Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Muslimin : Emzalmi Pindah Kapal, Ancaman Bagi Mahyeldi

Foto : Muslimin
Dibaca : 1.4K

Oleh : Muslimin

Peneliti Spektrum Politika Institute

Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Padang baru akan dilangsungkan pada bulan Juni tahun 2017, dan KPUD Padang baru akan memulai tahapan Pilwako pada bulan september tahun ini. Akan tetapi, aktifitas politik sudah sejak lama muncul untuk mengusung diri maju pada pilwako Padang 2018 ini. Berbagai wajah tokoh sudah bermunculan kedepan publik di Kota Padang, mulai dari baliho, spanduk maupun surat kabar. Berbagai tokoh yang bermuncul antara lain, Emzalmi yang telah mendeklarasikan diri berpisah dengan Mahyeldi dan menggandeng Desri Ayunda sebagai bakal calon wakil walikota, Adib Alfikri, Andre Algamar, Hendri Septa, Alkudri, Oktafredi Rasyid, Apris Yaman, Maigus Nasir, Michel Ichlas El Qudsi, Andre Rosiade dan terakhir yang ikut meramaikan bursa bakal calon adalah tokoh muda Faldo Maldini.

Dari sekian tokoh yang bermunculan, Emzalmi dan Desri telah mendeklarasikan diri untuk maju berpasangan pada Pilwako Padang 2018. Emzalmi yang masih menjabat sebagai wakil walikota Padang telah mantap berpisah dengan Mahyeldi. Dengan berbagai poster dan baliho yang telah terpasang diberbagai sudut kota memberikan sinyal kuat bagi masyarakat bahwa Emzalmi tidak akan berpasangan lagi dengan Mahyeldi, dan menggandeng tokoh muda Desri Ayunda untuk maju pada tahun 2018.

Mahyeldi-Emzalmi Pecah Kongsi

Berpisahnya Mahyeldi dengan Emzalmi menjadi daya tarik tersendiri. Pasalnya, Pilwako yang masih lama telah memberanikan diri untuk berpisah dari Walikota yang memiliki tingkat elektabilitas yang cukup tinggi. Fenomena pecah kongsi dalam Pilkada bukanlah hal yang asing lagi, namun yang menarik dilihat adalah faktor yang menyebabkan terjadinya pecah kongsi tersebut. Jika melihat dari aturan yang ada tentang tugas dan kewajiban dari wakil kepala daerah telah jelas diatur dalam pasal 66 Undang-Undang No 24 Tahun 2014 yang terakhir dengan undang-undang no 9 tahun 2015 tentang perubahan kedua Undang-Undang No 24 Tahun 2014 tentang pemeritahan daerah.

Dalam undang-undang tersebut telah jelas diatur bagaimana tugas dan kewajiban dari wakil kepala daerah. Akan tetapi, dibanyak pilkada yang mengakibatkan pecah kongsi, adalah tidak berjalannya secara proporsional tugas dan kewajiban Kepala Daerah dengan Wakil Kepala Daerah. Seringkali dalam menjalankan roda pemerintahan, walikota menjadikan posisi wakilnya sebagai “ban serap” semata. Kondisi seperti ini sangat dikhawatirkan dan memang sering terjadi, keberadaan wakil walikota yang tidak difungsikan dan yang lebih parahnya adalah masukan dari wakil walikota sesuai dengan amanat Undang-Undang Pemerintahan Daerah tidak terlalu didengar dan terabaikan.

Hal ini juga tidak tertutup kemungkinan sedang terjadi di Kota Padang, keinginan Emzalmi sebagai putra asli daerah untuk membangun Kota Padang tidak begitu didengar atau terabaikan. Padahal sebagai pamong yang telah berpengalaman di Kota Padang sebagai birokrat, Emzalmi dipandang memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengatasi masalah di Kota Padang. Akan tetapi, dalam beberapa kali kesempatan, peran Emzalmi sebagai wakil walikota tidak begitu terlihat, walaupun sebagian besar orang memandang bahwa kemajuan Kota Padang hari ini adalah berkat peran Emzalmi dibelakang layar.

Dengan pemerintahan yang masih berjalan empat tahun, seperti yang terlihat bahwa Emzalmi telah mamantapkan diri berpisah dengan Mahyeldi dan menggandeng tokoh muda yang berjiwa Entrepreneurship Desri Ayunda yang juga tidak asing bagi masyarakat Kota Padang. Pasangan ini diperkirakan akan menjadi pesaing utama Mahyeldi yang sampai saat ini belum memastikan pasangannya. Posisi Emzalmi sebagai wakil walikota dan Desri sebagai pesaing lama mereka yang hanya kalah sekitar 0,3% pada Pilwako tahun 2013 lalu, tidak boleh diabaikan oleh Mahyeldi sebagai calon kuat Pilwako Padang 2018.

Menakar Kekuatan Emzalmi-Desri Ayunda

Mahyeldi patut mewaspadai pergerakan dari Emzalmi-Desri Ayunda. Pasalnya, kemenangan pasangan Mahyeldi-Emzalmi pada tahun 2014 yang lalu tidak terlepas dari kepemilikan basis massa Emzalmi. Pada Pilkada tahun 2014, dari 11 kecamatan yang ada, hanya empat kecamatan yang berhasil dimenangkan oleh Mahyeldi-Emzalmi tahun 2014. Empat kecamatan tersebut cukup untuk mengantarkan MahEm menjadi pemenang di tahun 2014. Dari empat kacamatan tersebut, kecamatan Kuranji dan Pauh menjadi penentu dari kemenangan MahEm.

Disini lah yang mesti diwaspadai oleh Mahyeldi, Emzalmi yang merupakan putra asli Kuranji dan menetap di Pauh tentu memiliki basis massa tersendiri di Kuranji dan Pauh. Apabila Emzalmi mampu menggarap potensi Kuranji dan Pauh, maka tidak mungkin, Mahyeldi akan tersingkir dalam Pilwako Padang 2018 nanti. Disisi yang lain, kehadiran Desri Ayunda sebagai pendamping Emzalmi menambah peluang yang besar untuk menang dalam Pilwako tahun 2018. Dari beberapa kali survey yang telah kita lakukan, tingkat Elektabilitas Mahyeldi memang diatas 50%, akan tetapi yang berada pada urutan kedua dan ketiga adalah Emzalmi dan Desri Ayunda. Bergabungnya Emzalmi dan Desri tentu menjadi ancaman serius bagi Mahyeldi.

Munculnya nama Desri Ayunda dalam survey dengan tiga tokoh yang memiliki elektabilitas paling tinggi sebenarnya tidak heran lagi, pasalnya Desri Ayunda adalah calon walikota tahun 2014 yang “Head to Head” dengan Mahyeldi-Emzalmi. Hadir sebagai calon Independen bersama James Hellyward, pasangan ini mengejutkan masyarakat Kota Padang dengan hanya kala 0,3 % dari Incumbent. Desri-James atau yang lebih dikenal dengan “DEJE” hanya kalah di empat kecamatan dari sebelas kecamatan yang ada di Kota Padang.

Desri Ayunda tentu memiliki loyalis massa yang tercipta pada tahun 2014. Desri yang berasal dari kecamatan paling banyak pemilih menjadi kekuatan tersendiri bagi pasangan Emzalmi-Desri. Berdasarkan DPT Tahun 2015, Kecamatan Koto Tangah memiliki jumlah pemilih sebanyak 115.949, dan merupakan jumlah pemilih terbesar di Kota Padang. Belum lagi basis massa “DEJE” yang berada disetiap kecamatan di Kota Padang dapat digerakan kembali oleh pasangan Emzalmi-Desri. Maka dari itu, apabila Mahyeldi tidak hati-hati dalam mencari figus pasangan, sangat memungkinkan Emzalmi-Desri mampun menjadi Walikota dan Wakil Walikota Padang 2018-2023.

Mahyeldi Mencari Pendamping

Disaat Emzalmi telah mendapatkan pasangan yang cukup kuat yaitu Desri Ayunda, Mahyeldi masih kebingungan untuk menentukan wakil yang cocok untuk mendampinginya pada Pilkada 2018. Kebingungan Mahyeldi adalah sebuah kewajaran mengingat dia harus memikirkan untuk maju sabagai calon gubernur Sumatera Barat pendatang. Padang sebagai pusat kota dengan jumlah pemilih yang besar tentu tidak akan dilepas kepada walikota yang tidak loyal kepada PKS atau dirinya ketika mengusung diri dalam Pilgub 2021.

Kondisi seperti ini harus membuat Mahyeldi hati-hati. Akan tetapi, ketika calon yang loyal kepada PKS yang diusung sebagai pendampingnya di Pilwako 2018, Mahyeldi harus memikirkan potensi kalah dan menang dalam pilwako tersebut. Pasalnya dari beberapa kali survey yang telah dilakukan, elektabilitas Mahyeldi terus mengalami penurunan. Kondisi seperti ini tidak baik bagi Mahyeldi, bagaimana menuju Sumbar 1 apabila pilwako Padang saja kalah. Posisi wakil sangat menentukan keterpilihanya nanti. Beberapa nama telah bermunculan dan berkeinginan untuk mendampingi Mahyeldi, sebut saja Andre Rosiade, Adib Alfikri, Khairul Ikhwan, Hendra Septa hingga Micel Ichlas El Qudsi. Dari nama yang ada tersebut, Mahyeldi ataupun PKS masih kebingungan. PKS yang ditingkat pusat memiliki kedekatan dengan Gerindra, tidak menjamin linear dengan keadaan Kota Padang. Apalagi Gerindra yang telah menetapkan harus mengusung kader partai dalam pencalonan, seperti yang diketahui nama Andre Rosiade adalah tokoh yang diusulkan Gerindra tidak begitu mendapat respon yang baik dari PKS, karena prediksinya Andre tidak begitu menguntungkan apabila Mahyeldi maju menjadi calon Gubernur nantinya.


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top