Daerah

Kisah Inspiratif Dari Kampar, Provinsi Riau. “Gadis Tangguh Itu Bernama Sari Santika”

Kampar, Prokabar —  Jauh dari pedalaman Desa Balung, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, terdapat kisah tangguh seorang gadis manis berhijab. Kisah perjuangannya hampir seperti manusia setengah malaikat.

Bagaimana tidak, meski sebagai guru hononer yang dinilai hanya Rp350 ribu perbulan, harus menempuh perjalanan puluhan kilometer dengan medan jalan dan jembatan rusak parah. Meski pahit, namun senyum gadis manis itu, masih terpancar indah dan menawan. Ketabahan menjalani hidup, memberi makna mendalam setiap insan.

Kepedihan cukup ia pendam dalam dalam hati. Teringat perjuangan kedua orang tuannya, yang telah membesarkannya, hingga mengantarkan ia menjadi seorang sarjana pendidikan.

“Nama saya Sari Santika, putri sulung dari tiga bersaudara. Saya terlahir dari rahim seorang Ibu bernama Desmawati dan ayah bernama Yan Elvi. Pekerjaan orang tua saya, pedagang sayur dan dimulai semenjak tahun 2016 lalu. Sebelum menjadi pedagang, orang tua saya adalah petani karet,” ungkap Sari kepada Prokabar.com melalui pesan Whatshapp.

Ia melanjutkan, saya lahir di Desa Balung, 19 Oktober 1994. Dan mendapatkan ilmu sekolah di SDN 028 Balung selama 6 tahun tamat tahun 2006/2007. Sekarang namanya sudah SDN 016 Balung. Kemudian melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Balung selama 3 tahun tamat pada tahun 2010. Seterusnya, masuk ke Madrasah Aliyah Negeri Kuok (MAN KUOK), jurusan IPA 1 di kelas XI, sekarang namanya sudah berganti MAN 1 KAMPAR Akreditasi A. Dan saya berhasil tamat pada tahun 2013.


Nasip baik terus berlanjut hingga ia masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Ia berhasil kuliah di Kampus 2 Air Pacah, Universitas Bung Hatta. “Saya berhasil masuk di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Alhamdulillah, lulus tepat waktu, pada 16 Juni 2017 lalu,” terangnya.

Setelah wisuda lanjutnya, saya berkeinginan untuk melanjutkan S2 di UNP. Akan tetapi dikarenakan biaya dan raut lelah di wajah kedua orang tua, saya merasa tidak sanggup untuk melanjutkannya. Keinginan tersebut terpaksa saya urung karena melihat kedua orang tua saya sudah terlalu lelah untuk mencari biaya.

“Saya ingin mencari beasiswa namun apalah daya keadaan jaringan di Desa Balung tidaklah mengizinkan untuk mendapatkan informasi. Lalu, pupuslah sudah mencapai keinginan untuk mendapatkan S2,” ungkapnya.

Gagal mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2, gadis periang ini pun mengajar di MTs Balung dan dimulai pada Agustus 2017. Sejalan dengan waktu, saya memasukkan lamaran ke SMP SATU ATAP XIII KOTO KAMPAR pada 28 Januari 2018.

Ia langsung diterima karena kondisi jalan menuju sekolah sangat mengkhawatirkan dan mengerikan untuk dilewati masyarakat. Maka tidak jarang guru yang pernah mengajar di sana tidak akan ada yg bertahan sampai 1 tahun.

Lokasi sekolah SD-SMP Satu Atap XIII Koto Kampar terletak di Dusun V  Siasam. Tepatnya jalan Lipat Kain – Balung KM.12, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar,  Provinsi Riau.

“Saya tidak berkecil hati untuk tidak dapat mencapai keinginan melanjutkan S2 di UNP. Namun saya sangat merasa sedih dengan nasib yang kami jalani sekeluarga. Ayah dan Ibu setiap minggu melewati jalan Balung-Siasam. Sebagai pedagang sayuran dan saya sebagai guru honor, harus menempuh jalan puluh kilometer dengan lumpur yang sangat tebal. Belum lagi melalui pendakian terjal serta beberapa jembatan yang rusak parah. Bahkan ada melalui sungai, dengan dalam mencapai ketiak orang dewasa” tutur Sari.

Anak Sulung dari tiga bersaudara tersebut kembali menceritakan, Ia mengajar setiap hari Senin hingga Rabu. Sekali seminggu, ibunya juga melewati jalan tersebut. “Ibu saya berangkat Rabu siang ke Siasam. Dan Jumat siang, baru bisa pulang ke rumah di Balung,” kisahnya.


Situasi yang saya hadapi selama 1 tahun mengajar di SMP SATU ATAP XIII KOTO KAMPAR ini bercampur suka dan duka. Namun cerita duka, selalu menjadi bagian tidak terlupakan. Dimulai dari guru yang mengajar sampai terhadap siswa dan siswi yang menuntut ilmu di sekolah ini.

“Jalan menuju sekolah terdapat satu perlintasan melewati sungai. Apabila memasuki musim hujan, airnya akan naik dan tidak akan bisa menyeberang. Air sungai sangat deras dan mencapai setinggi pinggang orang dewasa. Bahkan sampai setinggi ketiak orang dewasa,” ungkap gadis manis berhijab tersebut.

Selain sungai, ada pula beberapa jembatan maut. “Jalan menuju sekolah jika musim hujan, akan sangat licin. Hanya Allah Mahakuasa yang tahu penderitaan kami selaku guru yang berjuang dengan maut menuju sekolah ini. Kondisi jalan yang masih bertanah kuning belum pernah ada pengerasan selama saya ketahui. Sangat licin dan lumpurnya tidak jarang mencapai setinggi lutut. Dengan susah payah saya selalu turun dari sepeda motor butut yang saya miliki supaya sepeda motornya bisa naik ke puncak pendakian.

“Walaupun sudah turun dari sepeda motor dan kaki bertumpu pada tanah yang berlumpur, serta tangan yang memegang stang gas sepeda motor, tetap saja tidak bisa naik. Dan pada akhirnya saya duduk berjam-jam untuk menunggu orang lewat supaya bisa minta tolong untuk mendorong sepeda motor saya,” urainya.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah SD-SMP SATU ATAP XIII KOTO KAMPAR, ada empat titik yang membuat detak jantung berdetak kencang tidak beraturan gadis teguh dan berwatak keras ini. Pertama pendakian Batang Samir. Kedua, Jembatan Kotua Kociak, ketiga Jembatan Kotua Godang, dan keempat Pendakian Sungai Merbau.

Pendakian Batang Samir sangat licin ketika musim hujan. “Untuk menurun pun kendaraan harus digas, kalau nggak digas nggak akan turun karena jalannya berlumpur tanah napa. Air selalu mengalir dan menggenangi jalur di sepanjang jalan. Bayangkan saja bagaimana lumpurnya. Tentu saja kita tidak mau melewati jalan yang seperti itu, bila ada jalan alternatif lain. Namun apa boleh buat, itu jalan satu-satunya,” terangnya lagi.

Setelah Batang Samir, sekitar 5 KM perjalanan akan melewati Jembatan Kotua Kociak. “Dengan memperbanyak istighfar, berulang-ulang saya coba untuk melanjutkan perjalanan. Setelah melewati jalan licin dan berlumpur saya harus melewati jembatan yang saya beri nama jembatan Siratal Mustaqim,” Ungkap Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra UBH Padang ini.

Walaupun tidak ada persamaan dengan jembatan yang dijelaskan dalam Al Qur’an terangnya, namun karena rasa takut dan cemas yang saya alami disepanjang jalan, maka saya beranggapan bahwa saya sudah mencapai penderitaan selanjutnya, yaitu jembatan Siratal Mustaqim. Dan ada dua jembatan yangg sangat parah kondisinya.


Walaupun jalan ini hak paten dari pihak pemerintah, namun sedikit pun belum pernah ada tindakan dari desa. Semisalnya, mengajak masyarakat gotongroyong atau mendatangkan alat berat untuk memperbaiki jalan.

“Kondisi lantai jembatan di tengahnya sudah 90 derajat miring, bayangkan saja jika telapak tangan dimiringkan. Nah seperti itulah kondisi jembatan Kotua Kociak ini,” paparnya lagi.

Papan untuk ditengahnya itu untuk jalan sepeda motor. Sisi kiri dan sisi kanan dibuat titian untuk ban mobil. Yang lebih menakutkan lagi, jarak papan tengah yang miring dengan setinggi paha orang dewasa. Jika kita mengendarai sepeda motor dan melewati papan ditengah yang miring tersebut, separoh badan kita tidak akan kelihatan diantara titian mobil yang posisinya di kiri dan kanan.

Pernah saya sekali mencoba mencari jalan pintas karena saking sudah parahnya kondisi jembatan tersebut. Namun sia-sia, meski sudah berusaha mencari dan bertanya kepada masyarakat setempat, tidak ada ditemukan jalan pintas. “Dengan memperbanyak Istigfar dan bertasbih kepada Allah, saya kembali memberanikan diri melewati jembatan tersebut,” ujarnya.

Ada suatu ketika, gadis berhijab ini pernah mencoba mengikuti tes CPNS. Dengan hati yang penuh kecemasan dan bercampur ketakutan, ia melewati jembatan yang panjang lebih kurang 3 meter tersebut. Ia agar bisa lulus menjadi seorang PNS. “Saya selalu berdoa, ya Allah jika doa orang teraniaya benar-benar dikabulkan, sekarang hamba dalam keadaan teraniaya, mohon luluskan hamba CPNS, Ya Allah. lalu mulailah saya mengucapkan Basmallah sambil berujar lulus PNS ya Allah, Lulus PNS Ya Allah, sepanjang meniti jembatan Siratal Mustaqim,” terang Sari.

Jika diingat-ingat sepanjang jalan lanjutnya, saya tersenyum-senyum terhadap apa yang saya lakukan disepanjang jembatan. Betis dan telapak kaki yang sering hijau berminggu-minggu terkena sepeda motor, dan bertumpu ke tanah. Serta terkena kayu yang melintang di badan jalan.

“Saya berdoa semoga saya panjang umur dan setiap gerak-gerik yang saya lakukan ini bernilai ibadah yang berlipat ganda. Serta menjadi penyelamat saya di akhirat nantinya. Aamiin,” ungkapnya lagi.

Tangan kecil kurus ini terasa sangat lelah dan memerah bahkan sampai melepuh karena meng-gas sepeda motor menuju sekolah SMP SATAP XIII KOTO KAMPAR. Terkadang saya ingin menangis, akan tetapi saya teringat wajah kedua orang tua saya. Sudah puluhan tahun mereka merasakan yang saya rasakan hari ini. Dengan begitu saya mendapatkan kembali rasa berjuang untuk melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Bukannya tidak bersyukur, akan tetapi saya ini juga manusia biasa. Dengan gaji 350 ribu sebulan dan keluar sekali dalam delapan bulan. Saya mewakili teman-teman seperjuangan “merasa tidak adil” karena diluar sana diberikan insentif khusus, dan segala macamnya, walaupun daerah mereka tidak terisolir. Sekolah kami sudah melebihi 3 T nya. Namun tidak ada upaya pemerintah untuk mensejahterakan guru-guru yang mengabdi di sini.

“Walaupun kami tidak mempunya NUPTK Dan lain sebagainya atau guru-gurunya tamat SMA, bukankah ini daerah pengecualian, tidak bisa disamakan dengan sekolah diluar sana,” harapnya.

Sari kembali mengungkapkan ini adalah segelintir cerita pahit, menakutkan, dan menyedihkan disepanjang hidup saya yang harus saya lewati. Berharap adanya tindakan dari pemerintah kabupaten dan pemerintah pusat untuk lebih memperhatikan daerah telisolir tersebut.

“Terkadang saya merasa kecewa dengan keadaan. Tidak ada satupun tindakan baik dari masyarakat, desa maupun kabupaten untuk memperbaiki jalan Balung- Siasam ini. Pada hal ini adalah jalan lintas yang tembus ke Lipat Kain, dan bisa tembus ke Payakumbuh melewati kampar kiri,” pungkasnya. (rud)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top