<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#AndrinofChaniago Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/andrinofchaniago/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/andrinofchaniago/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 30 Apr 2023 08:25:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#AndrinofChaniago Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/andrinofchaniago/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Fenomena Ranah Berlumur Rumor</title>
		<link>https://prokabar.com/fenomena-ranah-berlumur-rumor/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi6]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Apr 2023 08:25:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#AndrinofChaniago]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=112813</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bayangkan jika setiap pulang ke kampung atau nagari asal anda menemukan rumah-rumah yang masih dihuni segelintir anggota keluarga halamannya digenangi lumpur sedikit bercampur limbah....</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/fenomena-ranah-berlumur-rumor/">Fenomena Ranah Berlumur Rumor</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bayangkan</strong> jika setiap pulang ke kampung atau nagari asal anda menemukan rumah-rumah yang masih dihuni segelintir anggota keluarga halamannya digenangi lumpur sedikit bercampur limbah.</p>
<p>Pastilah dengan susah payah kita menyembunyikan rasa tidak nyaman melihatnya, apalagi ketika harus keluar masuk beberapa rumah di kampung kita tersebut.</p>
<p>Bersamaan dengan itu, pasti terbersit harapan jika pulang kampung lagi, halaman rumah-rumah berlumur lumpur dan sedikit bercampur limbah ini tidak ada lagi.</p>
<p>Alhamdulillah, lingkungan fisik permukaan tanah di halaman rumah seperti yang saya gambarkan di atas tidak pernah saya temukan di Ranah Minang.</p>
<p>Ranah Minang dianugerahi Tuhan dengan kontur tanah seperti surga dunia.</p>
<p>Tanahnya padat, sebagian bercampur pasir, kemiringan rata-rata permukakaan tanahnya bagus untuk mengalirkan air yang turun dari langit maupun yang mengalir dari bukit-bukit.</p>
<p>Disamping itu, kepedulian tiap rumah tangga untuk menjaga standar minimal kebersihan lingkungan di dalam pekarangan rumah cukup baik, kecuali kepedulian akan pembuangan sampah ke sungai dan ke pinggir jalan.</p>
<p>Untuk yang terakhir ini, Ranah Minang masih butuh munculnya kesadaran kolektif sebagian besar warganya.</p>
<p>Namun, saya ingin menggunakan ilustrasi kampung dengan pekarangan sebagian rumah-rumah berlumur lumpur tadi untuk Ranah Minang saat ini sebagai sebuah lingkungan sosial.</p>
<p>Lingkungan sosial artinya sebuah wilayah interaksi dimana konten percakapan dan tingkah laku masyarakatnya menunjukkan pola konstruksi tertentu.</p>
<p>Untuk beberapa hal, Ranah Minang tentu masih bisa kita banggakan sebagai lingkungan sosial yang kaya dengan warisan budaya dan tradisi yang menjaga perilaku-perilaku baik warga.</p>
<p>Namun, untuk hal-hal lain, degradasi budaya leluhur dalam menjaga kenyamanan hidup bersama dan hubungan dengan kelompok lain juga tengah terasa.</p>
<p>Begitu juga dalam hal pendidikan, lingkungan sosial Ranah Minang mulai tidak masuk hitungan dalam prestasi minat baca warga dan anak-anak.</p>
<p>Jika dua dekade lalu tingkat minat baca warga Ranah Minang (baca: Sumbar) bersaing di tingkat atas dengan DIY Yojakarta, kini posisi Sumbar masuk 10 besar pun tidak.</p>
<p>Dalam hal penyakit sosial, media-media lokal sendiri sering menginfokan perilaku pelanggaran norma kesusilaan maupun tindakan kekerasan sewenang-wenang yang terjadi di masyarakat.</p>
<p>Lebaran ini, seminggu sesudah Lebaran, aparat penertiban menemukan lima pasangan tidak sah “ngamar” di sebuah homestay di Kota Padang.</p>
<p>Pemandangan yang mengejutkan, usai dipergok, kelima perempuan yang “ngamar” dengan pasangannya itu berkerudung.</p>
<p>Dua minggu sebelumnya, muncul berita yang viral di medsos, dua perempuan pekerja tempat hiburan di Pesisir Selatan digiring ramai-ramai, dilucuti pakaiannya dan dilempar ke laut.</p>
<p>Penyakit sosial jelas bukan hanya perbuatan asusila, LGBT, narkoba dan judi, tetapi juga premanisme, pemalakan, tindakan penghakiman massa, perbuatan aji mumpung terhadap orang yang sedang terdesak membutuhkan sesuatu, budaya meneriaki orang dengan cemoohan, dan sebagainya.</p>
<p>Intinya, semua ucapan dan tindakan yang membuat kenyamanan orang lain terganggu adalah bagian dari penyakit sosial.</p>
<p>Satu lagi penyakit sosial yang relatif ringan tetapi sumber dari penyakit sosial yang lebih buruk adalah budaya rumor atau mengumbar cerita hal-hal yang tidak jelas kebenarannya.</p>
<p>Ketika perbuatan rumor digerakkan secara seirama oleh pembuat rumor, penyampai rumor dan pendengar rumor yang kemudian juga bertindak sebagai penerus rumor, maka perilaku ini telah menjadi penyakit sosial.</p>
<p>Tinggal kualitas penyakit sosial ini tergantung pada konten yang dirumorkan. Dan ketika rumor itu menyudutkan atau menista seseorang, maka rumor tadi otomatis naik kelas menjadi konten fitnah.</p>
<p>Misalnya, jika awalnya rumor hanya berisi soal gaya hidup seseorang lalu bertambah isinya dengan pernyataan bahwa seseorang yang dirumorkan itu melakukan korupsi, main perempuan, dan sebagainya, jadilah ia fitnah yang bergulir dalam budaya rumor.</p>
<p>Dalam tulisan ini saya tidak mau menyimpulkan bahwa rumor benar-benar telah membudaya di Ranah Minang.</p>
<p>Tetapi, saya berharap ada peneliti atau akademisi yang mau mengambil inisiatif melakukan penelitian mengenai budaya rumor di Ranah Minang.</p>
<p>Beberapa fakta yang akan saya kemukakan mungkin bisa dijadikan fenomena sebagai tahap awal untuk titik total penelitian.</p>
<p>Mengkaji dengan serius fenomena budaya rumor ini menjadi lebih penting dari potensi penyakit sosial lainnya, karena fenomena ini sepertinya sudah melekat pada diri para elite dan kaum terdidik di Ranah Minang.</p>
<p>Fenomena budaya rumor bukan hanya suasana yang sesekali terdengar di kedai kopi di sudut nagari dan di kalangan masyarakat bawah, tetapi sering terdengar dari mulut mereka yang berstatus tokoh, orang terdidik bahkan oknum tokoh agama.</p>
<p>Saya ingin menunjukkan dua saja dari sejumlah pengalaman yang saya punya. Pertama, soal rumor bahwa saya membangun Kawasan Wisata Mandeh karena saya membangun kampung asal saya, Pesisir Selatan.</p>
<p>Kedua, ini bukan sekedar rumor, tetapi fitnah ketika saya di-reshuffle dari posisi Menteri PPN/Kepada Bappenas RI tahun 2015.</p>
<p>Kasus pertama penting saya angkat karena hingga saat ini, persisnya di Hari Raya Idul Fitri kemarin, saya masih mendengar langsung dari seorang tokoh pengusaha sekaligus seorang munfiqin yang telah membangun sebuah masjid indah di Sumbar, yang bersilaturrahmi ke rumah saya di Padang.</p>
<p>Ketika sampai pada perbincangan tentang kampung asal, beliau langsung mengungkapkan, “Oh, saya kira Pak Andrinof orang Pesisir Selatan”.</p>
<p>Inilah pernyataan yang kesekian kalinya saya dengar. Sebelumnya, saya pernah mendengar dari beberapa pejabat eselon 2 di provinsi dan beberapa kabupaten, walaupun saya sudah beberapa kali dalam lima tahun terakhir di beberapa kesempatan pertemuan saya menjelaskan kampung asal ibu saya dan ayah saya.</p>
<p>Saya katakan, “Kampung asal (ibu) saya, Sumpu, Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar. Ayah saya dari Nagari Kasiak-Koto Sani, Sumani, Solok”.</p>
<p>Jelas, saya menggerakkan pembangunan Kawasan Wisata Mandeh bukan karena sedang membangun kampung asal saya.</p>
<p>Sayangnya, anggapan bahwa saya menggerakkan pembangunan Kawasan Wisata Mandeh dan mendatangkan Presiden Jokowi ke Kawasan Mandeh pada 10 Oktober tahun 2015 sehingga dapat proyek pembangunan jalan sepanjang 43 kilometer, telah dirumorkan dengan kencang bahwa saya melakukan itu karena saya membangun kampung asal saya.</p>
<p>Saya yakin, hingga saat ini masih ada sejumlah orang yang pernah mendengar rumor ini tetapi belum pernah mendengar klarifikasi dari saya.</p>
<p>Dari pengalaman terakhir bertemu pengusaha dan munfiqin di hari Hara Raya Idul Fitri kemarin itu, tentu masih banyak orang penting yang menelan konten rumor tersebut.</p>
<p>Tidak bisa saya ingkari bahwa saya amat jengkel dengan pengerdilan misi saya membangun Kawasan Mandeh seperti yang dirumorkan itu.</p>
<p>Dengan sikap perilaku seperti itu, jelas sekaligus mereka tidak peduli dengan dasar gagasan saya menggerakkan Kawasan Mandeh sebagai tindakan strategis untuk menggerakkan pariwisata Sumbar.</p>
<p>Mereka tidak peduli akan hasilnya yang sedikit banyak telah meningkat PAD di Kota Padang dari kenaikan tingkat hunian hotel dan kunjungan ke restoran-restoran karena wisatawan dari Riau, Jambi dan Jakarta yang ingin melihat Mandeh.</p>
<p>Mereka tidak berusaha menangkap pembelajaran yang ingin saya sampaikan bahwa untuk mengubah sebuah potensi bagus menjadi hasil kongkrit perlu istiqomah dan gigih memperjuangkannya.</p>
<p>Kasus kedua lebih hebat lagi. Kelas rumornya sudah berisi fitnah keji. Ketika saya di-reshuffle dari Kabinet Bersama 4 menteri lain pada bulan Agustus 2015, tentu beragam komentar yang muncul.</p>
<p>Dari yang sedih, menyayangkan dan kecewa dengan keputusan Presiden Jokowi hingga yang bersorak gembira di medsos. Di sebuah milis komunitas rantau, ketika itu, saya menyimak juga beragam pandangan dan spekulasi.</p>
<p>Tetapi, tiba-tiba seorang anggota milis yang juga seorang ASN di sebuah kapubaten dengan enteng memposting bahwa dia membaca di grup milis pegawai sebuah Pemda bahwa saya dipecat karena saya korupsi proyek.</p>
<p>Saya yang tidak dia sangka ada di milis tersebut tentu saja meminta pertanggungjawaban yang bersangkutan memposting sesuatu yang seolah dia percaya kebenarannya.</p>
<p>Hebatnya, hingga saat ini yang bersangkutan tidak menjawab, pernah merasa bersalah dan tidak pernah minta maaf hingga saat ini. Dia lupa, jika perbuatan jahat sulit dilupakan orang.</p>
<p>Tetapi, saya harus sedikit berterima kasih juga secara tidak langsung kepada yang bersangkutan karena saya jadi tahu bahwa rumor-rumor negatif mudah sekali direkayasa dan disebarluaskan oleh kalangan terdidik di Ranah yang membanggakan ABS-SBK.</p>
<p>Meskipun Ranah Minang saat ini masih kaya dengan tokoh intelektual dan pendakwah, saya amat jarang mendengar mereka menghimbau masyarakat mencegah penyakit sosial yang satu ini.</p>
<p>Walaupun di dalam Al-Qur’an (QS 2: 217) dikatakan bahwa berbuat fitnah lebih besar dosanya dari membunuh, dakwah mencegah fitnah tidaklah sekencang beredarnya berbagai rumor yang menjadi bibit dari fitnah.</p>
<p>Bahkan, yang menyedihkan, saya pernah mendengar langsung khotib sholat Jum’at menyampaikan beberapa fitnah dan prasangka tentang pihak lain.</p>
<p>Sekali lagi, saya hanya ingin mengatakan bahwa perilaku membuat dan menyebar rumor merupakan fenomena yang perlu dikaji serius.</p>
<p>Sebab, ketika ia benar-benar menjadi budaya, maka ia akan membawa kerusahakan pada diri manusia di dunia dan akhirat.</p>
<p>Di dunia ruang gerak untuk berbuat kebaikan menjadi terbatas karena ia seperti genangan lumpur bercampur limbah yang membuat kitqa tidak nyaman melangkah.</p>
<p>Sedangkan di akhirat sudah dijanjikan pembuat rumor dan fitnah akan dimintakan pertanggungjawabannya. <strong>***</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/fenomena-ranah-berlumur-rumor/">Fenomena Ranah Berlumur Rumor</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tak Kenal Maka Tak Suka Pada Borneo</title>
		<link>https://prokabar.com/tak-kenal-maka-tak-suka-pada-borneo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi6]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2022 04:14:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#AndrinofChaniago]]></category>
		<category><![CDATA[#mbb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=100091</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Andrinof A Chaniago Pendiri Tim Visi Indonesia 2033 Sejarah keakraban saya dengan Kalimantan mirip dengan Kawasan Wisata Mandeh, yang sejak tahun 2015 muncul...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/tak-kenal-maka-tak-suka-pada-borneo/">Tak Kenal Maka Tak Suka Pada Borneo</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Oleh Andrinof A Chaniago</strong><br />
<strong>Pendiri Tim Visi Indonesia 2033</strong></h4>
<p><strong>Sejarah</strong> keakraban saya dengan Kalimantan mirip dengan Kawasan Wisata Mandeh, yang sejak tahun 2015 muncul sebagai kawasan wisata baru yang melesat namanya. Perkenalan dan keakraban saya dengan Kalimantan tidak terlepas dari profesi saya sebagai peneliti sekaligus aktivis sebuah forum intelektual muda di tahun 1990-an. Jika saya &#8220;menemukan&#8221; Kawasan Mandeh pertama kali tahun 1999, kedatangan pertama saya ke Kalimantan lebih awal dari itu. Meski saya tidak ingat lagi tahun persisnya, saya pastikan waktunya di awal 1990-an ketika saya menjadi Ketua Majelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI. Kota tempat pertama kali saya menginjakkan kaki di Kalimantan adalah Kota Seribu Sungai, Banjarmasin. Di luar pertemuan serius, saya diajak oleh teman-teman tuan rumah &#8220;cruising&#8221; sampai ke Sungai Barito dengan perahu kecil bermesin 15 PK yang suaranya memekak sampai ke dalam telinga.</p>
<p>Takdir baik kemudian mengantar profesi saya menjadi seorang pengamat kebijakan publik di awal tahun 2000-an. Status ini tentu tidak terlepas dari terbitnya buku pertama saya, Gagalnya Pembangunan oleh LP3ES tahun 2001. Sejak menyandang status sebagai pengamat kebijakan publik itu saya menjadi mengenal dengan dekat Nusantara yang indah permai ini, termasuk Kalimantan.</p>
<p>Semua provinsi di Nusantara sudah saya kunjungi. Untuk Kalimantan, saya tidak hanya sering berulang ke kota-kota provinsi. Beberapa tempat yang pernah saya kunjungi termasuk daerah-daerah yang belum pernah dikunjungi oleh sebagian pejabat provinsi-provinsi di Kalimantan.</p>
<p>&#8220;Tak kenal maka tak sayang&#8221;. Pepatah asli orang Indonesia ini benar adanya. Setelah berkunjung beberapa kali ke Kalimantan, sejak tahun 2009 saya sering menulis di Twitter, &#8220;Tak kenal maka tak sayang Sintang, Pulau Laut, Sangata, Tanjung Selor&#8230;&#8221;, untuk memperkenalkan beberapa alam yang mempesona di Kalimantan. Sesekali, tentu saya juga memposting catatan saya tentang potensi untuk menciptakan keunggulan kota-kota di Kalimantan untuk memancing perhatian pemerintah daerah setempat maupun pemerintah pusat. Dari potensi yang dimiliki, termasuk lokasinya yang sangat strategis di tengah Indonesia dan di tengah Asia Pasifik, ekonomi Kalimantan sangat berpeluang berpindah dari ekonomi yang mengeksploitasi sumberdaya alam ke ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, serta ekonomi pariwisata.</p>
<p>Kota Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Tanjung Selor sangat berpotensi menjadi Kota Wisata Sungai yang menjadi alternatif dari Chao Phraya Bangkok bahkan Shanghai. Anugerah Tuhan berupa sungai-sungai besar bagi Indonesia memang paling banyak di Kalimantan dengan sedikit tambahan di Sumatera.</p>
<p>Sebagai pendiri Tim Visi Indonesia 2033, yang berdiri 9 Desember 2008, kami pernah menunjukkan kepada para stakeholders di Kalimantan Tengah, tentu termasuk kepada pemda-pemda kabupatennya, 21 titik kota kecil yang berpotensi dijadikan kota-kota waterfront city yang cantik. Dari Tim Visi Indonesia 2033 ketika itu saya bawa Dr. M. Jehansyah Siregar. Sambutan Gubernur Teras Narang ketika itu luar biasa. Beliau undang bupati-bupati yang wilayahnya ada diantara 21 kota kecil tadi. Hebatnya lagi, Pak Gubernur Teras Narang tidak hanya memberi sambutan membuka acara, tetapi ambil inisiatif menjadi moderator.</p>
<p>Jelas keliru besar membayangkan dari jauh bahwa Kalimantan hanyalah sisa-sisa hutan dan hamparan bumi yang rusak. Bahwa sebagian sudah dirusak oleh keserakahan oknum pejabat, mantan pejabat dan pengusaha, iya. Tetapi, dengan sejumlah lokasi cantik yang dimiliki dan menghentikan pengrusakan alam, lalu membawa Kalimantan bertransformasi secara sosial dan ekonomi, Kalimantan sangatlah menjanjikan bagi kejayaan masa depan Indonesia. Kalau ada orang orang memandang remeh Kalimantan, saya pastikan yang bersangkutan kurang banyak piknik di dalam negeri, selain ke Bali.</p>
<p>Pergilah ke Pulau Laut, di Kabupaten Kotabaru, Kalsel. Di situ ada Gunung Bamega, ada selat tenang yang membentang antara daratan Kalimantan dan Pulau Laut, ada laut yang airnya jernih seperti di pinggir laut Kota Manokwari, Papua. Ketika berada di lokasi-lokasi itu pasti anda akan bermimpi untuk masa depan Indonesia. Di Selat Pulau Laut, misalnya, suatu saat ratusan kapal cruise berlayar seperti di Hongkong, atau seperti di Shanghai, China, atau seperti Chao Phraya, Bangkok.</p>
<p>Kalau ke Kalbar, pergilah ke Sintang. Di sini, anda bisa naik kapal wisata melewati pertemuan dua sungai besar, Sungai Kapuas dan Sungai Mempawah. Lalu, sekali-sekali lepaskan pandangan ke Bukit Kelam yang memiliki tebing batu raksasa. Jika anda suka melihat peluang, maka potensi besar akan anda lihat di Sintang.</p>
<p>Kemana lagi? Ke Samarinda, atau ke Tenggarong, merenunglah di pinggir Sungai Mahakam. Bayangkan suatu saat tongkang-tongkang yang mengangkut gunung-gunung batubara itu nanti tidak ada lagi. Sungai Mahakam bebas sampah dan airnya tidak lagi merah cokelat. Sarana angkut yang melintas di Sungai Mahakam adalah boat-boat wisata dan kapal-kapal cruise. Maka, ketika itu Shanghai atau Bangkok pindah ke sini. Industri makanan, barang kerajinan, jasa perkapalan dan pelayaran pun tumbuh mengiringi sektor pariwisata.</p>
<p>Impian yang sama bisa anda buat bila berada di atas Sungai Kapuas Kota Pontianak. Bahkan, kalau sekarang anda pergi weekend ke Pontianak, sebagian mimpi untuk menjadi Chao Phraya Indonesia itu sudah terwujud. Di kedua sisi sungai masing-masing sepanjang 3 kilometer tersedia pedestrian yang kokoh di atas air. Sore hingga malam, di atas sungai mondar-mandir kapal wisata dengan lampu warna-warni. Wisatawan bisa menikmati cruising sambil makan malam atau sekedar minum minuman khas.</p>
<p>Sekarang ke Utara. Ada Tarakan yang juga punya pantai wisata dan punya benda-benda peninggalan Perang Pasifik. Ada lagi Tanjung Selor, ibukota Provinsi Kaltara. Ini adalah kota kecil yang damai dengan sungainya yang masih belum begitu tercemar limbah.</p>
<p>Sungguh, ini hanya sebagian kecil kemolekan dan potensi Borneo. Tidak heran, ketika IKN masih rencana, negara tetangga Malaysia sudah pasang ancang-ancang untuk menyambut dengan rencana-rencana investasi.</p>
<p>Peluang investasi tidak hanya di sektor perdagangan, jasa dan pariwisata. Kalimantan sangat potensial untuk industri maritim, industri berbahan baku mineral, industri bahan dari karet, dan lain-lain. Energi untuk menggerakkan mesin maupun lampu penerangan juga berlimpah. Batubara, asalkan tidak terus dieksploitasi besar-besaran untuk dijual ke luar negeri seperti sekarang, maka usia depositnya bisa lebih dari 100 tahun untuk keperluan sendiri. Belum lagi sumber pembangkit hidro di Kaltara yang potensinya lebih dari 6000 MW.</p>
<p>Jika IKN direalisasikan dengan benar, dan kota-kota yang sudah ada berbenah, Kalimantan pastilah akan menjadi mesin baru untuk perjalanan panjang Indonesia. Apa saja potensi Kalimantan, kenalilah terlebih dahulu pulau besar yang berada di tengah-tengah Nusantara ini. Tak kenal maka tak suka ke Borneo. Tetapi, jika sudah kenal dan anda berpikir untuk Indonesia ke depan, inilah tumpuan baru Indonesia. Asal kita semua berkomitmen melakukan transformasi ekonomi, Indonesia akan mengalami lompatan justeru dari Kalimantan. Lompatan itu tentu dalam arti mengubah paradigma pembangunan dari yang selama puluhan tahun ini dijalankan oleh tiap pemerintahan. <strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/tak-kenal-maka-tak-suka-pada-borneo/">Tak Kenal Maka Tak Suka Pada Borneo</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kritik-kritik Para Ilmuwan Manja</title>
		<link>https://prokabar.com/kritik-kritik-para-ilmuwan-manja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi6]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2022 13:24:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#AndrinofChaniago]]></category>
		<category><![CDATA[#mbb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=100086</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tahun 1992-1994, saya berturut-turut mendapat kesempatan menjadi research assistant tiga orang peneliti luar. Kesempatan pertama saya dapat dari Jeffrey Alan Winters, dari Northestern...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kritik-kritik-para-ilmuwan-manja/">Kritik-kritik Para Ilmuwan Manja</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Di</strong> tahun 1992-1994, saya berturut-turut mendapat kesempatan menjadi research assistant tiga orang peneliti luar. Kesempatan pertama saya dapat dari Jeffrey Alan Winters, dari Northestern University, USA. Topik risetnya tentang Kawasan Industri. Lebih tepatnya ketika itu posisi saya melakukan riset bersama, tetapi saya mendapat kesempatan mengerjakan satu subtopik tersendiri. Dan, terus terang, dari sinilah cikal-bakal saya menekuni strategi pembangunan nasional hingga lahirnya buku Gagalnya Pembangunan (LP3ES, 2001).</p>
<p>Kesempat kedua menjadi research assistant saya dapat dari Ian Chalmers, yang waktu itu sudah menjadi pengajar di Murdoc University, Perth, Australia. Topik persisnya saya sudah tidak ingat. Tetapi saya ingat isunya seputar Konglomerasi Bisnis, karena pekerjaan saya ketika itu adalah mencari dokumen-dokumen pendirian perusahaan sejumlah perusahaan nasional.</p>
<p>Sedangkan kesempatan ketiga menjadi research assistent adalah membantu M. Ramesh, seorang pengajar dan peneliti dari University of New England, Australia. Topik riset Ramesh ketika itu adalah tentang Kebijakan Pembangunan Sosial.</p>
<p>Satu hal yang amat penting yang saya dapat dari keterlibatan membantu tiga orang peneliti di atas adalah tentang kewajiban memburu data. Karena, yang namanya riset tujuannya adalah menjawab keingintahuan atas apa yang penting diketahui orang banyak. Berdasarkan hasil riset itulah orang yang menyandang status ilmuwan memberi pencerahan ke publik dan menyempurnakan pandangan-pandangan para ilmuwan yang sudah mengemuka.</p>
<p>Tetapi, yang namanya data bukanlah apa yang muncul di media massa dan medsos. Kebanyakan data-data penting berada di tempat atau di kepala orang-orang tertentu yang memerlukan kerja berkeringat, atau perlu kecerdasan tertentu, untuk mendapatkannya. Menjadi peneliti kadang-kadang harus bekerja seperti agen intelijen. Menggunakan cover, memainkan peran di luar peran keseharian, memburu target yang pergerakannya amat sibuk, dan sebagai.</p>
<p>Jeffrey A Winters pernah memaksa dirinya bangun subuh dan pergi dengan pakaian olah raga lengkap menyandang raket tenis menuju sebuah lapangan tenis. Tujuan utamanya ke lapangan tenis itu bukankah untuk bermain tenis, melainkan mengejar target, yakni seorang menteri bidang ekonomi yang punya jadwal rutin main tenis di lapangan tersebut. Jeffrey sengaja datang untuk mengawali pemakaian lapangan sampai sang menteri datang. Karena dia yakin ketika sang menteri datang dan bersiap menggunakan lapangan, pasti akan terjadi saling sapa.</p>
<p>Selain berpura-pura sangat hobby main tenis, Jeffrey juga berpura-pura tidak tahu bahwa sang menteri adalah seorang menteri. Maka, ketika saling sapa dan berkenalan, Jefrrey memperlihatkan ekspresi wajah kaget. Dari situlah ia masuk untuk mengoreksi informasi penting yang tidak ada di media. Bahkan, setelah itu ia dapat kesempatan mendapatkan akses lainnya untuk mengumpulkan data.</p>
<p>Cara riset yang dilakukan Jeffrey tidaklah kekhususan karena di masa Orde Baru berbagai informasi penting serba tertutup. Di jaman serba terbuka inipun, tetap saja harus melakukan upaya khusus untuk mendapatkan data tertentu. Sekali lagi, untuk mendapatkan data tertentu.</p>
<p>Namun, di jaman sekarang jumlah dan jenis data yang masuk kategoru tertentu itu jauh lebih sedikit. Sebagian besar jenis-jenis data di masa Orde Baru tergolong data eksklusif, sekarang tidak lagi. Dalam mendapatkan data seperti dokumen kebijakan atau naskah akademik yang diperlukan, seorang ilmuwan tinggal mendatangi instansi terkait. Jika pandai melakukan pendekatan, pejabat atau staf di instansi yang dituju bisa lagi dijadikan informan.</p>
<p>Tetapi, apa yang dikerjakan oleh sebagian dari mereka yang menyandang status &#8220;pakar&#8221;, &#8220;pengamat&#8221;, &#8220;ilmuwan&#8221;, &#8220;peneliti&#8221; berikut gelar akademik atau jabatan fungsional peneliti yang sering berkomentar tentang isu-isu nasional yang sedang hangat selama ini? Inilah yang ingin saya sampaikan di dalam tulisan ini.</p>
<p>Mohon maaf, saya ambil kasus Pemindahan Ibukota. Disamping isu ini sedang hangat dan masih akan hangat, dalam perbincangan-perbincangan di media elektronik maupun forum-forum webinar, saya menangkap kesan banyak mereka yang berstatus pengamat, ilmuwan, bahkan termasuk Profesor Riset, menjadi ilmuwan manja. Saya namakan ilmuwan manja karena mereka ingin data-data penting harus sampai ke tangan mereka. Karena data dan dokumen tidak sampai ke tangan mereka, lalu mereka merasa bebas menyakahkan berbagai aspek dalam perencanaan IKN. &#8220;Mana naskah akademiknya?&#8221;; &#8220;Apakah sudah dipikirkan masalah ini dan itu?&#8221; Begitu cara sejumlah ilmuwan ini mengkritik rencana pembangunan IKN di Kalimantan.</p>
<p>Saya berpendapat, jika sebagai ilmuwan belum memegang data yang cukup, sebaiknya berupaya mencari dulu data dan dokumen-dokumen yang terkait dengan rencana pembangunan IKN. Jangan tanpa data karena malas memburu data, tetap beropini dengan banyak berlindung dari kata-kata, &#8220;Saya duga&#8230;&#8221; atau &#8220;Saya khawatir&#8230;&#8221;, dan sebagai, untuk mengkritik rencana pembangunan IKN. Semestinya, sebagai ilmuwan, dilakukan dulu upaya mendapatkan data, lalu mempelajarinya, setelah itu baru membuat konklusi dan penilaian. Sebagai selebriti intelektual harusnya para ilmuwan yang sering menjadi narasumber tetap menjalankan prosedur cara membuat konklusi dan menyampaikan opini, karena setiap apa yang disampaikan seorang ilmuwan cepat diikuti oleh orang awam. Karena, kalau opini yang disampaikan tidak didasarkan data yang cukup dan kesimpulan yang mendasarinya keliru, maka masyarakat awam akan terbawa ke pandangan yang salah. Masyarakat awam banyak yang mudah terpengaruh oleh popularitas pembuat opini. Apalagi jika pembuat opini pandai beretorika dan memasang mimik muka yang meyakinkan.</p>
<p>Sulitkah mendapatkan data dan dokumen tentang IKN. Saya yakin tidak sesulit mendapatkan data dan dokumen di masa Orde Baru. Buktinya, seorang Faisal Basri sering mendapatkan data-data eksklusif yang membuat beliau bisa bicara keras tanpa ada yang mempermasalahkan. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Faisal Basri adalah satu dari amat segelintir pengamat dan ilmuwan yang tidak malas. Hasilnya, dengan berdasarkan data yang kuat, apa yang kadang-kadang disampaikannya dengan keras, tidak ada yang berhak marah atau tersinggung. Dari segi kegunaan, cara-cara kritik seperti yang dilakukan Faisal Basri harus kita dukung, karena berguna untuk memperbaiki kebijakan.</p>
<p>Sebaiknya, para ilmuwan yang sering bicara di media dan webinar tetaplah menjadi ilmuwan yang sesungguhnya. Cirinya adalah membuat konklusi dengan tepat dengan didasarkan data yang cukup. Dan untuk tetap menjadi ilmuwan, anda harus bekerja seperti Jeffrey A. Winters, Ian Chalmers, M. Ramesh dan Faisal Basri, yang saya sebutkan dalam tulisan ini. <strong>(***)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kritik-kritik-para-ilmuwan-manja/">Kritik-kritik Para Ilmuwan Manja</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Andrinof Chaniago Puji Pameran Foto Edy Utama</title>
		<link>https://prokabar.com/andrinof-chaniago-puji-pameran-foto-edy-utama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2021 13:05:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[#AndrinofChaniago]]></category>
		<category><![CDATA[#EdyUtama]]></category>
		<category><![CDATA[#rls]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=94045</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padang, Prokabar &#8211; Andrinof A Chaniago Wakil Komisaris Utama Mandiri dan Mantan Menteri PPN Kepala Bapenas RI 2014 &#8211; 2015 sore ini (4/9/) mengunjungi...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/andrinof-chaniago-puji-pameran-foto-edy-utama/">Andrinof Chaniago Puji Pameran Foto Edy Utama</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang, Prokabar</strong> &#8211; Andrinof A Chaniago Wakil Komisaris Utama Mandiri dan Mantan Menteri PPN Kepala Bapenas RI 2014 &#8211; 2015 sore ini (4/9/) mengunjungi Pameran Minangkabau Cultural Landscape Etnophotography di Galeri Taman Budaya Padang. Pameran Tunggal hasil jepretan &#8220;Bung&#8221; Edy Utama ini merupakan pameran pertama di Sumatera Barat setelah puluhan tahun Bung Edi berkiprah di dunia fotografi.</p>
<p>Dalam kunjungan tersebut, Andrinof sangat terpesona dan tidak henti &#8211; hentinya mengagumi karya dari Bung Edy Utama ini.</p>
<p>&#8220;Saya sangat mengapresiasi pameran fotografi ini, sudah saatnya karya &#8211; karya hebat ini juga bisa dinikmati oleh masyarakat luas sehingga masyarakat menjadi tahu dan paham budaya Minangkabau melalui jepretan tangan dingin Bung Edy ini&#8221; ujar Andrinof.</p>
<p>Andrinof berharap pameran seperti ini akan diteruskan dengan webinar tentang Minangkabau dengan mengundang para tokoh penggerak kebudayaan yang juga turut serta memberikan testimoninya untuk pameran ini seperti Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan Hilman Farid serta Rektor Universitas Yarsi Fasli Djalal.</p>
<p>&#8220;Saya siap menjadi salah satu pembicara dalam webinar ini&#8221; ujar Andrinof mengakhiri pembicaraan.(rls)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/andrinof-chaniago-puji-pameran-foto-edy-utama/">Andrinof Chaniago Puji Pameran Foto Edy Utama</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ibu Iriana dan Rendang</title>
		<link>https://prokabar.com/ibu-iriana-dan-rendang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2021 11:05:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#AndrinofChaniago]]></category>
		<category><![CDATA[#Opink]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=93355</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Andrinof Chaniago Waktu Ibu Negara mendampingi Presiden ke Sumbar, sebelum balik ke Jakarta, saya minta ijin ke Mensesneg dan ajudan Ibu Negara yang...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/ibu-iriana-dan-rendang/">Ibu Iriana dan Rendang</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh Andrinof Chaniago</p>
<p>Waktu Ibu Negara mendampingi Presiden ke Sumbar, sebelum balik ke Jakarta, saya minta ijin ke Mensesneg dan ajudan Ibu Negara yang dari Paspampres agar saya boleh memberi oleh &#8211; oleh rendang. Ini memang protap yg harus dilalui untuk keamanan Presiden dan Ibu Negara dlm soal makanan. Jadi, bisa saja makanan yg datang dari luar dapur istana atau yg bukan disiapkan protokol walau diterima tidak sampai ke meja makan Presiden.</p>
<p>Alhamdulillah, waktu itu Mensesneg dan Ajudan Ibu Negara mau menyampaikan satu dus rendang yang saya pesan dari seorang pelaku usaha di Padang (niat saya memang bantu mempromosikan juga produk rendang beliau yang biasa jadi langganan saya).</p>
<p>Beberapa bulan berikutnya, Presiden dan Ibu Iriana kembali ke Padang. Waktu itu dalam rangka peresmian Kereta Bandara. Usai peremian Stasiun Bandara, Presiden dan rombongan naik kereta. Seperti biasa, untuk acara resmi, saya ambil posisi agak jauh dari rombongan. Seingat saya, saya empat kali, atau setiap kunjungan ke Sumbar, diajak ikut rombongan walaupun saya bukan menteri.</p>
<p>Saat kereta mau bergerak, tiba &#8211; tiba ada seorang anggota Paspampres tergesa &#8211; gesa ke gerbong belakang tempat saya duduk. &#8220;Pak Andrinof, Bapak diminta ke depan oleh Pak Presiden&#8221;. Segera saya ke tempat Presiden dan Ibu Iriana duduk. Persis di depan beliau bangku sudah dikosongkan untuk saya. Memang beberapa kali saya dapat panggilan utk diajak ngobrol seperti ini. Pernah juga dalam suatu perjalanan, di dalam pesawat kepresidenan, tiba &#8211; tiba saya dihampiri ajudan yang menyampaikan pesan bahwa saya diminta ke ruang khusus beliau di pesawat. Tujuannya cuma mengajak ngobrol.</p>
<p>Nah, waktu baru duduk di bangku Kereta Bandara di hadapan Presiden dan Ibu Iriana, yang pertama disampaikan oleh Ibu Iriana adalah, &#8220;Pak Andrinof, terima kasih ya rendangnya waktu itu&#8221;. Dalam hati tentu saja sangat surprise. Karena, sampai saat itu saya tidak tahu apakah rendang yang saya kasih sampai apa tidak ke beliau.</p>
<p>Hari itu terkonfirmasi rendang ternyata sampai. Lebih dari itu, saya lihat Ibu Iriana senang dan terkesan dengan rendang tersebut. Buktinya, sudah hampir satu tahun berlalu, beliau masih ingat utk menyampaikan ucapan terima kasih.</p>
<p>Catatan ini jadi terpikir oleh saya setelah menonton sambutan Ibu Iriana atas acara Marandang yg diadakan beberapa hari yg lalu. Sambutan ini sendiri menunjukkan bahwa Ibu Iriana mendukung promosi rendang. Perlu diketahui, amat amat jarang Ibu Iriana mau tampil memberi sambutan seperti ini. Saya sendiri baru sekali ini melihat Ibu Iriana memberi sambutan di atas podium seperti ini.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/ibu-iriana-dan-rendang/">Ibu Iriana dan Rendang</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>​Andrinof Chaniago: Nyaman di Luar, Leluasa ke Dalam</title>
		<link>https://prokabar.com/%e2%80%8bandrinof-chaniago-nyaman-di-luar-leluasa-ke-dalam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[prokabar]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Nov 2017 16:06:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[#AndrinofChaniago]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=3645</guid>

					<description><![CDATA[<p>PADANG, PROKABAR &#8212; Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas 2014-2015, Andrinof Chaniago merasa lebih nyaman dengan tidak lagi berada di internal pemerintahan. Dia merasa...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/%e2%80%8bandrinof-chaniago-nyaman-di-luar-leluasa-ke-dalam/">​Andrinof Chaniago: Nyaman di Luar, Leluasa ke Dalam</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>PADANG, PROKABAR &#8212; </b>Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas 2014-2015, Andrinof Chaniago merasa lebih nyaman dengan tidak lagi berada di internal pemerintahan. Dia merasa lebih leluasa menyampaikan masukan ke Presiden RI, Joko Widodo terkait berbagai isu terkait pembangunan Indonesia saat kembali ke habitatnya semula, akademisi.<br />
Hal itu dikatakan Andrinof saat Ngobrol Buku ‘Evolusi Mimpi Menata Indonesia’ di Padang, Senin (6/11/2017) malam.</p>
<p>Hadir sebagai pembahas buku setebal 226 halaman itu, Akademisi Unand, Nusyirwan Effendi, Eddy Utama (Budayawan), Masril Koto (penggiat petani), Elfindri (Akademisi Unand), Edi Indrizal (Akademisi Unand) dan Ade Wiharso (penulis buku).&nbsp;</p>
<p>“Saya tak pernah bermimpi jadi menteri. Sebagai orang biasa dan dari keluarga biasa-biasa saja, jabatan menteri itu sungguh di luar dugaan. Ketika di-resufle, saya sungguh ikhlas lahir batin,” ungkap Andrinof saat memberikan pengantar pada bedah buku yang digelar Komunitas Orang Kaya Buku (OKB).&nbsp;</p>
<p>Buku yang ditulis Ade Wiharso dan Lina Marlina ini, menceritakan ide dan gagasan Andrinof soal pembangunan. Buku yang diterbitkan RMBooks itu, telah diluncurkan di Rumah Perubahan, Jalan Mabes, Jati Murni, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (4/11/2017).</p>
<p>“Ada ide-ide yang perlu disosialisasikan, yakni beberapa ide yang sudah saya pikirkan saat menjabat sebagai Kepala Bappenas yang terkait dengan RPJMN. Semoga buku ini bermanfaat sebagai sumbangsih pemikiran untuk Republik Indonesia,” ungkap Andrinof dalam sambutannya.</p>
<p>Dalam ngobrol buku ini, hadir sahabat Andrinof dari berbagai kalangan. Mulai dari aktivis anti korupsi, Oktavianus Rizwa, Alfan Miko (akademisi), Syafria Wati (penggiat pariwisata), Helmi (akademisi), Hanura Rusli (tokoh Tionghoa), Syahrial Syarif (akademisi), Wiztian Yoetri (wartawan senior).&nbsp;</p>
<p>Juga hadir Khairul Jasmi (wartawan senior), Boy Lestari Dt Palindih (tokoh Perti), Eka Vidya Putra (akademisi), Israr Iskandar (akademisi), Harry Effendi Iskandar (akademisi), Nasrul Azwar (budayawan), Aguswanto (pemilik media), Syahrial Aziz dan Novermal (ketua dan sekretaris SMSI Sumbar) dan undangan lainnya.&nbsp;</p>
<p>“Di tengah kesibukan saya sebagai akademisi, saat ini saya juga dipercaya jadi Komisaris Utama PT Bank BRI (tbk) oleh pemerintah,” ungkap Andrinof tentang kegiatannya pasca lengser dari pemerintahan.&nbsp;</p>
<p>Dalam siaran pers yang diterima, buku Evolusi Mimpi Menata Indonesia ini mengungkap serta mengulas beberapa catatan penting seorang Andrinof, saat menjadi orang nomor satu di Bappenas, dan gagasan-gagasan utamannya dalam pembangunan dan kebijakan publik yang diambil oleh pemerintah maupun visi Indonesia tahun 2033 dimana ia memberikan ide pemindahan Ibukota Negara RI.</p>
<p>Di dalam buku itu juga ditulis, sosok Andrinof yang begitu melekat sebagai master mind atau mentor Jokowi sejak menjabat walikota Solo sampai bisa menduduki posisi gubernur DKI Jakarta dan menjadi Presiden Indonesia.</p>
<p>Tidak hanya itu, perjalanan seorang Andrinof sebagai &#8220;Anak Kampung&#8221; juga diulas dan tertuang dalam buku, sampai perjalanannya sebagai aktivis dan akademisi terpotret jelas di bagian-bagian buku tersebut.</p>
<p>Dalam ngobrol buku yang dipandu Viveri Yudi, masing-masing pembedah diberi kesempatan untuk menceritakan pengalamannya bersama Andrinof. Salah satu pengalaman unik bersama Andrinof, diungkapkan Masril Koto.</p>
<p>Penggiat petani itu mengisahkan pengalamannya saat akan bertemu Andrinof ke kantor PPN/Bapenas.</p>
<p>Masril mengaku sempat dihadang Satpam karena hanya bersandal jepit. “Saat itu saya menelpon staf Pak Andrinof. Lalu saya dijemput ke pintu gerbang,” ungkap Da Maih, demikian Masril Koto karib disapa.&nbsp;</p>
<p>Andrinof dengan nama lengkap Andrinof Achir Chaniago lahir di Padang, 3 November 1962. Andrinof yang saat ini menjabat Komisaris Utama BRI dikenal publik sebagai akademisi, peneliti dan pengamat kebijakan publik<b>. (Rls)</b></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/%e2%80%8bandrinof-chaniago-nyaman-di-luar-leluasa-ke-dalam/">​Andrinof Chaniago: Nyaman di Luar, Leluasa ke Dalam</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 36/106 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/12 queries in 0.013 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-08 00:39:53 by W3 Total Cache
-->