Trending | News | Daerah | Covid-19

Kesehatan

Kisah Saya yang Positif Covid, Antara Ruangan Putih dan Optimisme Dari Tenakes


Oleh Vinna Melwanti

Dibaca : 3.0K

.

Saya teramat dingin. Pucat pasi. Tak berdarah lagi muka ini. Jalan sudah goyang. Dada amatlah sesaknya. Napas satu-satu, berat sekali. Saya sangat disiplin, ternyata kena juga. Saya positif corona di tengah kampanye gelombang kedua yang besar. Ya Tuhan.

Ini kali pertama saya naik dan rebah dalam ambulance, menggigil. Ini pertama kali, paru-paru saya bagai diremas. Makin lama kian kuat. Ini pertama kali saya demam, yang membuat seluruh tubuh mandi keringat. Dua kali per jam ganti baju.

Ketika naik ambulance, saya seperti dilarikan ke dunia lain, sirinenya meraung panjang, membelah kota Jakarta yang sepi menjelang dinihari. Saya yang lahir di Jakarta, tak pernah setakut ini di kota yang sama.

Malam telah memanjat jauh ke depan. Sebentar lagi dinihari. Paru-paru ini, serasa pecah semenjak pagi tadi terbujur di IGD Rumah Sakit MMC Jakarta Selatan.  Ya, rumah sakit inilah yang menyatakan saya positif corona. Sebelumnya juga ditemukan bintik putih dari hasil CT Scan paru. Saya divonis pneumonia. Jenis penyakit yang sedang hits meranggas landai di paru saya yang tak punya riwayat perokok, jantung dan paru ini.

“Maaf bu Vinna. Kamar rawat khusus covid kami penuh. Lebih baik ibu mencari rumah sakit lainnya saja,” kata suster sembari memperbaiki infus saya yang mengeluarkan darah. Dalam keadaan terhenyak saya hubungi belasan rumah sakit khusus covid atau pun tidak, hasilnya full over kapasitas. Sementara waktu dengan kejam terus merangkak. Saya seperti disisihkan di lorong rumah sakit.

Akhirnya, dalam kalut dengan suhu tubuh 39 derajat, saya gunakan link jurnalistik. Saya hubungi narasumber yang berlatarbelakang BUMN. Dia segera menyuruh saya ke Rumah Sakit Pusat Pemerintah (RSPP). Katanya, ini merupakan rumah sakit pemerintah khusus covid yang dikebut 3 bulan lalu.

“Ada kamar, tapi tetap masuk list tunggu ya.  Diperiksa saja dulu di RSPP Kyai Maja, baru nanti ke Simprug Modular Extension,” katanya yang saya ikuti dengan ucapan terimakasih banyak.  Saya tak bisa bayangkan, privilege jurnalis inilah yang bisa menyelamatkan. Lalu, kalau masyarakat biasa yang tak punya jejaring, tak terbayangkan apa yang terjadi. Ironi.

Sambil menunggu jemputan ambulance, lamunan saya terbang. Saya kena covid dimana ya? Padahal hidup di Jakarta dengan bekerja di digital platform news, saya khatam dengan semua protokol kesehatan. Ya, sebagai penyebar informasi berita, tentu harus paham sebelum sharing, harus praktikan sebelum meminta pembaca melakukannya.  Tapi, nasib berkata lain, saya kena juga. Entah dimana.

Tetiba ambulance yang membawa saya, berhenti. Saya tak tahu telah sampai atau singgah menjemput pasien covid lainnya. Yang pasti, oksigen di hidung ini membuat penglihatan saya terus memudar. Ini pertama kali saya pakai oksigen. Pertama pula di atas ambulance. Baju ini makin basah karena demam.


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top