Artikel

Kilang Tebu Tradisional Khas Matur Tak Tergerus Waktu

Agam, Prokabar – Sejak puluhan tahun lalu, Nagari Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatra Barat terkenal dengan penghasil Tebu beserta gula merahnya. Selain cocok dengan iklim dan geografis alam, masyarakat setempat memang cukup telaten dalam pembuatan gula merah atau ‘saka tabu’.

Masli Amir Datuk Panghulu Sati (64), salah satu dari ratusan masyarakat yang memproduksi gula merah dari tebu. Ia mengaku usaha turunan dari sang mertuanya itu dimulai sejak puluhan tahun lalu.

Ia bersama anak-anak dan istrinya akan terus mempertahankan penggunaan kilang tebu tradisional tersebut. Dan mengklaim, Kilang Kayu ini satu-satunya yang masih bertahan di Nagari Lawang yang terbuat dari kayu. Sedangkan masyarakat lainnya sudah menggunaan besi atau mesin.

Salah seorang Penghulu Pucuk Nagari Lawang ini beralasan mempertahankan Kilang Kayu Tradisional, karena memiliki nilai sejarah dan edukasi kepada generasi penerus. Bahkan menjadi daya tarik tersendiri dari pengunjung, yang berwisata ke Puncak Lawang atau Lawang Park. Karena aktifitas ini dianggap dan terbilang langka dan unik.

“Usaha ini sudah kami rintis sejak 1970. Dan kami pula satu-satunya yang mempertahankan pengolahan tebu menggunakan kayu tradisional yang sudah ada sejak 1940-an ini. Pada saat itu, penjajah Belanda menguasai daerah kami dan memanfaatkan produksi tebu untuk di ekspor,” katanya kepada Prokabar.com.

Kilang tebu menggunakan kayu jauh berbeda dengan penggunaan besi yang sudah banyak dikembangkan dan digunakan masyarakat lainnya. Hanya saja cita rasa yang dihasilkan dari kayu ini lebih enak dan harum.

“Meski proses pembuatan membutuhkan waktu lebih lama, akan tetapi hasil yang kami peroleh jauh lebih baik dari pengolahan melalui mesin. Kami pun sering dikunjungi wisatawan karena proses pembuatan gula merah ini dianggap unik dan menarik,” tuturnya.

Nur Aini (56), istri dari Masli menyebutkan setelah proses pemerasan air tebu dengan tenaga kerbau dan kilang kayu, dilanjutkan dengan memasak dalam wadah kuali. Proses penyaringan kemurnian gula dengan membuang busa atau uap hingga air menjadi kental.

“Setelah pati sari tebu menjadi kental barulah gula merah dari tebu itu disalin ke dalam cetakannya. Dan saka tebu itu akan mengeras dengan sendirinya dan sudah bisa dijual ke pasar,” tutup ibu dengan sebutan Nini ini. (rud)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top