan, penampikan dan Pentas Seni di SMAN 1 Tanjung Raya sudah sangat bagus. Dan diharapkan terus ditingkatkan lebih baik lagi.</p>
<p>&#8220;Kita sangat puas dan senang melihat penampilan dari siswa-siswi SMAN 1 Tanjung Raya. Bahkan sudah menunjukan hasil dari proses latihan Projek Pelajar Pancasila berupa kearifan lokal, kewirausahaan dan gaya hidup keberlanjutan. Terutama kearifan lokal Pasambahan Manjapuik Marapulai, anak-anak kita cukup trampil dan kita apresiasi ini,&#8221; ujarnya. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sman-1-tanjung-raya-gelar-pentas-seni-projek-pelajar-pancasila-ditampilkan/">SMAN 1 Tanjung Raya Gelar Pentas Seni, Projek Pelajar Pancasila ditampilkan.</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mencari Solusi Peningkatan Karakter di Dunia Pendidikan</title>
		<link>https://prokabar.com/mencari-solusi-peningkatan-karakter-di-dunia-pendidikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2022 14:51:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=109621</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lubuk Basung, Prokabar &#8211; Pertemuan tidak terduga memberi warna dan diskusi hebat dengan sejumlah pemuda energik, aktif dan inovatif, Sabtu malam (3/12). Tukar pikiran...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/mencari-solusi-peningkatan-karakter-di-dunia-pendidikan/">Mencari Solusi Peningkatan Karakter di Dunia Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lubuk</strong> <strong>Basung</strong>, <strong>Prokabar</strong> &#8211; Pertemuan tidak terduga memberi warna dan diskusi hebat dengan sejumlah pemuda energik, aktif dan inovatif, Sabtu malam (3/12). Tukar pikiran itu bahkan sampai larut malam, tidak terasa saja sampai pukul dua Minggu dini hari (4/12).</p>
<p>Berawal dari undangan dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, difasilitasi Reido Deskumar, salah seorang pemuda hebat yang berkarya mendampingi Gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi Ansyarullah sebagai Sespri, pemuda-pemuda hebat ini berkumpul berdiskusi sengit.</p>
<p>Saya bersama Fadly, Jefry, Reido Deskumar, Rahmat Filcher dan beberapa orang pemuda lainnya berkesempatan semeja, setelah kegiatan Penguatan Karakter Anak Usia Dini selesai malam itu.</p>
<p>Tidak jauh dari tema undangan yang dikupas, pendidikan menjadi pembahasan pelit dan rumit dari kebijakan pemerintah.</p>
<p>Rahmat Filcher mengemukakan terkait gonta ganti kurikulum salah satu masalah berat yang dihadapi setiap guru dan kepala sekolah.</p>
<p>&#8220;Guru pusing dan panik adanya gonta ganti kurikulum yang selalu membingungkan. Hal ini mempengaruhi konsentrasi guru untuk mendidik dan mengajar anak didik,&#8221; katanya.</p>
<p>Saya dan Fadly pun mencoba mengupas dan mencarikan solusi, bahwa kurikulum itu hanyalah kebijakan dan alur yang tidak harus diikuti secara penuh.</p>
<p>Kuncinya penyesuaian sesuai kemampuan guru dan sekolah untuk implementasi teori itu sesuai kemampuan individu dan organisasi satuan sekolah.</p>
<p>&#8220;Kurikulum itu hanyalah metode referensi kebijakan semata. Subtansi utamanya, kan pola didik yang pada hakikatnya tumbuh kembang anak harus disesuaikan potensi dan minat bakat anak. Intinya, anak didik tidak bisa kita sama ratakan kemampuannya menangkap pelajaran. Sesuai dominasi otak kiri atau otak kanan yang digunakan,&#8221; terangnya.</p>
<p>Pembahasan berlanjut kepada fenomena-fenomena yang terjadi di lapangan. Berbagai pengalaman satu sama lain terus berganti menjadi sumbangsih pemikiran.</p>
<p>Kondisi saat ini, sangatlah banyak tantangan dan rintangan. Hampir di seluruh pelosok negeri mengalami kondisi dan masalah yang sama.</p>
<p>&#8220;Pengaruh android disertai game online dan media sosial, lebih banyak pengaruh buruk. Kontrol sosial sangat sulit karena minimnya sumber daya manusia terkait mengendalian teknologi komuniksi ini,&#8221; tutur diantara pemuda itu.</p>
<p>Reido mencontohkan pengalaman yang dilalui saat bergerak di Kampung Halamannya. Aksi gerakan sesama mahasiswa pernah dilakukan. Namun semangat itu tidak berlangsung lama, akibat beragamnya persoalan. Apalagi sering kecemburuan sosial sesama penggerak, yang hanya sering salah paham semata membubarkan semangat dan persatuan.</p>
<p>Persoalan tersebut ternyata juga dirasakan setiap individu pemuda yang berasal dari berbagai daerah itu. Fadly bergerak di Lubuk Basung.</p>
<p>Jefry berkampung halaman di Tiku. Ada juga berasal dari Manggopoh, Garagahan, Kampung Palano, Maninjau, Koto Baru dan Palembayan.</p>
<p>Kemudian, saya mencoba memberikan pandangan tersendiri. Sebagai penggiat, pelaku dan pemerhati Budaya Minangkabau maka akar budaya harus kembali digali dan dihidupkan.</p>
<p>&#8220;Sejarah Minangkabau cukup beranjak lahirnya Pahlawan Nasional kita seperti Buya Hamka, Haji Agus Salim, Moch. Hatta, M. Natsir dan Rasuna Said. Mereka mendapatkan bekal pendidikan Agama Islam yang sangat kuat dan kental. Mereka didik dan diterpa ulama-ulama hebat dimasa mereka kecil. Dan sistem pendidikan yang mereka itu adalah Pendidikan Surau,&#8221; terang saya kepada rekan-rekan tersebut.</p>
<p>Angku Yus Datuak Parpatiah (Angku Bandaro Bodi) sama-sama sering kita dengar setiap ia memberikan materi.</p>
<p>Bahwa generasi kemerdekaan hingga reformasi merupakan generasi hampa dan minim pendidikan dari orang tua dan ninik mamaknya. Pada masa itu, gejolah perperangan selalu terjadi sehingga generasi pada masa itu tidak lengkap dan didapakan penuh seperti generasi sebelumnya.</p>
<p>Selepas Perang Padri dan adanya Sumpah Sati Bukik Marapalam di Puncak Pato lahirlah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Dan Surau sebagai wadah utama pendidikan formal di masa itu.</p>
<p>Orang tua, remaja, dewasa dan anak-anak laki-laki Minangkabau diterpa bersama secara gotong royong. Alim Ulama, Ninik Mamak, Cadiak Pandai, atau Angku Kadhi, Manti dan Dubalang berperan aktif. Bahkan satu persukuan memiliki satu surau tersendiri membina dan menerpa anak kemenakannya.</p>
<p>Wajar orang-orang terdahulu siap pakai, karena dari pendidikan agama Islam dan adat berupa tatanan nilai kehidupan didapakan secara lengkap.</p>
<p>Berkesenian, ilmu beladiri atau basilek, berpidato adat atau bapasambahan sebagai bentuk latihan berdiplomasi dan berdebat, bahkan permainan teka-teki menjadi ajang mengasah kecerdasan dan daya tangkap analisis sebuah pertanyaan.</p>
<p>Itulah perbedaan yang sangat jauh antara generasi terdahulu dengan generasi Z pada saat ini. Dan pola asuh dan pola pendidikan ini lah yang harus kita jemput kembali. Jelas harus kita sesuaikan dengan zaman dan kondisi saat ini.</p>
<p>&#8220;Surau, Rumah Gadang dan masjid adalah wadah atau sarana utama yang harus kembali dibangkitkan. Dan bangunan itu tidak sekedar bentuk fisik yang tampak dari kasat mata atau bunyi yang didengar semata. Melainkan makna tersembunyi yang jauh lebih bermakna sesuai nilai-nilai filosofi bangunan menjalin hubungan dan komunikasi kepada Allah SWT,&#8221; tutup diskusi. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/mencari-solusi-peningkatan-karakter-di-dunia-pendidikan/">Mencari Solusi Peningkatan Karakter di Dunia Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelajar SMAN 1 Tanjung Raya Lestarikan Budaya Minangkabau</title>
		<link>https://prokabar.com/pelajar-sman-1-tanjung-raya-lestarikan-budaya-minangkabau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2022 10:30:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Maninjau]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#sman1tanjungraya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=107144</guid>

					<description><![CDATA[<p>Maninjau, Prokabar &#8211; Sejak awal semester satu tahun 2022 ini, SMAN 1 Tanjung Raya melaksanakan Kurikulum Merdeka Kemendikbudristek sekaligus regulasi Perda Provinsi Sumatera Barat...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pelajar-sman-1-tanjung-raya-lestarikan-budaya-minangkabau/">Pelajar SMAN 1 Tanjung Raya Lestarikan Budaya Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Maninjau, Prokabar</strong> &#8211; Sejak awal semester satu tahun 2022 ini, SMAN 1 Tanjung Raya melaksanakan Kurikulum Merdeka Kemendikbudristek sekaligus regulasi Perda Provinsi Sumatera Barat Nomor 2 tahun 2019 dan Surat Keputusan Gubernur tentang Penetapan Kinerja Program Unggulan Provinsi Sumatera Barat tahun 2021 sampai 2016.</p>
<p>Setiap sekolah diwajibkan melaksanakan mata pelajaran muatan Lokal Keminangkabauan dan Mata Pelajaran Kearifan Lokal atau Pelestarian Budaya.</p>
<p>SMAN 1 Tanjung Raya memilih untuk tahap awal Projek Kearifan Lokal berupa Tradisi Pasambahan Manjapuik Marapulai dan Mambaok Jamba.</p>
<p>Pelaksanaan projek ini membentuk Tim Khusus agar proses ajar mengajar kearifan lokal ini dapat tercapai dengan baik.</p>
<p>Pembelajaran itu melatih pelajar agar siap menjadi ninik mamak dan bundo kanduang, terutama siap tampil di kampung halaman mereka masing-masing.</p>
<p>Yasril Efendi, Ketua Pelaksana mewakili tim Projek Kearifan Lokal SMAN 1 Tanjung Raya mengatakan, seluruh sekolah berkewajiban mengajarkan anak didik memperdalam dan memahami nilai-nilai dan sejarah kebudayaannya daerah masing-masing.</p>
<p>Sehingga anak didik memahami adab, etika dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Ketua MUI Tanjung Raya itu melanjutkan, setelah adanya regulasi itu, pihak sekolah dan masyarakat menyambut pembelajaran tersebut dengan senang hati.</p>
<p>Pelestarian Budaya Alam Minangkabau ini kembali hidup dan lentera kehidupan marwah Minangkabau nantinya.</p>
<p>&#8220;Mata pelajaran muatan lokal ini sudah lama diharapkan masyarakat Minangkabau. Berharap generasi penerus kembali dapat mengenal jati dirinya. Terkikisnya nilai-nilai tatanan sosial masyarakat minangkabau, disebabkan hancurnya Pendidikan Surau. Selain pergeseran peran Ninik Mamak yang sudah lemah, juga kuatnya pengaruh global melalui teknologi informasi dan komunikasi. Kondisi diperparah pendidikan formal yang sudah mengekang dan mengurung cara pandang yang sering menjauhkan nilai budaya lokal,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Dalam pembelajaran ini, anak didik diterpa dan diajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap tradisi yang ada.</p>
<p>Khusus kali ini, menggunakan Adat Salangka Nagari Bayur.</p>
<p>&#8220;Anak-anak perempuan diajarkan apa-apa saja pernak pernik pakaian Bundo Kandung dan yang terdapat di sebuah jamba dan carano. Termasuk makna yang terkandung. Sedangkan anak laki-laki, kita mengajarkan mereka sebagai calon pemimpin atau Ninik Mamak. Trampil dalam Bapasambahan Adat di kehidupan sehari-hari,&#8221; pungkasnya. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pelajar-sman-1-tanjung-raya-lestarikan-budaya-minangkabau/">Pelajar SMAN 1 Tanjung Raya Lestarikan Budaya Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merayakan Kebebasan Berpikir DI Akhir Tahun </title>
		<link>https://prokabar.com/merayakan-kebebasan-berpikir-di-akhir-tahun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2021 16:41:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#aanavis]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#gas]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#padang]]></category>
		<category><![CDATA[#Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#steva]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=99405</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padang, Prokabar &#8211; “Kami sudah merdeka sebelum Indonesia menjadi negara merdeka“, kata Dr. Ivan Adilla mengutip akan betapa pentingnya mengingat dan membaca kembali karya-karya...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/merayakan-kebebasan-berpikir-di-akhir-tahun/">Merayakan Kebebasan Berpikir DI Akhir Tahun </a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang, Prokabar</strong> &#8211; “Kami sudah merdeka sebelum Indonesia menjadi negara merdeka“, kata Dr. Ivan Adilla mengutip akan betapa pentingnya mengingat dan membaca kembali karya-karya A.A. Navis yang berjuang akan kebebasan dan pentingnya kemerdekaan dalam berpikir, termasuk mencemooh bentuk-bentuk otoriter dalam kehidupan.</p>
<p>Hal itu diungkapkan peneliti dan penulis Ivan Adilla dalam rangkaian penutupan Festival Kado Akhir Tahun untuk A.A. Navis pada Kamis, (30/12) malam di Pustaka Steva Nanggalo, Padang.</p>
<p>Sebelumnya, selama dua bulan secara berturut-turut, Pustaka Steva bersama Sumatra Institute telah menggelar berbagai diskusi dan kajian tentang karya-karya dan kehidupan A.A Navis, penulis dan budayawan Indonesia yang berasal dari Minangkabau.</p>
<p>“Hal yang paling saya ingat dari A.A. Navis adalah ia seorang wartawan, orang yang gelisah melihat sesuatu yang tidak benar, terutama menyangkut pemerintahan dan rakyat kecil. Hal ini yang belum ada tandingannya hingga hari ini,,” kenang wartawan senior dan penulis sejarah Khairul Jasmi mengingat sosok Navis.</p>
<p>Sebelum A. A. Navis tutup usia pada tahun 2003, tokoh literasi Indonesia Yusrizal KW mengatakan bahwa ia banyak berinteraksi dengan A. A. Navis. “Sumbangsih A. A. Navis terhadap intelektualitas di Indonesia banyak, terutama untuk menumbuhkan semangat orang-orang muda. Dia mencintai anak-anak muda, dan dia membantu apa saja.</p>
<p>“Festival ini kami adakan karena sudah tak banyak lagi yang mengenang karya A. A. Navis. Navis terlupakan justru di zaman dan kondisi yang ditentangnya. Ototriter dan kebodohan,” kata Uyung Hamdani, direktur Festival Kado Akhir Tahun untuk Navis. Menurut Uyung lagi, gagasan ini akan diadakan Pustaka Steva dan Sumatra Institute tiap tahun.</p>
<p>Pada malam puncak festival ini, Robby W. Riyodi Bersama bonekanya Ge menampilkan dongeng dengan tema Pak Mentri Mau Datang, adaptasi dari sebuah cerpen A.A. Navis tentang bagaimana sibuknya orang-orang di daerah menyambut mentri yang akan berkunjung ke daerah mereka hingga sekolah diliburkan dan anak-anak sekolah harus diikut sertakan dalam pawai menyambut Pak Mentri yang pada akhirnya memang tidak jadi datang. Pada penutupan festival ini juga diisi pembacaan puisi oleh Renjana Jiiwatrisna, M Andreanda Dwi Putra, akustik oleh grup UKS Unand,UKKES UNP dan Dangau Studio.</p>
<p>Penyair Irman Syah bersama musisi Fandi Pratama yang tergabung dalam grup musik Sarueh Buni Bumi memukau penonton dengan pembacaan puisi penutupan tahun 2021 sebagai ajang berbenah manusia. (<strong>rel</strong>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/merayakan-kebebasan-berpikir-di-akhir-tahun/">Merayakan Kebebasan Berpikir DI Akhir Tahun </a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelestarian Nilai Budaya Bergantung Penuh di Pemerintah Nagari</title>
		<link>https://prokabar.com/pelestarian-nilai-budaya-bergantung-penuh-di-pemerintah-nagari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2021 22:51:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#bpnb]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#pelestarian]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=94008</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Pemerintah Kenagarian merupakan ujung tombang pada pemajuan kebudayaan dan kelestarian nilai budayanya. Sehebat apapun aturan dan kebijakan pemerintah pusat hingga pemerintah...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pelestarian-nilai-budaya-bergantung-penuh-di-pemerintah-nagari/">Pelestarian Nilai Budaya Bergantung Penuh di Pemerintah Nagari</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Pemerintah Kenagarian merupakan ujung tombang pada pemajuan kebudayaan dan kelestarian nilai budayanya.</p>
<p>Sehebat apapun aturan dan kebijakan pemerintah pusat hingga pemerintah daerah, jika tidak dilanjutkan pemerintah tingkat bawah mustahil itu akan terwujud.</p>
<p>Hal itu disampaikan Kasubbag TU BPNB Provinsi Sumatera Barat, Titit Lestari saat menjadi narasumber pelaksanaan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Menyapa Nagari 2021 di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Kamis lalu (2/9). Pemerintah Nagari penentu maju atau mundurnya kebudayaan yang dimiliki.</p>
<p>Kondisi itu sesuai dengan &#8220;Adat Salingka Nagari&#8221; yang telah terikat kuat dimiliki setiap nagari yang ada di wilayah Minangkabau. Ketika Pemerintah Nagari lemah dan tidak fokus dalam penyelamatan kelestarian budayanya, maka tidak heran akan terjadi degradasi budaya. Terkikis bahkan hilang digerus budaya global.</p>
<p>Membuat generasi muda kehilangan arah tanpa tuntunan yang jelas. Hingga kehilangan jati dirinya sebagai generasi Minangkabau sejatinya.</p>
<p>&#8220;Kita sudah sangat merasakan betul akan kondisi teknologi android telah mencuci otak anak-anak kita yang hanya sibuk dengan game online. Tidak peduli lingkungan, etika moral, tidak peduli dengan kebudayaan dan tidak peduli dengan potensi diri dan potensi nagarinya,&#8221; ungkap Titit Lestari, Kasubbag TU BPNB Provinsi Sumatera Barat selaku narasumber, Kamis (2/9).</p>
<p>Pemaparannya tentang Pelestarian Nilai Budaya dan Desa Pemajuan Kebudayaan sangat beralasan.</p>
<p>Karena kegelisahan itu secara merata dirasakan di seluruh pelosok negeri, tidak hanya di Minangkabau juga seluruh suku bangsa Indonesia ini.</p>
<p>Sesuai Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, bertujuan melestarikan dan memajukan adat dan budaya masyarakat desa. Dasar Hukum itu diperkuat dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan, bertujuan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, memperkaya keberagaman budaya, memperteguh jati diri bangsa, memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa.</p>
<p>Meningkatkan citra bangsa, mewujudkan masyarakat madani, meningkatkan kesejahteraan rakyat, melestarikan warisan budaya dan mempengaruhi arah perkembangan peradapan dunia sehingga kebudayaan menjadi haluan pembangunan nasional.</p>
<p>&#8220;Saat ini Nagari Sungai Batang terpilih sebagai Desa Pemajuan Kebudayaan. Salah satu dari 13 nagari di Sumatera Barat, dan salah satu dari tiga nagari di Kabupaten Agam. Diharapkan menjadi percontohan nantinya. Kita berharap Pemerintah Nagari Sungai Batang mendukung penuh program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi ini,&#8221; ajaknya.</p>
<p>Dukungan penuh Pemerintah Nagari Sungai Batang terhadap Platform Program Pemajuan Kebudayaan ini, dengan cara memasukan hasil Temukenali, Pengembangan dan Pemanfaatan ke Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa atau Nagari serta Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa atau Nagari.</p>
<p>&#8220;Sangat kita sayangkan jika hal ini tidak dilakukan oleh Pemerintah Nagari. Apalagi Sungai Batang telah terpilih menjadi Platform Program Pemajuan Kebudayaan Desa dari Kemendikbudristek,&#8221; tutupnya. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pelestarian-nilai-budaya-bergantung-penuh-di-pemerintah-nagari/">Pelestarian Nilai Budaya Bergantung Penuh di Pemerintah Nagari</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sebelum Membenahi Wisata, Bedahi Dulu Budayanya!</title>
		<link>https://prokabar.com/sebelum-membenahi-wisata-bedahi-dulu-budayanya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2021 03:58:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#desawisata]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#sungaibatang]]></category>
		<category><![CDATA[#Wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=93757</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Nagari Sungai Batang kembali terpilih masuk nominasi Anugrah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Dari hasil seleksi 300 desa se Indonesia, mengerucut menjadi...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sebelum-membenahi-wisata-bedahi-dulu-budayanya/">Sebelum Membenahi Wisata, Bedahi Dulu Budayanya!</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Nagari Sungai Batang kembali terpilih masuk nominasi Anugrah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Dari hasil seleksi 300 desa se Indonesia, mengerucut menjadi 100 desa, Sungai Batang masih bertahan bersama Nagari Lawang.</p>
<p>Sebelumya, Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka yang terletak di Nagari Sungai Batang ini juga masuk 10 nominasi Anugrah Pesona Indonesia (API) 2021, dalam katagori Situs Sejarah terfavorit. Kini masih berjuang berkompetisi mencari terbaik hingga Oktober 2021 nanti.</p>
<p>Berdasarkan hasil Like Youtuber, Instagram dan SMS Keyword 12F terhitung 2 Agustus 2021, Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka berada peringkat pertama dengan angka persentase 37,84 %, menang tipis dari Situs Sejarah Megalitik Basemah, Kota Pagaralam.</p>
<p>Masuknya Sungai Batang dalam 100 desa terbaik, kembali dihadapi tantangan dan perjuangan hebat. Pertanyaannya, ada apa dengan Sungai Batang? Kenapa Sungai Batang? Apa benar hebatnya Sungai Batang ini?</p>
<p>Jawabannya, masih banyak tersimpan emas terpendam yang belum tergali. Apa sebab, minimnya penggalian potensi dan pendampingan secara maksimal. Kini, potensi itu mulai terapungkan. Entah siapa yang mengapungkan, itu tidak terlalu penting.</p>
<p>Yang paling utama, bagaimana semua masyarakat dan semua pihak memahami, menggali, memproteksi bahkan mengembangkan serta memanfaatkan potensi hebat itu, untuk meningkatkan sumber daya manusia dan kesejahteraannya.</p>
<p>Potensi sejarah, filsafat, dan budaya yang selama ini terpendam itu bisa dijadikan sumber referensi sejarah dan ilmu pengetahuan umat manusia. Khususnya perkembangan sejarah Islam di Minangkabau.</p>
<p>Apa benar yang menjadikan Sungai Batang sebagai referensi sejarah, filsafat dan budaya? Di sini lahir ulama hebat Buya Hamka yang hampir dikenal Asia Tenggara dan Negeri Timur Tengah.</p>
<p>Bahkan sampai ke Jepang dan Amerika Serikat berkat bukunya berjudul &#8220;4 Bulan Di Amerika&#8221;.</p>
<p>Ditikam jejak Buya Hamka, muncul pula sosok ayahnya, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah. Ulama pertama Indonesia bersama Abdullah Ahmad mendapat gelar doktor dari Universitas Al Azhar, Mesir.</p>
<p>Tokoh pembaharuan Islam di Minangkabau, pahlawan dari guru pendidik dan pencetus pergerakan pesantren modren di Sumatera.</p>
<p>Ia mencoba menandingi pendidikan barat yang didirikan Kolonial Belanda. Penjajah selalu mendiskriminasi Pendidikan Agama Islam dimasa itu.</p>
<p>Dari pergerakan beliau ini, banyak lahir guru-guru pendidik yang sempat berbagi ilmu ke negeri Jiran Malaysia.</p>
<p>Merunut pula lebih jauh, Nagari Sungai Batang pernah pula menjadi pusat pendidikan Agama Islam di Luhak Agam semasa Syekh Muhammad Amrullah (kakek Buya Hamka) menggantikan kakeknya Tuanku Nan Tuo atau Tuanku Pariaman.</p>
<p>Pusat Pemondokan dan Pendidikan Surau itu berada di Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang, Lareh Ampek Koto (Kini menjadi Kecamatan Tanjung Raya).</p>
<p>Dulunya, Surau itu bernama Masjid Jami&#8217; dan kini telah berganti Masjid Syekh Amrullah dengan bangunan baru pula.</p>
<p>Ada juga Rumah Gadang dan Rumah Baca Nur Sutan Iskandar. Sosok Sastrawan Angkatan Balai Pustaka.</p>
<p>Penggemar dan Peneliti sastra Indonesia, hampir tidak ada yang tidak mengenal Nur Sutan Iskandar. Sastrawan paling produktif dimasanya.</p>
<p>Jejak sejarah itu mulai memudar, seiring tidak ada yang melanjutkan perjuangan tokoh tua tersebut. Entah apa sebab, belum terjawab secara kongkrit. Butuh kajian lebih mendalam untuk bisa mengungkapnya.</p>
<p>Kini tersisa makam dan sejumlah cagar budaya berupa bangunan tua. Saksi bisu perjuangan ulama dan sastrawan terdahulu yang harus digali dan dikembangkan, agar bermanfaat untuk generasi penerus.</p>
<p>Penanaman Nilai Budaya Harus Diutamakan Sebelum Pengembangan Wisata.</p>
<p>Sebelum mengembangkan potensi wisata, sebaiknya nilai budaya dan sejarah dibangkitkan dulu agar akar rumput tatanan sosial masyarakat kembali berfungsi. Mengembalikannya secepat mungkin, agar tidak terlambat ditelan waktu.</p>
<p>Nilai tatanan tertinggi dalam pengembangan wisata itu sendiri adalah nilai budaya. Dapat kita mencontohkan berbagai belahan dunia, daya tariknya adalah budaya lokal nan bersahaja.</p>
<p>Jika nilai-nilai budaya asli belum hidup mengakar dalam kehidupan masyarakat, akan kurang dilirik karena kurang daya tarik wisatawan. Bali, Thailand, Cina, Hawai, Taiwan, Jepang, Yunani dan Mesir merupakan beberapa contoh negara wisata paling diminati para wisatawan. Ada juga Mentawai dan Papua Nugini sebagai daerah pedalaman. Diminati wisatawan mancanegara karena keunikan budayanya.</p>
<p>Meski berbeda corak nilai budaya, Sungai Batang tentu memiliki market share atau pangsa pasar tersendiri dalam nilai jual kepariwisataan.</p>
<p>Corak religius Islam lebih kental dan menjadi daya tarik bagi wisatawan beragama muslim. Ataupun wisatawan pecinta budaya dan sejarah Islam.</p>
<p>Timbul lagi pertanyaan, bagaimana kondisi Sungai Batang saat ini? Apakah budaya religius dan keislamannya sesuai harapan saat ini?</p>
<p>Sejak mangkatnya Syekh Muhammad Amrullah, Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Buya Hamka, ada pula tokoh lain seperti Yusuf Amrullah (adik kandung Dr. H. Abdul Karim Amrullah) A. R. Sutan Mansur dan Isa Ansyari, kondisi negeri ini jauh berbeda. Butuh pergerakan semangat juang generasi penerus untuk dapat membangkitkanya kembali.</p>
<p><strong>Pendidikan Surau menjadi Solusi.</strong></p>
<p>Tuanku Nan Tuo menyiarkan Islam berpusat di Koto Tuo, Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek. Meski demikian juga menyiarkan Islam di Lareh Ampek Koto (Kecamatan Tanjung Raya) yang berpusat di Jorong Nagari, Kenagaraian Sungai Batang, peradapan Islam lahir dengan dilanjutkan generasi penerusnya.</p>
<p>Saat tokoh Padri perintis Tarikat Cangkiang atau Tarikat Nahsabandiyah itu meninggal, langsung digantikan cucunya, Syekh Muhammad Amrullah hasil pernikahan anaknya Siti Saerah dengan minantunya Syekh Abdullah Saleh atau Syekh Guguk Katur.</p>
<p>Tuanku Nan Tuo Cangkiang sendiri mendapatkan pendirikan melalui Tuanku Mansiang Nan Tuo yang berguru kepada Syekh Burhanuddin di Ulakan. Pola pendidikan pemondokan yang memusatkan masjid atau surau sebagai pusat pendidikan Ilmu Pengetahuan.</p>
<p>Jadi, surau tidak hanya pusat pendidikan Agama Islam semata, jauh lebih lengkap segala ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu. Namun, semuanya tetap merujuk pada Al Quran dan Hadis. Semua ilmu harus tetap merujuk dan tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam.</p>
<p>Syekh Burhanuddin memberikan ruang dan waktu untuk belajar, kepada semua kelompok di berbagai wilayah Minangkabau maupun luar daerah. Belajar menuntut ilmu Agama Islam dan ilmu pengetahuan umum dengannya.</p>
<p>Para santri itu diberi kesempatan mendirikan surau kecil dan pemondokan sendiri mengelilingi Surau Gadang milik Syekh Burhanuddin.</p>
<p>Menurut Profesor Duski Samad dalam penelitiannya menyebutkan, Pemondokan Pola Surau ini tidak hanya pendidikan biasa, bahkan setara Universitas yang berkembang saat ini.</p>
<p>Semakin hebat dan luas ilmu pengetahuan seorang Guru setara ulama di Surau itu, maka akan semakin hebat pula kemajuan dan perkembangannya.</p>
<p>Pola Pendidikan Surau ini pula lah yang akhirnya melahirkan generasi emas Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia seperti Tuanku Imam Bonjol, Haji Agus Salim, M. Hatta, M. Natsir, Buya Hamka, Rasuna Said, Tan Malaka dan sebagainya.</p>
<p>Karena mereka terlahir dimasa kejayaan Surau, mencetak generasi siap pakai. Mencetak generasi berkarakter tegas, lugas, cerdas, cendikiawan, sederhana, mandiri, bermartabat, amanah, jujur, adil, kesatria, patriot dan hebat berdiplomat.</p>
<p>Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah menjadi pondasi dasar dengan filosifi &#8220;Alam Takambang Jadi Guru&#8221; dalam diri mereka. &#8220;Raso Pareso&#8221; adalah ketajaman jiwa dalam berinteraksi sosial, sehingga sikap kehati-hatian memperhalus budi, bertutur kata yang indah. Pituah itu seperti :</p>
<p><em>Nan Kuriak Kundi, </em><br />
<em>Nan Merah Sago. </em><br />
<em>Nan Baiak Budi, </em><br />
<em>Nan Indah Bahaso.</em></p>
<p>Budaya inilah sebagai rel kereta yang mendidik melalui Pendidikan Surau untuk berpijak di atas Bumi, berfikir dalam alam logika, merasa di hati sanu bari, bergerak melangkah dan bertindak dengan panca indra.</p>
<p>Surau tidak hanya mematangkan Ilmu Agama Islam yang menjadi hubungan dengan Sang Kaliq, juga melatih diri kepada sesama Makluk-NYA. Habluminannas wa Habluminallah.</p>
<p>Di surau lah orang tua, guru, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai mendidik mengasah ketajaman lahir dan bathin dengan Silat. Silat Lahiriah, Silat Bathiniah dan Silat Lidah. &#8220;Lahia mencari kawan, Bathin mencari Tuhan&#8221;.</p>
<p>Merujuk lagi kepada tatanan sosial matrilineal Minangkabau, terdapat tiga komponen penting, yang bahu membahu, saling melengkapi dan menjaga generasi menjadi lebih baik dimasa akan datang.</p>
<p>Istilah &#8220;Tigo Tali Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan&#8221; merupakan tiga tokoh wajib ada, berperan dan bertanggungjawab.</p>
<p>Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai terhimpun dalam wadah Kerapatan Adat Nagari. Memegang beban pengawasan, kontrol sosial bahkan memberi sanksi sesuai Adat Salingka Nagari yang tetap merujuk pada Al Quran dan Hadis.</p>
<p>Pertanyaannya, sudahkah ini berjalan sebagaimana mestinya? Hanya masyarakat itu sendiri yang bisa menjawab.</p>
<p>Pada dasarnya, tiga komponen ini hanya bisa dicetak dan dikader melalui pendidikan surau, sementara program tersebut tidak lagi berfungsi dan bahkan hampir punah. Alasan klasiknya, pendidikan formal telah menggantikan posisi Surau.</p>
<p>Apakah pemangku itu tidak bisa menggagas lagi aturannya sendiri agar Pendidikan Surau ini dapat tetap berjalan? Tidak ada yang tidak mungkin, jika azas musyawarah mufakat dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Surau yang menyesuaikan kondisi saat ini tentunya.</p>
<p>Intinya, budaya surau di Minangkabau, khususnya di Nagari Sungai Batang dengan sejarahnya, harus dimunculkan kembali. Jika tidak, akan tenggelam dan tergerus dalam persaingan budaya global.</p>
<p>Sementara, pariwisata membuka pintu masuk budaya luar, dengan mudahnya merongrong generasi pada dampak asimilasi ataupun akulturasi budaya.</p>
<p>Apakah kita siap untuk itu? Sementara kita belum kuat mempertahankan dan menjaga diri dari kehancuran budaya sendiri. (***)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sebelum-membenahi-wisata-bedahi-dulu-budayanya/">Sebelum Membenahi Wisata, Bedahi Dulu Budayanya!</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Festival Bahari Pessel Rabab Pasisia Resmi Ditutup</title>
		<link>https://prokabar.com/festival-bahari-pessel-rabab-pasisia-resmi-ditutup/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2021 23:22:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#Audy]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#PesisirSelatan]]></category>
		<category><![CDATA[#Pessel]]></category>
		<category><![CDATA[#rababpasisie]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=92380</guid>

					<description><![CDATA[<p>Painan, Prokabar — Wakil Gubernur Audy Joinaldy secara resmi menutup Festival Bahari Kabupaten Pesisir Selatan Rabab Pasisia, hari ini Minggu (8/8). Kegiatan yang terselenggara...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/festival-bahari-pessel-rabab-pasisia-resmi-ditutup/">Festival Bahari Pessel Rabab Pasisia Resmi Ditutup</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Painan, Prokabar — </strong>Wakil Gubernur Audy Joinaldy secara resmi menutup Festival Bahari Kabupaten Pesisir Selatan Rabab Pasisia, hari ini Minggu (8/8).</p>
<p data-reader-unique-id="3">Kegiatan yang terselenggara berkat dana pokok-pokok pikiran anggota DRPD Provinsi Sumatera Barat, Muhayatul, ini berlangsung selama dua hari. Diselenggarakan tanpa penonton dikarenakan pandemi Covid-19, kegiatan ini disiarkan secara online.</p>
<p data-reader-unique-id="4">Dalam kesempatan tersebut, Wagub mengapresiasi eksistensi rabab pasisia yang sudah ada sejak lama.</p>
<p data-reader-unique-id="4">Namun Audy meminta agar ke depannya rabab pasisia ini melibatkan generasi muda dalam pelestariannya.</p>
<p data-reader-unique-id="5">&#8220;Kegiatan ini luar biasa. Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak Muhayat yang telah menganggarkan kegiatan ini melalui dana pokirnya. Tetapi ke depan pelestarian seni tradisi rabab pasisia ini harus melibatkan generasi muda. Agar seni tradisi kita ini tidak hilang ditelan zaman,&#8221; ujar Audy.</p>
<p data-reader-unique-id="6">Sementara itu, Muhayatul mengajak seluruh pihak dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, untuk terus membangun seni tradisional rabab pasisie.</p>
<p data-reader-unique-id="7">&#8220;Seni tradisional rabab pasisia ini memiliki kekhasan, hanya ada di Pesisir Selatan. Selain sebagai kesenian, rabab pasisia kita ini juga berfungsi sebagai media penyampaian kabar dan pesan. Tidak ada daerah lain yang memiliki kesenian seperti ini. Oleh karena itu mari kita lestarikan sehingga rabab ini tetap singgah di hati masyarakat Minangkabau,&#8221; tuturnya. (*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/festival-bahari-pessel-rabab-pasisia-resmi-ditutup/">Festival Bahari Pessel Rabab Pasisia Resmi Ditutup</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lestarikan Budaya Asli Daerah, Festival Bahari Rabab Pasisia Resmi Dihelat</title>
		<link>https://prokabar.com/lestarikan-budaya-asli-daerah-festival-bahari-rabab-pasisia-resmi-dihelat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2021 02:12:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#musik80an]]></category>
		<category><![CDATA[#PesisirSelatan]]></category>
		<category><![CDATA[#Pessel]]></category>
		<category><![CDATA[#rabab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=92317</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pessel, Prokabar &#8211; Sukses dengan Festival Langkisau, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) terus gencar mengenalkan potensi budaya dan pariwisatanya. Kali ini, melalui Festival Bahari dengan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/lestarikan-budaya-asli-daerah-festival-bahari-rabab-pasisia-resmi-dihelat/">Lestarikan Budaya Asli Daerah, Festival Bahari Rabab Pasisia Resmi Dihelat</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pessel, Prokabar</strong> &#8211; Sukses dengan Festival Langkisau, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) terus gencar mengenalkan potensi budaya dan pariwisatanya.</p>
<p>Kali ini, melalui Festival Bahari dengan mengusung tema &#8216;Rabab Pasisia&#8217;. Event keren resmi dibuka Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi, di Amphitheatre Sungai Nyalo, Kawasan Wisata Mandeh, Sabtu (7/8).</p>
<p>Pembukaan Festival yang berlangsung selama 7-8 Agustus ini ditandai dengan membunyikan alat musik biola oleh Gubernur Sumbar, Buya Mahyeldi, Wakil Bupati Pessel, Rudi Hariansyah, dan Anggota DPRD Sumbar, Muhayatul.</p>
<p>Gubernur menyampaikan apresiasi atas terselenggara iven Festival Bahari Pesisir Selatan Rabab Pasisia ini.</p>
<p>&#8220;Kita patut bangga kerena kesenian rabab ini merupakan salah satu kesenian khas Kabupaten Pesisir Selatan, dan tidak ada di tempat lain,&#8221; kata Mahyeldi.</p>
<p>Gubernur bahkan menyampaikan agar di Kabupaten Pesisir Selatan banyak iven lain yang bisa digelar, terutama di Kawasan Wisata Terpadu Mandeh. Diantaranya seperti pacu sampan dan lomba jet ski.</p>
<p>Bahkan, Gubernur secara khusus akan mengundang pemenang Festival Bahari Rabab Pasisia ini ke Istana Gubernur untuk mengisi acara provinsi. &#8220;Nanti akan kita undang untuk langsung untuk mengisi acara di Gubernuran,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Muhayatul, menyebutkan tujuan digelar iven Festival Bahari Rabab Pasisia, untuk mengembalikan memori masyarakat akan kesenian rabab yang sudah mulai hilang.</p>
<p>Muhayatul mengusulkan kepada Gubernur agar kesenian rabab dimasukkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah mulai dari SD hingga SMA. &#8220;Tentu ini bagus dikenalkan kepada generasi muda agar kesenian ini tak punah, salah satunya dengan menjadikan ekstrakurikuler di sekolah,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Kegiatan ini diikuti 20 orang perabab yang merupakan anggota Himpunan Seniman Babiola. Kegiatan ini untuk mengingatkan masyarakat kembali dan lebih memasyarakatkan Rabab sebagi Kebudayaan Daerah</p>
<p>Sementara itu, Wakil Bupati, Rudi Hariansyah, menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi dan teristimewa kepada Anggota DPRD Provinsi Sumatera, Muhayatul yang telah mengalokasikan dana pokok pikiran (Pokir) untuk kegiatan Festival Bahari Rabab Pasisia di Pesisir Selatan.</p>
<p>&#8220;Saya harap kolaborasi program antara Pemerintah Sumatera Barat dan Kabupaten Pesisir Selatan terus terjalin guna mendorong upaya membangkitkan geliat kepariwisataan dan perekonomian masyarakat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;Mari kita viralkan kegiatan festival di media sosial sehingga dikenal oleh wisatawan dan investor,&#8221; ajaknya.</p>
<p style="text-align: left">kegiatan ini pun dapat diaksikan secara virtual melalui platform media sosial yaitu Instagram, Facebook, Zoom App dan YouTube. <strong>(rel)</strong></p>
<p><span id="more-92317"></span></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/lestarikan-budaya-asli-daerah-festival-bahari-rabab-pasisia-resmi-dihelat/">Lestarikan Budaya Asli Daerah, Festival Bahari Rabab Pasisia Resmi Dihelat</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Angku Yus Dt. Parpatiah: Nenek Moyang Minangkabau Latih Kecerdasan Anak Cucu dengan Bahasa Kias</title>
		<link>https://prokabar.com/angku-yus-dt-parpatiah-nenek-moyang-minangkabau-latih-kecerdasan-anak-cucu-dengan-bahasa-kias/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2021 00:37:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#Datuk]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=84405</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Angku Yus Datuak Parpatih Guguak (82) (kini bergelar Datuk Bandaro Bodi), seorang budayawan Minangkabau. Terkenal dengan karyanya cukup fenomenal &#8220;Pitaruah Ayah&#8221;...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/angku-yus-dt-parpatiah-nenek-moyang-minangkabau-latih-kecerdasan-anak-cucu-dengan-bahasa-kias/">Angku Yus Dt. Parpatiah: Nenek Moyang Minangkabau Latih Kecerdasan Anak Cucu dengan Bahasa Kias</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Angku Yus Datuak Parpatih Guguak (82) (kini bergelar Datuk Bandaro Bodi), seorang budayawan Minangkabau. Terkenal dengan karyanya cukup fenomenal &#8220;Pitaruah Ayah&#8221; untuk anak laki-laki dan perempuan serta sejenis Gurindam lainnya melalui rekaman kaset dan video. Memberikan referensi sekaligus diskusi bersama 30 orang tim penyusun silabus Pelajaran Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Tingkat SMP, di Aula Disdikbud Kabupaten Agam, beberapa waktu lalu.</p>
<p>Dalam pemaparannya, Angku Datuak Bandaro Bodi lebih banyak membahas pemaknaan kosa kata lama Bahasa Minangkabau yang sering diabaikan. Seringkali masyarakat dan tokoh adat menggunakan kata-kata kias, namun tidak memahami makna dari kata tersebut.</p>
<p>&#8220;Adapun yang memahami, namun tidak jarang mereka tidak memberikan edukasi kepada generasi penerusnya. Bahkan tidak terterapkan dalam diri dan kehidupannya sebagai pemimpin, contoh suri tauladan,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Tokoh adat sering menggunakan kosa kata itu dalam pidato adat berupa pasambahan atau di acara-acara resmi ataupun acara tidak resmi. Akan tetapi tidak banyak menyebarluaskan pemaknaan kata yang memiliki filosofi dan nilai budaya tata krama atau sopan santun.</p>
<p>&#8220;Tidak adab berarti tidak beradat. Sinonim dari orang berbudi, beretika, bermoral, bersopan santun dan bertata krama,&#8221; kata Angku Yus. Dt. Parpatiah Guguak.</p>
<p>Bahasa Minangkabau banyak menggunakan perumpamaan, ungkapan atau bahasa kias. Kalimat dengan memiliki makna ganda dan multitafsir. Bagi masyarakat adat yang taat dan patuh dalam nilai-nilai budayanya, akan memahami setiap kata perkata dalam setiap kosa kata bahasa adat atau bahasa kias.</p>
<p>&#8220;Apalagi mereka banyak bertanya dan berdiskusi dengan orang tua serta memiliki keingintahuan yang tinggi. Namun tidak banyak saat ini Ninik Mamak memiliki semangat belajar dan bertanya,&#8221; terangnya.</p>
<p>Menurutnya, telah terjadi kemunduran yang cukup signifikan pada tetua adat. Diakibatkan minimnya kaderisasi generasi adat sesuai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Untuk itu, memang harus dibutuhkan gebrakan dan strategi, sehingga generasi penerus penerus dapat kembali memahami dan membudayakan kelestarian bahasa kias melalui bahasa adat.</p>
<p>&#8220;Sudah semestinya dilakukan pembelajaran sekolah adat khusus kepada generasi kedepan. Dan gagasan yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Agam, memasukan pembelajaran adat ke kurikulum sekolah sangat tepat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Seringkali anak-anak muda atau pelajar tidak suka sekali belajar bahasa dan budaya adat, dikarenakan tingkat kebosanan cepat terjadi. Karena sering pemateri memberi pelajaran yang terlalu kaku dan kurang memiliki nilai seni. Padahal tradisi dan budaya adat Minangkabau itu memiliki nilai estetika dan seni yang sangat tinggi.</p>
<p>Butuh keterampilan serta gaya dan inovatif dalam memberikan materi kepada anak didik. Apalagi di era globalisasi dan teknologi, jauh mengubah pola hidup, pola pikir dan pola rasa millenial saat ini.</p>
<p>&#8220;Padahal nenek moyang Minangkabau telah melahirkan budaya dengan sedemikian cerdas dan menariknya, dikarenakan nilai seni atau estetika seimbang dengan nilai-nilai adab dan etika yang sangat tinggi. Keelokan sifat, jiwa dan pikiran diterapkan dengan aturan-aturan bernagari,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Dicontohkan pada pidato adat &#8220;Bapasambahan&#8221;. Seringkali terjadi pengulangan kalimat dalam debat diskusi. Kata antara pihak tuan rumah diulang kembali pihak tamu dan begitu sebaliknya. Hal itu sebagai bentuk penguatan kalimat atau diskusi, yang bicarakan sesuai dengan yang disampaikan kedua belah pihak.</p>
<p>&#8220;Pasambahan itu sesungguhnya memiliki makna tersendiri. Tabayum atau memperkuat kepastian makna kalimat atau kata dalam diskusi pasambahan pidato adat. Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dan kekeliruan dalam musyawarah mufakat. Dan semestinya, sifat dan tatanan nilai itu dipertajam. Bukan sebaliknya! Budaya Minabgkabau mempertajam keelokan budi. Mengasah raso jo pareso, etika dan sifat malu,&#8221; tutup Angku Yus Bandaro Bodi. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/angku-yus-dt-parpatiah-nenek-moyang-minangkabau-latih-kecerdasan-anak-cucu-dengan-bahasa-kias/">Angku Yus Dt. Parpatiah: Nenek Moyang Minangkabau Latih Kecerdasan Anak Cucu dengan Bahasa Kias</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pasambahan &#8220;Batagak Panghulu Suku Tanjung Nan Salapan Payuang di Sungai Batang</title>
		<link>https://prokabar.com/pasambahan-batagak-panghulu-suku-tanjung-nan-salapan-payuang-di-sungai-batang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2021 06:05:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#pasambahan]]></category>
		<category><![CDATA[#penghulu]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=83182</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Siti Awal Syaravina (Mahasiswa Sastra Indonesia) Agam, Prokabar —Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jo salam sambah dianjuang tinggi, kahadapan angku jo panghulu, imam dengan katib,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pasambahan-batagak-panghulu-suku-tanjung-nan-salapan-payuang-di-sungai-batang/">Pasambahan &#8220;Batagak Panghulu Suku Tanjung Nan Salapan Payuang di Sungai Batang</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><em><strong>Oleh: Siti Awal Syaravina (Mahasiswa Sastra Indonesia)</strong></em></p>
<p><strong>Agam, Prokabar</strong><em><strong> —</strong>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jo salam sambah dianjuang tinggi, kahadapan angku jo panghulu, imam dengan katib, bilal dengan maulana, bundo kanduang, mamak pusako dan datuak panungkek, di lingkung sambah kasadonyo. Indak bahinggo jo babateh, indak basibak jo basisiah.</em></p>
<p><em>Karik lawah di pulau rimbang,</em><br />
<em>Anak ruso mati tadabiah,</em><br />
<em>Jikok gawa mintak ditimbang,</em><br />
<em>Jikok badoso ampun nan labiah,</em><br />
<em>Bukan tambilang bagulangpai,</em><br />
<em>Tambilang panggali pakuburan,</em><br />
<em>Bukan mambilang tando pandai </em><br />
<em>Mambilang untuak dipasambahkan.</em></p>
<p><em>Anak ayam pandai baranang,</em><br />
<em>Putuih kakinyo dek buayo,</em><br />
<em>Duduaklah angku di nan sanang,</em><br />
<em>Ambo ka mulai dek bicaro,</em><br />
<em>Kato nan tumbuah caro nan bak iko.</em><br />
<em>Di ateh medan nan manjilih,</em><br />
<em>Dalam rapek nan basamo,</em><br />
<em>Tabaoan di ambo,</em><br />
<em>Sapanjang taratik jo manyilih </em><br />
<em>Ataupun lelo jo kurenah.</em></p>
<p style="text-align: left"><em>A nan dikatokan sapanjang taratik jo, manyilih ataupun lelo jo kurenah,</em><br />
<em>Diunjamkan lutuik nan duo,</em><br />
<em>Ditakuakan kapalo nan satu,</em><br />
<em>Disusun jari nan sapuluah,</em><br />
<em>Diangkek tangan taratik sambah dinamokan,</em><br />
<em>Dek rang gadang banyak nan sati,</em><br />
<em>Panghulu banyak nan batuah,</em><br />
<em>Rila jo maaf kabakeh nan basamo.</em></p>
<p><em>Nyampang mancabuik tantang di nan caba,</em><br />
<em>Mamintak tantang di nan kabuliah,</em><br />
<em>Kok dak tasusun nan bak siriah,</em><br />
<em>Dak ta atok nan bak pagaran,</em><br />
<em>Rila jo maaf manyudahinyo.</em></p>
<p><em>Nyampang tasuo luak jo lambang,</em><br />
<em>Ataupun cucua nan jo panjuik,</em><br />
<em>Tatukiak jalan manurun,</em><br />
<em>Tasilanca ambo di nan data,</em><br />
<em>Tolong dek angku managakkan,</em><br />
<em>Asaklah jalan ka nan luruih.</em></p>
<p><em>Manyo angku Datuak Bandaro Kayo&#8230;</em></p>
<p><em>Baasak ladang baaliah banyiah,</em><br />
<em>Baibaraik urang mangaji,</em><br />
<em>Kok mambilang dari aso,</em><br />
<em>Kok mangaji dari alih,</em><br />
<em>Kok kato iyo bamisa,</em><br />
<em>Tantu kaji iyo badalil.</em></p>
<p><em>Ko ma maningkek pulo ka janjang nan kaduo,</em><br />
<em>Tantang carano nan ka tangah,</em><br />
<em>Ramo-ramo tabang malayang,</em><br />
<em>Tabang malayok ka Koto Tangah,</em><br />
<em>Banyak nan ampek-ampek,</em><br />
<em>Indah carano bukan kapalang,</em><br />
<em>Talatak di tangah-tangah,</em><br />
<em>Di lingkuang kito nan rapek.</em></p>
<p><em>Lantiak nan bak alang babega,</em><br />
<em>Kukun nan bak bangau ka tabang,</em><br />
<em>Congak nan bak balam ka hinggok,</em><br />
<em>Batahun di puja-puji,</em><br />
<em>Samusim di lingka cino,</em><br />
<em>Jan kan ratak rangeh pun tido.</em></p>
<p><em>Di kaji tantang isinyo,</em><br />
<em>Siriah banamo siriah langko,</em><br />
<em>Dek kamanakan patuah ka mamak,</em><br />
<em>Anak buah patuah ka panghulu,</em><br />
<em>Sasuai dengan pituah rang tuo kito.</em></p>
<p><em>Dek alah bacapek kaki baringan tangan,</em><br />
<em>Anak buah pasukuan manggatia siriah ka ganggangnyo,</em><br />
<em>Mamupua pinang ka tampuaknyo,</em><br />
<em>Dicari alaik di tangah balai,</em><br />
<em>Dikumpuakan dalam carano,</em><br />
<em>Carano banamo carano basa,</em><br />
<em>Kehormatan panghulu dalam nagari,</em><br />
<em>Tantang siriah nan ka tangah.</em></p>
<p><em>Kok siriah kami iyo mintak dimasakkan samasaknyo,</em><br />
<em>Balatakkan angku di bukik nan barangin,</em><br />
<em>Di lurah nan babatu,</em><br />
<em>Barunyo sanang hati.</em><br />
<em>Pihak kami si pangkalan,</em><br />
<em>Nan bakarajo baiak nan bapokok,</em><br />
<em>Kacakok nan bajunjuang.</em></p>
<p><em>(Setelah siriah dimasakkan oleh penghulu yang hadir di dalam alek, barulah langsung penyerahan uang baramban yang terletak di dalam carano. Setelah itu langsung diiringi dengan acara penobatan dan basisik karih yang dilaksanakan oleh Mamak Pusako kepada penghulu yang baru, barulah penghulu yang baru tersebut di baok duduak samo randah, tagak samo tinggi di dalam Kerapatan Adat Nagari atau KAN).</em></p>
<p><em>Galang baganti galang,</em><br />
<em>Galang baganti jo suaso,</em><br />
<em>Kok gadang baganti gadang,</em><br />
<em>Gadang baganti jo nan mudo,</em><br />
<em>Manjadi seorang penghulu andiko. (***)</em></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pasambahan-batagak-panghulu-suku-tanjung-nan-salapan-payuang-di-sungai-batang/">Pasambahan &#8220;Batagak Panghulu Suku Tanjung Nan Salapan Payuang di Sungai Batang</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Potret Tradisi Batagak Pangulu Suku Tanjung Nan Salapan Payuang di Sungai Batang&#8221;</title>
		<link>https://prokabar.com/potret-tradisi-batagak-pangulu-suku-tanjung-nan-salapan-payuang-di-sungai-batang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2021 06:00:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#penghulu]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=83179</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Siti Awal Syaravina (Mahasiswa Sastra Indonesia) Agam, Prokabar — Bagi orang Minangkabau tentunya tidak asing lagi dengan istilah &#8220;Batagak Penghulu&#8221; yakni upacara untuk...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/potret-tradisi-batagak-pangulu-suku-tanjung-nan-salapan-payuang-di-sungai-batang/">&#8220;Potret Tradisi Batagak Pangulu Suku Tanjung Nan Salapan Payuang di Sungai Batang&#8221;</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Siti Awal Syaravina (Mahasiswa Sastra Indonesia)</strong></em></p>
<p><strong>Agam, Prokabar —</strong> Bagi orang Minangkabau tentunya tidak asing lagi dengan istilah &#8220;Batagak Penghulu&#8221; yakni upacara untuk mengangkat seorang penghulu (Kepala Adat atau Pimpinan suatu suku atau kaum) yang baru. Seorang Penghulu Suku mempunyai anggota kepengurusan yang akan dipimpinnya disetiap suku masing-masing.</p>
<p>Istilah itu disebut dengan &#8220;Urang nan limo jenih&#8221; atau Orang Nan Lima Jenis yaitu Panghulu Suku, Mamak Pusako Urang nan arih bijaksana (orang yang arif bijaksana), Imam, Katik dan Bundo Kanduang.</p>
<p>Penghulu suku ibarat:<br />
&#8220;Kayu Gadang di Tangah Koto,<br />
Urek nan cukam ka bumi,<br />
Pucuak nan cengwang ka langik,<br />
Batang tampek rang basanda,<br />
Urek tampek rang baselo,<br />
Dahan tampek rang bagantuang,<br />
Daun jo rantiang tampek balinduangan,<br />
Dari paneh jo kahujanan.&#8221;</p>
<p>Bahasa Indonesia:<br />
Kayu Besar di Tengah Desa,<br />
Urat yang cukam ke bumi,<br />
Pucuk yang menjulang ke atas,<br />
Batang tempat bersandar,<br />
Urat tempat duduk bersila,<br />
Dahan tempat bergantung,<br />
Daun dan ranting tempat berlindung,<br />
Dari panas dan kehujanan.</p>
<p>Untuk Mamak Pusako Memiliki kiasan :<br />
&#8220;Tau diombak nan kamaampeh,<br />
Tau diangin nan basiru,<br />
Pandai manimbang samo barek,<br />
Tau di bulang nan bakicuah,<br />
Alun bakilek lah bakalam,<br />
Takilek ikan di lauik,<br />
Jaleh jantan batinonyo,<br />
Maminteh sabalun anyuik,<br />
Mancari sabalun ilang.</p>
<p>Bahasa Indonesia:<br />
Tahu dengan ombak yang menghempas, Tahu dengan angin yang berseru,<br />
Pandai menimbang sama berat,<br />
Tahu dengan tingkah laku yang tidak baik,<br />
Belum terjadi sudah tampak,<br />
Terlihat ikan di laut,<br />
Jelas jantan dan betina,<br />
Memintas sebelum hanyut,<br />
Mencari sebelum hilang.</p>
<p>Lain pula dengan seorang Imam dalam kaumnya. Seperti diibaratkan :<br />
&#8220;Kok bakato-kato malereang,<br />
Sabarih bapantang lupo,<br />
Mamakaikan sifat Nan Ampek,<br />
Satiok garak manantukan,<br />
Kok lakuang nan ka Maninjau,<br />
Kalam nan ka manyigi.&#8221;</p>
<p>Bahasa Indonesia:<br />
Kalau berkata-kata melereng/ berbasa-basi,<br />
Sebaris berpantang lupa,<br />
Memakai sifat Nan Empat,<br />
Setiap gerak menentukan,<br />
Kalau hilang yang akan mencari,<br />
Kalau kurang mengerti diberi petunjuk).</p>
<p>Berbeda pula dengan seorang Katik dalam kaum persukuannya. Ia merupakan :</p>
<p>&#8220;Suluah bendang dalam nagari,<br />
Palito tarang dalam kampuang,<br />
Tagak nan rintang jo pituah,<br />
Duduaknyo bacamin kitab,<br />
Ka unduang-unduang ka Madinah,<br />
Ka payuang panji ka sarugo.&#8221;</p>
<p>Bahasa Indonesia:<br />
Penerang dalam nagari,<br />
Pelita terang dalam kampung,<br />
Berdiri dengan nasehat,<br />
Duduknya bercermin kitab,<br />
Untuk lindungan ke Madinah,<br />
Untuk payung panji ke surga.</p>
<p>Sementara itu, Bundo Kanduang merupakan :</p>
<p>&#8220;Limpapeh Rumah nan Gadang,<br />
Amban puruik pagangan kunci,<br />
Kok auih ka mintak aia,<br />
Kok litak ka mintak nasi,<br />
Ibaraik bungo di halaman,<br />
Sumarak anjuang Rumah nan Gadang.&#8221;</p>
<p>Bahasa Indonesia:<br />
Penghuni Rumah Gadang,<br />
Penyimpan harta pusaka,<br />
Kalau haus tempat minta air,<br />
Kalau lapar tempat minta nasi,<br />
Ibarat bunga di halaman,<br />
Kebanggaan rumah gadang.</p>
<p>Sesuai dengan sejarah adat Minangkabau, asal-usul Batagak Penghulu telah dimulai sejak zaman kerajaan Minangkabau. Sesuai dengan pepatah:</p>
<p>&#8220;Pulai nan bapangkek naiak,<br />
Maninggakan rueh dengan buku,<br />
Gajah mati maninggakan gadiang,<br />
Harimau mati maninggakan balang,<br />
Manusia mati maninggakan jaso.&#8221;</p>
<p>Bahasa Indonesia:<br />
Pulai berpangkat naik,<br />
Meninggalkan ruas dan buku,<br />
Gajah mati meninggalkan gading,<br />
Harimau mati meninggalkan belang,<br />
Manusia mati meninggalkan jasanya.</p>
<p>Dari pepatah tersebut dapat disimpulkan, sejarah Batagak Penghulu telah menjadi turun-temurun dan telah terbagi-bagi menurut atau sesuai Adat Salingka Nagari masing-masing. Sesuai dengan pepatah &#8220;Dimano titiak palito, dibaliak telong nan batali, darimano turunnyo niniak, dari lereang gunuang barapi.&#8221; Itulah yang disebut dengan &#8220;Samaso bumi basentak naiak, dan langik basentak turun.&#8221; Maka terbagilah daerah Tanah Pasumpahan Minangkabau ke dalam Tiga Luhak yaitu Luhak Agam, Luhak Tanah Datar dan Luhak Limapuluh Kota. Selanjutnya, Sistem Batagak Penghulu disesuaikan dengan adat dan ketentuan dari masing-masing Luhak.</p>
<p>Secara umum jenis-jenis Batagak Panghulu terbagi dua bagian. Pertains, &#8220;Hiduik Bakarilahan&#8221;. Terjadi ketika seorang pemangku adat telah berusia lanjut, maka ia wajib digantikan oleh generasi muda yang diambil dari keturunan suku tersebut dengan cara &#8220;Adaik diisi, limbago dituang.&#8221;</p>
<p>Kemudian &#8220;Mati Batungkek Budi&#8221;, yakni seorang Panghulu Andiko (penghulu yang sudah diresmikan) meninggal dunia secara mendadak, maka wajib digantikan oleh Datuak Panungkek yang telah melembaga. Pengangkatan langsung dilaksanakan di pemakaman menurut aturan Adat Salingka Nagari masing-masing suku di Minangkabau.</p>
<p>Tradisi Batagak Panghulu Suku Tanjuang Nan Salapan Payuang Nagari Sungai Batang.</p>
<p>Batagak Panghulu di Suku Tanjuang Nan Salapan Payuang di Kenagarian Sungai Batang terselenggara di Jorong Nagari, pada (8/11/2020) lalu. Batagak Panghulu termasuk ke dalam jenis &#8220;Hiduik Bakarilahan,&#8221; dimana seorang penghulu lanjut usia, tidak mungkin lagi mengayomi kaumnya, maka wajiblah &#8220;Mamak Pusako&#8221; mengadakan musyawarah yang melibatkan seluruh dunsanak dan kemenakan untuk mencari &#8220;Kato Saiyo&#8221; (Kata Seiya).</p>
<p>Kemudian hasil musyawarah akan dilaksanakan berdasarkan kesepakatan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dikarenakan penghulu &#8220;Saunjuik sabarian&#8221; di dalam kerapatan. Maksutnya, tegaknya seorang Penghulu, Imam, Katik dan Bundo Kandung setelah adanya kesepakatan</p>
<p>&#8220;Bulek lah sagolong,<br />
kok picak lah salayang,<br />
Indak ado lai murai nan kabakicau,<br />
Indak ado lai rantiang nan kabadatiak.&#8221;</p>
<p>Bahasa Indonesia:<br />
Bulat telah bisa digolongkan,<br />
Tipis sudah bisa dilayangkan,<br />
Tidak ada lagi murai yang berkicau,<br />
Tidak ada lagi ranting yang berdatik.</p>
<p>Barulah bisa dinobatkan seorang penghulu suku. Adapun Mamak Pusako beserta anak buah (atau kaum) harus mempersiapkan syarat-syarat Batagak Panghulu diantaranya, &#8220;Undangan Kaban&#8221; yaitu untuk mengundang penghulu dari suku-suku lain. Mempersiapkan &#8220;Baramban atau mengisi ke nagari. Penghulu wajib mengeluarkan biaya satu emas dan Imam dan Katik masing-masing setengah emas.</p>
<p>&#8220;Carano Basa&#8221; merupakan sejenis benda peletak sejumlah persyaratan Batagak Panghulu. Seperti daun Siriah (Sirih), buah Pinang, Sadah, Gambia atau gambir, rokok dan emas untuk Baramban.</p>
<p>&#8220;Carano Baso-basi&#8221;, disediakan untuk menyambut tamu. Mempersiapkan segala macam keperluan seperti risi, pua, galah, padang (keris), gong, dan tabuah larangan yang dilengkapi dengan badia atau meriam balansa.</p>
<p>Setelah syarat-syarat terpenuhi, barulah bisa diadakan Batagak Panghulu, tepat di hari pelaksanaanya. Panghulu datang berpakaian lengkap diiringi Bundo Kanduang, Mamak Pusako, Datuak Panungkek, Imam dan Katik, termasuk anak buah (atau kaumnya).</p>
<p>Ketika penghulu telah sampai di lokasi alek, Panghulu disambut dengan suara bunyi-bunyian seperti beduk, alat musik tradisional seperti Gandang Tasa atau Tambua, Talempong, dan berbagai alat musik tiup lainnya. Badia atau sejenis Senapan Balansa diletuskan ke arah langit beberapa kali, kemudian diiringi dengan suara Gong pertanda Panghulu dan rombongan akan naik ke atas Rumah Gadang.</p>
<p>Inilah ciri khasnya Batagak Panghulu di Minangkabau, khususnya di Nagari Sungai Batang. Merupakan budaya turun temurun yang hendaknya dapat kita lestarikan. Karena inilah kekayaan bangsa kita sesunggunya. Kaya akan adat-istiadat, kebudayaan, bahasa dan juga suku bangsa di Indonesia.</p>
<p>Pada zaman sekarang ini, khususnya generasi muda, banyak yang tidak tahu lagi bahkan enggan untuk mengenal tradisi Batagak Panghulu yang di dalamnya sarat akan nilai nilai kehidupan. Kenapa? Karena generasi milenial memiliki minat yang kurang terhadap budaya-budaya seperti ini.</p>
<p>Di era globalisasi ini hendaknya menjadi wadah untuk menyalurkan atau memperkenalkan budaya-budaya kita kepada generasi penerus, namun pada kenyataannya tradisi yang kental dengan dialek Minang ini kurang diminati remaja, mereka lebih menyukai budaya-budaya modren yang dianggap lebih keren dan tidak ketinggalan jaman.</p>
<p>Walaupun begitu, melestarikan tradisi ini merupakan tanggung jawab kita bersama agar tidak hilang dan terlupakan di masa mendatang. (***)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/potret-tradisi-batagak-pangulu-suku-tanjung-nan-salapan-payuang-di-sungai-batang/">&#8220;Potret Tradisi Batagak Pangulu Suku Tanjung Nan Salapan Payuang di Sungai Batang&#8221;</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Para Pakiah Manfaatkan Naskah Kuno Kembangkan Wisata Religi Ziarah di Surau Simaung Kabupaten Sijunjung</title>
		<link>https://prokabar.com/para-pakiah-manfaatkan-masks-kuno-kembangkan-wisata-religi-ziarah-di-surau-simaung-kabupaten-sijunjung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2020 11:47:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#naskahkuno]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=79313</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pariaman, Prokabar —  Satu tradisi yang dilakukan secara massal yang masih berlangsung di tengah masyarakat di Sumatera Barat adalah tradisi ziarah. Selain makam Syekh...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/para-pakiah-manfaatkan-masks-kuno-kembangkan-wisata-religi-ziarah-di-surau-simaung-kabupaten-sijunjung/">Para Pakiah Manfaatkan Naskah Kuno Kembangkan Wisata Religi Ziarah di Surau Simaung Kabupaten Sijunjung</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pariaman, Prokabar —</strong>  Satu tradisi yang dilakukan secara massal yang masih berlangsung di tengah masyarakat di Sumatera Barat adalah tradisi ziarah. Selain makam Syekh Burhanuddin di Ulakan Padang Pariaman, dikunjungi ribuan penziarah setiap 10 Safar, masih banyak tempat menjadi tujuan wisata religu ziarah di Sumatera Barat.</p>
<p>Salah satu tempat ziarah yang penting adalah Surau Simaung atau Surau Syekh Malin Bayang di Jorong Tapian Diaro Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. Dua ribuan penziarah dari berbagai provinsi (Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Jambi, dan Lampung) sering datang ke Surau Simaung. Nama Surau diambil dari pohon Simaung atau Pangium Edule).</p>
<p>Surau yang dulunya pernah hidup tradisi intelektual Islam yang cukup maju pada masa lampau. Satu bukti tentang ini adalah dengan ditemukannya 88 naskah tersebut. Khazanah naskah yang berumur ratusan tahun itu telah dideskripsikan dan didigitalkan oleh Pramono, seorang filolog Universitas Andalas. Bersama timnya pada 2019 yang lalu.</p>
<p>&#8220;Selama sebulan kami berhasil mendigitalkan 20.914 halaman naskah dengan lebih dari 200 teks kandungan isi naskah koleksi Surau Simaung,&#8221; kata Pramono.</p>
<p>Tambahnya, kegiatan itu atas dukungan program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA). Naskah-naskah dengan kekayaan kandungan sastra, sejarah, hagiografi, agama, pengobatan tradisional dan lain-lain. Serta keragaman iluminasi atau ragam hias di dalam naskah yang tersimpan di Surau Simaung. Dan objek itu merupakan potensi besar untuk dikembangkan.</p>
<p>Dalam rangka pemanfaatan khazanah naskah tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas mengadakan pelatihan bagi para Pakiah di Surau Simaung, Sabtu (20/12). Pelatihan ini dimaksudkan agar para Pakiah dapat mengembangkan khazanah naskah untuk industri kreatif sebagai pendukung wisata religi ziarah.</p>
<p>Menurut Pramono selaku ketua tim pelaksana pengabdian, melalui penerbitan edisi teks dan rekayasa iluminasi menjadi motif kain akan memberi peluang untuk pengembangan ekonomi kreatif. &#8220;Hasil terbitan edisi teks naskah dan rekayasa iluminasi menjadi desain motif kain dapat menjadi buah tangan bagi penziarah yang datang ke Surau Simaung,&#8221; Terangnya.</p>
<p>Di lain tempat, ketua LPPM Unand, Dr. Uyung Gatot S. Dinata mengharapkan kegiatan menjadi pendampingan jangka panjang. &#8220;Naskah-naskah koleksi Surau Simaung harus dikelola secara baik, sehingga penziarah dapat melihat khazanah naskah tersebut sebagai warisan intelektual ulama pada masa lampau,&#8221; ungkapnya. &#8220;Dengan demikian, tentu ini akan menjadi nilai lebih Surau Simaung sebagai tujuan wisata religi ziarah,&#8221; tutupnya. (<strong>rud/Pramono</strong>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/para-pakiah-manfaatkan-masks-kuno-kembangkan-wisata-religi-ziarah-di-surau-simaung-kabupaten-sijunjung/">Para Pakiah Manfaatkan Naskah Kuno Kembangkan Wisata Religi Ziarah di Surau Simaung Kabupaten Sijunjung</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Warga Pariaman Gelar Ritual Ratik Tolak-bala</title>
		<link>https://prokabar.com/warga-pariaman-gelar-ritual-ratik-tolak-bala/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2020 03:25:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Pariaman]]></category>
		<category><![CDATA[#ritual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=75711</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pariaman, Prokabar — Warga Desa Taluk, Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman, Sumatra Barat menggelar ritual ratik tolak-bala untuk meminta keselamatan saat melaut dan kelancaran rezeki...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/warga-pariaman-gelar-ritual-ratik-tolak-bala/">Warga Pariaman Gelar Ritual Ratik Tolak-bala</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pariaman, Prokabar — </strong>Warga Desa Taluk, Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman, Sumatra Barat menggelar ritual ratik tolak-bala untuk meminta keselamatan saat melaut dan kelancaran rezeki kepada Allah SWT.<br data-reader-unique-id="2" /><br data-reader-unique-id="3" />&#8220;Kegiatan ini sesuai dengan kondisi saat ini, tentu hikmahnya ada. Dan Desa Taluk merupakan satu-satunya desa yang melaksanakan ratik tolak-bala di Kota Pariaman,&#8221; kata Plt. Wali Kota Pariaman, Mardison Mahyuddin dilansir Prokabar dari MC Pariaman, Selasa (13/10).<br data-reader-unique-id="4" /><br data-reader-unique-id="5" />Ia mengatakan ritual tersebut dilakukan karena saat ini ekonomi nelayan di daerah itu merosot serta ada seorang nelayan di Pariaman tenggelam saat menangkap ikan di laut yang jasadnya hingga sekarang tidak ditemukan.<br data-reader-unique-id="6" /><br data-reader-unique-id="7" />Ia berharap tujuan dari kegiatan yang dilaksanakan tersebut dapat tercapai, sehingga dapat kembali mengangkat ekonomi nelayan dan selamat saat menangkap ikan.<br data-reader-unique-id="8" /><br data-reader-unique-id="9" />Ia juga berharap kegiatan tersebut ditingkatkan yang tidak saja dilaksanakan tingkat desa namun hingga tingkat kota serta menjadi destinasi wisata budaya sehingga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah itu.<br data-reader-unique-id="10" /><br data-reader-unique-id="11" />&#8220;Kegiatan ini akan kami bahas di pemerintahan karena ini sesuai dengan visi dan misi kami untuk mengangkat budaya yang ada di Pariaman,&#8221; katanya.<br data-reader-unique-id="12" /><br data-reader-unique-id="13" />Ia mengapresiasi warga Desa Taluk yang tetap mempertahankan budaya lokal setempat dengan menggelar ratik tolak-bala.<br data-reader-unique-id="14" /><br data-reader-unique-id="15" />Sementara itu, Kepala Desa Taluk Ismet Zuhri mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan setiap tahun dan dilaksanakan selama tiga hari.<br data-reader-unique-id="16" /><br data-reader-unique-id="17" />&#8220;Untuk siang ini berdoa makan bersama dan nanti malam usai Salat Isya kegiatan dilaksanakan,&#8221; kata dia.<br data-reader-unique-id="18" /><br data-reader-unique-id="19" />Malam nanti, lanjutnya warga di daerah itu mengelilingi desa dengan melafalkan zikir dengan harapan permintaannya dikabulkan oleh Allah SWT.<br data-reader-unique-id="20" /><br data-reader-unique-id="21" />Ia menyampaikan setiap tiga bulan dalam setahun banyak nelayan di daerah itu yang tidak bisa melaut akibat cuaca buruk dan dengan ratik tolak bala maka diharapkan hal tersebut cepat berlalu. (*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/warga-pariaman-gelar-ritual-ratik-tolak-bala/">Warga Pariaman Gelar Ritual Ratik Tolak-bala</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 39/268 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/15 queries in 0.054 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 15:38:24 by W3 Total Cache
-->