<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sejarah Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/kanal/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/kanal/sejarah/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Sep 2022 16:07:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>Sejarah Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/kanal/sejarah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Udin Rahmany, Guru Agama dan Politik Hajjah Rasuna Said</title>
		<link>https://prokabar.com/udin-rahmany-guru-agama-dan-politik-hajjah-rasuna-said/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi6]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Sep 2022 16:07:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#inyiakparabek]]></category>
		<category><![CDATA[#mbb]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=107011</guid>

					<description><![CDATA[<p>Maninjau, Prokabar &#8211; Tokoh ini seperti bersembunyi dalam lipatan sejarah, padahal dialah guru politik pertama Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Tokoh itu: Udin Rahmany. Sosok...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/udin-rahmany-guru-agama-dan-politik-hajjah-rasuna-said/">Udin Rahmany, Guru Agama dan Politik Hajjah Rasuna Said</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Maninjau, Prokabar</strong> &#8211; Tokoh ini seperti bersembunyi dalam lipatan sejarah, padahal dialah guru politik pertama Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Tokoh itu: Udin Rahmany.</p>
<p>Sosok ulama, guru dan pejuang asal Maninjau ini, menginspirasi Rasuna, perempuan pertama di Hindia Belanda yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda, 1932.</p>
<p>Udin Rahmany sosok yang nyaris misterius yang sering disebut-sebut banyak tokoh ranah Minang. Tapi, disayangakan, belum ada satu pun tulisan atau keterangan, kecuali namanya menjadi nama Jalan dari Jorong Pasar Maninjau menuju Jorong Bancah, Nagari Maninjau. Jika Anda membuka Danau Maninjau di google, maka sebagian jalan di tepi danau itu terbaca jelas nama tokoh ini.</p>
<p>Dorongan untuk memecahkan misterius itu semakin kuat setelah Bang Khairul Jasmi (Wartawan Senior), meminta mencari informasi tentang Udin Rahmany sampai dapat. &#8220;Pasalnya, tokoh pahlawan terlupakan ini merupakan guru Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Pahlawan Nasional Wanita bergelar Singa Betina dari Minangkabau,&#8221; ungkap Bang KJ.</p>
<p>Tidak lama kemudian, bertemulah dengan Bunda Hawari Oerdin Rahmany (66), anak kandung dari Udin Rahmany. Ia didampingi Bang Am Sutan Marajo, tetangga dekat Bunda Hawari di Panyinggahan, Jorong Kubu Baru, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.</p>
<p>Pertemuan spontanitas itu menjadi lentera penerang gelapnya cerita salah seorang pejuang kemerdekaan tersebut. Enam lembaran kertas yang telah tersusun rapi diberikan Bang Am Marajo, merupakan milik Bunda Hawari yang telah dititipkan sebelumnya.</p>
<p>Entah gerak hati atau takdir dipertemukan Illahi, untuk dapat mengungkap sejarah yang hampir hilang. Berharap, perjuangan para terdahulu itu tidak hilang ditelan waktu begitu saja.</p>
<p><a href="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2022/09/IMG_20220921_220141.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-107012" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2022/09/IMG_20220921_220141.jpg" alt="" width="800" height="600" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2022/09/IMG_20220921_220141.jpg 800w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2022/09/IMG_20220921_220141-300x225.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2022/09/IMG_20220921_220141-768x576.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></a></p>
<p>Lembaran kertas itu berisi riwayat hidup yang ditulis langsung dengan mesin ketik. Tertulis tanggal pembuatan pada 31 Juli 1973.</p>
<p>Haji Udin Rahmany, lahir pada 5 Januari 1901 di Maninjau. Meninggal pada 12 Agustus 1982, dan dimakamkan di halaman rumahnya, Panyinggahan, Nagari Maninjau.<br />
Sosok seorang guru agama dan pemimpin Thawalib School dan Diniyah School Maninjau (1919 -1933). Beliau merupakan guru pertama Hajjah Rangkayo Rasuna Said.</p>
<p>Perjuangannya selain melawan penjajah dengan dunia pendidikan, juga bergabung di kepengurusan organisasi Sumatra Tawalib Cabang Maninjau dan Pusat (1919 &#8211; 1928), hingga menjadi Partai Persatuan Muslim Indonesia (Permi) di Padang.</p>
<p>Tahun 1923 sampai 1925, menjadi Ketua Syarikat Rakyat Cabang Maninjau. Pada tahun 1928 sampai 1933, Haji Udin Rahmany sempat menjadi pemimpin Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) Cabang Maninjau.</p>
<p>Ditangkap Belanda<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Nasib naas dialaminya pada saat Agustus 1933, ditangkap Pemerintah Penjajah Hindia Belanda dan dibui di Payakumbuh. Akhir tahun 1934, putusan pengadilan Belanda berusaha menjatuhi hukuman dengan tuduhan dianggap berbahaya menganut cita-cita merdeka dari Penjajahan Belanda, akhirnya dibuang ke Tanah Merah Boven Digul, Provinsi Papua Selatan sekarang.</p>
<p>Perjalanan dari Payakumbuh menuju Tanah Merah Boven Digul memakan waktu lebih kurang 1 tahun, dari 1934 sampai 1935. Menempuh jalan darat Sumatera menuju Selat Sunda hingga Surabaya, melintasi laut menuju Ambon hingga sampai di Tanah Merah Boven Digul.</p>
<p>Di sana dalam catatannya, ia menceritakan kisah hidup menjadi orang buangan besluit bersama ribuan orang penjuang perintis Kemerdekaan RI di sebuah Constarasi Camp oleh Pemerintah Belanda. Dan kisah perjalanan hidupnya diselimuti pertempuran antara tentara sekutu Australia melawan Jepang. Nasib baik dengan daya tahan dan daya juang, hingga akhirnya kembali ke Tanah Kelahiran Indonesia. Dan berlanjut ikut melawan Agresi Belanda Pertama dan Agresi Belanda Kedua (1948 &#8211; 1949).</p>
<p>Jika gurunya dibuang ke Tanah Merah, maka Rasuna Said dan Rasimah Ismail dikirim ke penjara perempuan di Malang. Dua gadis itu dilepas ribuan orang dengan lambaian yang mendebarkan dj Emma Haven. Guru san murid adalah musuh Belanda. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/udin-rahmany-guru-agama-dan-politik-hajjah-rasuna-said/">Udin Rahmany, Guru Agama dan Politik Hajjah Rasuna Said</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Pidato Presiden Soekarno di Bawah Pohon Beringin SGB Maninjau</title>
		<link>https://prokabar.com/kisah-pidato-presiden-soekarno-di-bawah-pohon-beringin-sgb-maninjau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Sep 2022 14:30:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Maninjau]]></category>
		<category><![CDATA[#pidatosoekarno]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#Soekarno]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=106980</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Presiden Soekarno pernah berkunjung ke Maninjau dan sempat berpidato di bawah Pohon Beringin sekitar kawasan SMA Negeri 1 Tanjung Raya, dulunya merupakan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-pidato-presiden-soekarno-di-bawah-pohon-beringin-sgb-maninjau/">Kisah Pidato Presiden Soekarno di Bawah Pohon Beringin SGB Maninjau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Presiden Soekarno pernah berkunjung ke Maninjau dan sempat berpidato di bawah Pohon Beringin sekitar kawasan SMA Negeri 1 Tanjung Raya, dulunya merupakan Sekolah Guru Bawah (SGB) Maninjau.</p>
<p>SGB Maninjau merupakan sekolah mencetak guru-guru pengajar di tingkat sekolah dasar atau guru SD.</p>
<p>Begitulah penuturan Angku Yus Bandaro Bodi atau lebih dikenal Angku Yus Datuak Parpatiah itu, kepada <em>Prokabar.com</em> beberapa waktu lalu.</p>
<p><strong>Baca Juga :</strong> <strong><a href="https://prokabar.com/historia-di-balik-kemesraan-soekarno-dan-nikita-khrushchev-lahirlah-stadion-utama-gbk/">Di Balik Kemesraan Soekarno dan Nikita Khrushchev, Lahirlah Stadion Utama GBK</a></strong></p>
<p>Tokoh Budayawan yang baru saja mendapat penghargaan Pelestari Budaya Maestro Seni Minangkabau dari Gubernur Sumatera Barat itu juga menjelaskan, kejadian tersebut berlangsung pada tahun 1948.</p>
<p>&#8220;Pada saat itu saya masih menjalani pendidikan kelas dua sekolah dasar di Sekolah Rakyat Governemen Kubu Sungai Batang. Kedatangan Presiden RI pertama itu, disambut meriah seluruh masyarakat dan pelajar Salingka Danau Maninjau,&#8221; terangnya.</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-pidato-presiden-soekarno-di-bawah-pohon-beringin-sgb-maninjau/">Kisah Pidato Presiden Soekarno di Bawah Pohon Beringin SGB Maninjau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat KJA Danau Maninjau</title>
		<link>https://prokabar.com/sejarah-singkat-kja-danau-maninjau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2022 09:15:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#DanauManinjau]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#kjamaninjau]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah KJA Danau Maninjau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=106827</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Diawali seorang Sarjana Pelopor Penggerak Pembangunan Desa atau SPPPD dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Sumatra Barat pada tahun 1990-an,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sejarah-singkat-kja-danau-maninjau/">Sejarah Singkat KJA Danau Maninjau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Diawali seorang Sarjana Pelopor Penggerak Pembangunan Desa atau SPPPD dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Sumatra Barat pada tahun 1990-an, Yulinus sekaligus Sarjana Perikanan Universitas Bung Hatta (UBH) memulai usaha perikanan di Danau Maninjau.</p>
<p>Awalnya tidak sedikit orang mencemooh sampai menyindir sinis usaha Keramba Jaring Apung (KJA) saat itu.</p>
<p>Ada orang mengatakan, beliau berasal dari Nagari Koto Gadang Anam Koto, ada pula yang menyebutnya berasal dari Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya.</p>
<p>Lepas dari persoalan itu, dari proses usaha perikanan yang dilakukan sempat mengalami banyak rintangan. Alhasil, Keramba Jaring Apung akhirnya membuahkan hasil setelah mendapat pengembangan penjualan ke Pasaman sampai ke Medan.</p>
<p><strong>Baca Juga : <a href="https://prokabar.com/miswardi-kja-sumber-kehidupan-masyarakat-danau-maninjau/">Miswardi: KJA Sumber Kehidupan Masyarakat Danau Maninjau</a></strong></p>
<p>Begitulah kisah itu dituturkan Azmid Nur atau lebih dikenal Pak Leman atau Pak Amik, warga Jorong Tanjung Sani, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam kepada <em>Prokabar</em> beberapa waktu lalu.</p>
<p>Ia mengatakan, ia bersama Yulinus berhasil mengembangkan usaha KJA bersama organisasi Islam Muhamaddiyah Ranting Tanjung Raya.</p>
<p>Usaha itu ikut dimodali Pak Gani warga Koto Gadang yang pada saat itu beliau berkerja di Pemda Padan.</p>
<p>Bibit ikan Danau Maninjau perdana yang berhasil dipasarkan ke Rao melalui Buyuang Tabek di Jorong Lansek Kodok, kemudian dibantu Pak Haji Ruslan.</p>
<p>Setelah ke Pasaman, Pak Amik dan tim menjajaki Kota Solok (Tanah Garam) Kiliran Jao, lanjut ke Koto Baru, hingga sampai ke Mauro Bungo. Di sini ia buat kolam ke Bangko ke Soro Langun bersama Haji Taufik.</p>
<p>&#8220;Di Rao, Pasaman Timur, ada kolam pamberok, kolam bibit kecil dibawa ke Maninjau, yang sortiran besar dibawa ke Padang Sidimpuan,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sejarah-singkat-kja-danau-maninjau/">Sejarah Singkat KJA Danau Maninjau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Raja Bagindo Ali, Ulama Minangkabau Penyebar Agama Islam di Filipina</title>
		<link>https://prokabar.com/mengenal-sosok-raja-bagindo-ali-ulama-minangkabau-penyebar-agama-islam-di-filipina/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fadhil Wafi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2021 05:18:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Islam]]></category>
		<category><![CDATA[minang]]></category>
		<category><![CDATA[Raja Bagindo Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=95891</guid>

					<description><![CDATA[<p>Prokabar.com &#8211; Raja Bagindo Ali atau yang dari ejaan Filipina dikenal dengan nama Rajah Baguinda Ali adalah sosok penting atas jasanya dalam penyebaran agama....</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/mengenal-sosok-raja-bagindo-ali-ulama-minangkabau-penyebar-agama-islam-di-filipina/">Mengenal Sosok Raja Bagindo Ali, Ulama Minangkabau Penyebar Agama Islam di Filipina</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://prokabar.com/"><strong>Prokabar.com &#8211;</strong></a> Raja Bagindo Ali atau yang dari ejaan Filipina dikenal dengan nama Rajah Baguinda Ali adalah sosok penting atas jasanya dalam penyebaran agama.</p>
<p>Ulama asal Minangkabau tersebut adalah orang yang bangun cikal-bakal Kesultanan Sulu Filipina di bagian selatan pada abad 14 akhir.</p>
<p>Raja Bagindo injak kaki di Sulu pada tahun 1390. Meski jadi ulama yang berpengaruh, ia bukan orang pertama yang sebar dakwah di kawasan Mutiara Laut dari Orien tersebut.</p>
<p>Ia melanjutkan estafet dakwah dari pendahulunya keturunan Arab yaitu Karim ul-Makhdun.<br />
Tak hanya ke Sulu, Raja Bagindo juga pernah kunjungi daerah lain di kawasan Asia yaitu Serawak dan Sabah, Malaysia.</p>
<p>Berkat dibawah bimbingan Raja Bagindo, agama Islam di Sulu cepat berkembang. Dibuktikan dari kelahiran bibit Kesultanan Sulu Selatan pada abad ke-14.</p>
<p>Masuk tahun 1450, Rajo Sulu yang sudah sukses dan terkenal dengan kerja yang baik ganti posisi dengan sang menantu yaitu Sharif ul-Hashim Syed Abu Bakar, putra asal Arab.</p>
<p>Dari keterangan sejarah, sampai akhir hayat Raja Bagindo berhasil buat masyarakat Sulu hingga Pulau Sibutu masuk agama Islam.</p>
<p>Meski sukses dengan dakwah dari Raja Bagindo, kemewahan kerajaan Sulu saat ini hanya jadi kenangan dan cerita sejarah.</p>
<p>Suasana agung Islam di kawasan itu sempat rusak karena muncul kasus penyanderaan warga Indonesia dari kelompok Abu Sayyaf.</p>
<p>Kepulauan Sulu sendiri adalah kawasan di bagian selatan Filipina yang tak jauh dari negara tetangga yaitu Sabah, Malaysia.</p>
<p>Pulau itu memiliki luas 1.600 kilometer. Mayarakat asli sana adalah keturunan Suku Banjau, Baguingui serta Tasug, dan pegang bahasa daerah yaitu Melayu dan Tagalog. <strong>(MG1_ash)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/mengenal-sosok-raja-bagindo-ali-ulama-minangkabau-penyebar-agama-islam-di-filipina/">Mengenal Sosok Raja Bagindo Ali, Ulama Minangkabau Penyebar Agama Islam di Filipina</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional Berjasa dari Tanah Minang</title>
		<link>https://prokabar.com/sejarah-tuanku-imam-bonjol-pahlawan-nasional-berjasa-dari-tanah-minang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fadhil Wafi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2021 12:12:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[Tuanku Imam Bonjol]]></category>
		<category><![CDATA[Tuanku nan Receh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=95799</guid>

					<description><![CDATA[<p>Prokabar.com &#8211; Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, sudah tidak asing di telinga jika dengar nama Tuanku Imam Bonjol. Ia adalah pahlawan asal Minangkabau yang telah...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sejarah-tuanku-imam-bonjol-pahlawan-nasional-berjasa-dari-tanah-minang/">Sejarah Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional Berjasa dari Tanah Minang</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://prokabar.com/"><strong>Prokabar.com &#8211;</strong></a> Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, sudah tidak asing di telinga jika dengar nama Tuanku Imam Bonjol. Ia adalah pahlawan asal Minangkabau yang telah berjasa bagi tanah air.</p>
<p>Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol, Pagaruyuang, pada tahun 1772. Dikenal sebagai sosok pahlawan, ia juga seorang ulama kebanggaan tanah Sumatera.</p>
<p>Di tahun 1803-1838 saat Perang Padri terjadi, ia mampu berdiri di barisan depan menjadi pemimpin serta pejuang ketika melawan Belanda.</p>
<p>Dengan nama asli Muhammad Syahab, Imam Bonjol lahir dari pasangan Bayanuddin Syahab dan Hamatun.<br />
Sesuai pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ayah dari Imam Bojol yaitu Bayanuddin juga merupakan seorang ulama juga.</p>
<p>Ia menjadi ulama asal Sungai Rimbang, Lima Puluh Kota.</p>
<p>Jadi ulama sekaligus pemimpin di lingkungannya, Imam Bonjol raih sejumlah gelar seperti Peto Syarif, Malin Basa, serta nama besarnya yang terkenal hingga sekarang, Tuanku Imam.</p>
<p>Seorang bergelar Tuanku nan Renceh asal Agam adalah orang yang tunjuk Imam Bonjol untuk jadi imam (pemimpin) atas kaum Padri di Bonjol.</p>
<p>Perang Padri terjadi selama 18 tahun, yang mana dengan perpecahan selama itu kejadian tersebut buat luka dan jadi sejarah tak terlupakan bagi masyarakat Minang.</p>
<p>Alasan dari Perang Padri adalah karena ulama asal kerajaan Pagaruyuang punya keinginan agar syariat Islam dapat diterapkan.</p>
<p>Ajaran Islam yang satu jalan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah, serta pegang teguh Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasul.</p>
<p>Tuanku Imam Bonjol wafat pada 6 November 1864, saat sedang dalam pengasingan. Jasadnya dikebumikan di Lotta, Minahasa.</p>
<p>Atas jasanya untuk Indonesia, Tuanku Imam Bonjol telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sesuai SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, pada 6 November 1973.</p>
<p>Ia juga salah satu pahlawan yang jadi ikon untuk mata uang Indonesia, yaitu dalam lembaran Rp.5000. <strong>(MG1_ash)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sejarah-tuanku-imam-bonjol-pahlawan-nasional-berjasa-dari-tanah-minang/">Sejarah Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional Berjasa dari Tanah Minang</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nasihat Angku Yus: Indahnya Surau Hilang sejak Orde Lama</title>
		<link>https://prokabar.com/nasihat-angku-yus-indahnya-surau-hilang-sejak-orde-lama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ade]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2021 01:40:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<category><![CDATA[Angku Yus]]></category>
		<category><![CDATA[Datuak Parpatiah]]></category>
		<category><![CDATA[Ninik Mamak]]></category>
		<category><![CDATA[Tali tigo sapilin]]></category>
		<category><![CDATA[Tungku Tigo Sajarangan]]></category>
		<category><![CDATA[Yus Parpatiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=93966</guid>

					<description><![CDATA[<p>Prokabar.com, Agam &#8211; Pemuda Minangkabau sebelum orde lama dan orde baru masih merasakan indahnya surau. Masa-masa itu adalah yang terakhir generasi Minangkabau mendapatkan pendidikan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/nasihat-angku-yus-indahnya-surau-hilang-sejak-orde-lama/">Nasihat Angku Yus: Indahnya Surau Hilang sejak Orde Lama</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://prokabar.com/">Prokabar.com</a>, Agam &#8211;</strong> Pemuda Minangkabau sebelum orde lama dan orde baru masih merasakan indahnya surau.</p>
<p>Masa-masa itu adalah yang terakhir generasi Minangkabau mendapatkan pendidikan dari Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai.</p>
<p>Tokoh adat Minangkabau Angku Yus Datuak Parpatiah kembali bernostalgia saat memberikan materi implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bagi masyarakat Milenial.</p>
<p>Angku menyampaikan materi itu saat mengisi program Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat (BPNB) dengan tema menyapa Nagari 2021, Kamis (2/9).</p>
<p>&#8220;Di masa itu, Surau masih dapat kami rasakan dan nikamti. Kerasna pendidikan serta indahnya kebersamaan orang tua beserta Ninik Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai,&#8221; cerita Angku Yus.</p>
<p>Pelantun Piataruah Ayah ini melanjutkan, di masa mudanya, Tigo Tungku Sajarangan ini melatih para pemuda untuk mandiri dan cerdas menjalani hidup.</p>
<p>Berbeda dengan sekarang, pemuda cengeng dan manja, perengek, meminta-minta, bahkan bermental pengemis dalam menjalani hidup.</p>
<p>Sikap pemuda yang seperti ini mulai sejak orde lama dan orde baru.</p>
<p>Tatanan kehidupan masyarakat kacau karena pemberontakan PRRI dan PKI.</p>
<p>Peran Surau hilang karena peran Tigo Tali Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan sudah tak terlihat.</p>
<p>&#8220;Roh surau itu terletak pada Tigo Tali Sapilin, Tungku Tigo sajarangan, siapa mereka? mereka adalah Ninik Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai,&#8221; ungkap Angku Yus.</p>
<p>&#8220;Ketika satu saja di antara mereka tidak berperan atau melenceng, hancur Minangkabau dalam suatu nagari,&#8221; lanjutnya.</p>
<h4>Surau sebelum Order Lama</h4>
<p>Pria yang juga seorang sastrawan ini kembali bercerita, di Surau, pengkaderan tongkat estafet berjalan secara baik dari satu generasi ke generasi berikutnya.</p>
<p>Pemuda tak belajar secara formal, mereka belajar sendir dengan menelaah dan mencari secara mandiri.</p>
<p>Bahkan kepekaan berpikir pada eranya sangat kuat. Mencontoh, bersikap elok, serta berupa sopan santun.</p>
<p>&#8220;Nan baik budi, nan indah bahaso,&#8221; katanya lagi.</p>
<p>Di sini, lanjutnya, Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan itu saling menguatkan dan mengisi prinsip hidup masyarakat dengan pedoman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.</p>
<p>Namun, budaya ini semakin sirna dan seakan-akan menjauh dari kehidupan masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Jati diri mereka hilang sehingga jauh dari prinsip hidup dan tuntunan menjadi Minangkabau yang kental dalam beragama Islam an Surau sebagai wadah pemersatu.</p>
<p>&#8220;Mereka seakan bercerai-berai dengan pola hidup baru, pola pendidikan modern atau sekolah formal, teknologi modern dan hingga saat ini anak-anak dan remaja sudah sibuk bermain game online,&#8221; keluh Angku Yus.</p>
<p>&#8220;Persoalan ini hampir terjadi di seluruh pelosok negeri. Anak-anak jauh dengan kearifan dan keelokan budaya karena dunia dalam genggaman jari mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kesombongan datang dan budaya lokal mereka anggap kuno, kolot, dan tidak bermanfaat lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini seakan ada upaya penghancruan jati diri bangsa dan harus kital lawan dengan segenap kekuatan,&#8221; ajaknya. (rud)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/nasihat-angku-yus-indahnya-surau-hilang-sejak-orde-lama/">Nasihat Angku Yus: Indahnya Surau Hilang sejak Orde Lama</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sarungan, Cara Melawan Kompeni</title>
		<link>https://prokabar.com/sarungan-cara-melawan-kompeni/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi6]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2021 09:04:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#mbb]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#sarungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=84863</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padang, Prokabar &#8211; Ulama atau santri sarungan, merupakan lanjutan tradisi melawan kompeni Belanda. Waktu penjajah memakai pentalon, santri sarung. Belanda pakai sepatu, santri pakai...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sarungan-cara-melawan-kompeni/">Sarungan, Cara Melawan Kompeni</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang, Prokabar</strong> &#8211; Ulama atau santri sarungan, merupakan lanjutan tradisi melawan kompeni Belanda.</p>
<p>Waktu penjajah memakai pentalon, santri sarung. Belanda pakai sepatu, santri pakai tangkelek.</p>
<p>Sarung bermula dari  Yaman dan masuk ke Indonesia abad 14. Di Yaman sarung disebut futah, izaar, wazaar atau ma&#8217;awis.</p>
<p>Sudah lama sarung jadi pakaian muslim. Bahkan juga untuk pernikahan. Sarung termah di zamannya dibuat di Bugis.</p>
<p>Ramadhan yang kian dekat ini adalah saat sarung laris manis. Bukan lagi untuk melawan kampeni tapi untuk beribadah dan gaya.</p>
<p>Banyak sekali kaum pria kala santai memakai sarung. Maka di Indonesia sarung bukan hal baru. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sarungan-cara-melawan-kompeni/">Sarungan, Cara Melawan Kompeni</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Catatan Singkat Bencana Alam Di Danau Maninjau</title>
		<link>https://prokabar.com/catatan-singkat-bencana-alam-di-danau-maninjau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2021 07:04:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#DanauManinjau]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=81383</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Danau Maninjau, terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Alam yang sangat indah dimiliki di Negara Kesatuan Republik...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/catatan-singkat-bencana-alam-di-danau-maninjau/">Catatan Singkat Bencana Alam Di Danau Maninjau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Danau Maninjau, terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Alam yang sangat indah dimiliki di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.</p>
<p>Kampung halaman dari Buya Hamka, Rasuna Said dan A. R. Sutan Mansur. Keindahan alamnya sudah termashur sejak dulu kala. Hingga Buya Hamka berkata, &#8220;Saya sangat terkesan pada desa kelahiran saya. Saya sudah sering keliling dunia, tapi rasanya tidak ada pemandangan yang seindah Maninjau. Desa itu pun mempunyai arti penting bagi hidup saya. Begitu indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada dibalik pemandangan itu.&#8221;</p>
<p>Dibalik keindahan ini tidak lepas dari beragam persoalan yang terjadi. Bencana alam longsor, banjir bandang dan tubo belerang di Danau Maninjau silih berganti tiap tahunnya.</p>
<p>Bencana longsor besar terjadi pada 1979-1980, sempat berdampak pengusian besar-besaran pada saat itu. Sekitar 50 jiwa meninggal dunia dan ratusan warga sempat diungsikan dengan program imigrasi atau transmigran ke Pasaman Barat dan Dharmasraya.</p>
<p>Hingga saat ini, yang mendapat tempat di daerah transmigran itu ada yang bertahan dan sukses menjalankan hidup. Sebagian besar lainnya ada kembali ke kampung halaman, ada pula mencari peruntungan ke Pulau Jawa dan Riau.</p>
<p>Bencana alam kembali terjadi pada Tragedi Gempa Bumi melanda Provinsi Sumatra Barat pada 2009. Sebanyak 864 Kepala Keluarga penghuni di Selingkar Danau Maninjau, sempat mengungsi ke daerah lebih aman. Tidak hanya rumah atau harta benda, ada pula korban jiwa.</p>
<p>Bencana Longsor juga terjadi di Data Kampung Dadok, Nagari Sungai Batang. 17 orang jiwa meninggal dunia, kerugian materil mencapai 8 milyar rupiah. 50 orang warga diungsikan menghindari longsor susulan.</p>
<p>Lagi, bencana longsor juga terjadi di Jorong Galapung, Nagari Tanjung Sani dan sempat terjadi secara berulang kali, 2019 dan 2020. Bencana longsor dipicu cuaca ektrim hujan lebat disertai angin kencang. Meski tidak ada korban jiwa, namun wacana pengungsian kembali diberikan Pemerintah Daerah kepada warga setempat. Namun ajakan itu tidak mendapat kesepakatan dengan alasan sumber kehidupan dan sudah pilihan hidup warga setempat.</p>
<p>Selain bencana alam berupa longsor atau banjir bandang, Bencana Alam Kematian Massal Ikan Keramba Jaring Apung (KJA) juga bagian sorotan publik yang tidak hanya skala nasional lagi, bahkan sudah Dunia.</p>
<p>Sejarah singkat KJA berawal seorang sarjana perikanan salah satu Universitas ternama di Sumatera Barat menggagasnya pada 1990. Usaha perikanan itu ternyata berhasil menggantikan perkebunan pala dan cengkeh yang sempat jaya di Selingkar Danau Maninjau.</p>
<p>Kematian massal tanaman cengkeh dan pala beralih kepada keramba jaring apung, membuat perekonomian masyarakat Selingkar Danau Maninjau kembali bangkit. Masyarakat mulai berbondong-bondong menanamkan modal usaha perikanan ini.</p>
<p>Namun setiap usaha jelas memiliki tantangan dan cobaan. Seperti Bencana tubo belerang. Sejak 1995-an, kematian massal ikan KJA akibat keracunan sudah berlansung. Akan tetapi keuntungan yang menggiurkan, tetap membuat semangat mssyarakat bertahan di perikanan ini.</p>
<p>Bahkan menurut penelitian LIPI, melampaui 20 ribu KJA yang katanya kapasitas hanya 6 ribu saja. Sisa pakan ikan bertumpuk di permukaan dasar danau, dan semakin memperburuk pencemaran Danau Maninjau.</p>
<p>Menurut M. Badroji salah seorang tenaga ahli LIPI, Danau Maninjau adalah tambang emasnya masyarakat. Namun pemanfaatannya harus tetap menjaga kelestarian alam. Di satu sisi, pemanfaatan ke darat, terjadi keterbatasan lahan yang juga dikelilingi Cagar Alam Maninjau. Hutan lindung dan Cagar Alam Maninjau jelas tidak diperbolehkan memasuki dan memanfaatkan sebagai lahan perkebunan.</p>
<p>Alam nan indah dengan keberagaman hayati, panaroma memukau menjadi pemikat Destinasi Wisata unggul. Bahkan masih dianggap paling unggul ketimbang daerah wisata yang ada di Sumatera Barat atau di Tingkat nasional.</p>
<p>Selain Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka salah satu destinasi diminati wisatawan domestik dan negara tetangga (Malaysia, Singapora dan Brunai Darussalam), Bunga Rafflesia dan Danau Maninjau juga diminati Tourism Eropa dan Amerika Serikat.</p>
<p>Potensi ini hendaknya harus dioptimalkan sebagai pendamping atau peningkatan ekonomi, sosial budaya masyarakat. Semoga, potensi ini dapat dimaksimalkan masyarakat bersama pemerintah daerah dan perantau Minang. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/catatan-singkat-bencana-alam-di-danau-maninjau/">Catatan Singkat Bencana Alam Di Danau Maninjau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Haji Rasul Bergumam Pelan, Innalillahi Wainna Ilaihi Roji&#8217;un</title>
		<link>https://prokabar.com/gempa-besar-padang-panjang-1926-ketika-haji-rasul-bergumam-pelan-innalillahi-wainna-ilaihi-rojiun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2020 11:12:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#gempa]]></category>
		<category><![CDATA[#Haji Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[#Padang Panjang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=75137</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis: Januardi, SS, Msi (Kabid Litbang Bappeda Pemko Padang Panjang) HAJI Rasul tercenung selepas menerima kabar barusan. Pandangannya menerawang, dadanya buncah, ada kekhawatiran yang...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/gempa-besar-padang-panjang-1926-ketika-haji-rasul-bergumam-pelan-innalillahi-wainna-ilaihi-rojiun/">Ketika Haji Rasul Bergumam Pelan, Innalillahi Wainna Ilaihi Roji&#8217;un</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center">Penulis: <strong>Januardi, SS, Msi</strong><br />
<em>(Kabid Litbang Bappeda Pemko Padang Panjang)</em></p>
<p><strong>HAJI Rasul</strong> tercenung selepas menerima kabar barusan. Pandangannya menerawang, dadanya buncah, ada kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya. “Innalillahiwainna ilaihi raji’un” gumamnya pelan.</p>
<p>Sebagai seorang ulama besar dengan ilmu yang dalam, Haji Rasul atau Inyiak Rasul sangat memahami situasi yang terjadi di Padang Panjang saat itu sebagai sebuah ketetapan Allah yang harus diterima dengan sabar. Namun sebagai manusia biasa, ayahanda Buya Hamka itu juga tak bisa menepis kekhawatirannya akan keselamatan keluarga dan orang-orang yang disayanginya di Padang Panjang.</p>
<p>Bagaimana kondisi keluarganya di Gatangan, apakah mereka selamat?, bagaimana dengan murid-muridnya di Jembatan Besi?, bagaimana keadaan penduduk Padang Panjang yang lain ? Pertanyaan itu silih berganti di kepalanya.</p>
<p>Perjalanan dari Medan kemarin pagi bersama beberapa teman dilalui dengan perasaan lapang dan gembira, Haji Rasul baru saja kembali dari Mesir setelah dianugrahi gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar.</p>
<p>Beliau pulang ke Padang Panjang dengan perasaan bangga dan berharap gelar itu akan memotivasi murid-muridnya di Thawalib. Tapi kabar pagi ini mengubah suasana hatinya seketika, seseorang mengabarkan pada beliau, kalau Padang Panjang dilanda gempa besar sehari sebelumnya.</p>
<p>Ditelusurinya kabar itu melalui surat kabar yang beredar di Sibolga pagi itu. Benar ternyata, Padang Panjang, kota yang telah didiaminya belasan tahun belakang ini, tempat dia membesarkan Surau Jembatan Besi hingga menjadi Sumatra Thawalib dan Muhammadiyah baru saja diguncang gempa dahsyat. Dari informasi yang diterima banyak penduduk yang tewas tertimbun puing, bangunan banyak yang roboh, jalan-jalan terbelah.</p>
<p>*******</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-75139" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-300x216.jpg" alt="" width="581" height="418" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-300x216.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-1024x736.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-768x552.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp.jpg 1500w" sizes="(max-width: 581px) 100vw, 581px" /></p>
<p>28 Juli 1926 adalah salah satu hari paling kelam dalam sejarah Padang Panjang. Pagi itu sekitar jam 10.25 Wib, ketika masyarakat sibuk beraktifitas di hari Senin, hari ‘balainya’ Padang Panjang, Gemuruh gempa utama (main shock) berkekuatan 7,6 SR mengguncang kota berudara sejuk itu.</p>
<p>Gerakan menghentak vertikal terjadi secara tiba-tiba mengaduk-aduk perut bumi Padang Panjang dan terjadi cukup lama, demikian harian Sin Po menggambarkan kondisi saat itu. Gempa susulan (after shock) dengan goncangan yang lebih dahsyat terjadi beberapa jam kemudian sekitar jam 13.15 Wib, dengan kekuatan 7,8 SR.</p>
<p>Hari itu Padang Panjang terkoyak dan luluh lantak, remuk redam di segala penjuru. Gempa itu tak hanya terjadi di Padang Panjang, tapi juga dirasakan dan menimbulkan kerusakan di Agam, Lubuk Alung, Batipuh X Koto, Solok bahkan Alahan Panjang.</p>
<p>Nun jauh, 14 Km di timur Padang Panjang, tepatnya di Sumpu tepian Danau Singkarak, seorang bocah 13 tahun, seumuran anak kelas 1 SMP mengambarkan suasana gempa saat itu.<br />
“Saat sedang bermain dengan teman-teman sekira jam 10 pagi, terdengar bahana gemuruh dan deruman dahsyatnya,</p>
<p>Dan pada detik itu juga tanah seluruhnja goyang, goncang hebat sekali. surau, rumah-rumah kampung, pohon-pohonan dan batang-batang kelapa bergegar-gegar, berayun-ayun menakutkan. “Kami terhuyung-huyung, tak kuat berdiri. Badan kami gemetar sekudjurnya, keringat dingin meresap keluar, bibir puca tak berdarah, napas tertahan-tahan dan tak beraturan,”</p>
<p>Tak berapa lama setelah gempa pertama, datang lagi gempa kedua. “Tiba-tiba berguncang lagi, begitu berulang-ulang, kadang besar kadang kecil, kehilangan akal, kami semua berlari…,”</p>
<p>Begitulah Muhammad Radjab melukiskan suasana gempa besar 94 tahun silam. yang dituangkannya dikemudian hari di sela-sela tugasnya sebagai seorang jurnalis di Kantor Berita Antara, dalam memoarnya yang berjudul “Semasa Kecil di Kampung 1913 -1928” yang diterbitkan oleh PN Balai Pustaka tahun 1974.</p>
<p>Dengan daya khayalnya yang tinggi layaknya remaja ‘jolong gadang’, Radjab bersama teman-temannya mengira goncangan hebat itu akibat komet yang jatuh di Amerika dan goncangannya terasa sampai ke Sumpu. Tapi beberapa hari kemudian bocah itu baru paham ketika mengetahui kabar Padang Panjang telah hancur oleh gempa besar.</p>
<p>**********<br />
<img decoding="async" class="alignnone wp-image-75140" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-2-300x205.jpg" alt="" width="582" height="398" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-2-300x205.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-2-1024x699.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-2-768x524.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-2.jpg 1296w" sizes="(max-width: 582px) 100vw, 582px" /></p>
<p>Gempa besar tahun 1926 adalah salah satu peristiwa bencana alam dahsyat yang dialami Padang Panjang, peristiwa yang tak akan bisa dilepaskan dari sejarah Padang Panjang dan juga mungkin salah satu peristiwa yang akan selalu lekat dalam ingatan dari generasi ke generasi berikutnya.</p>
<p>Posisi Kota Padang Panjang memang berada persis di punggung naga geologi raksasa yang bernama Patahan Semangko (Semangko Fault) atau disebut juga Sesar Sumatera. Patahan sangat aktif di daratan yang membelah Pulau Sumatera menjadi dua, membentang sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, dari Teluk Semangka di Selat Sunda sampai ke wilayah Aceh di utara melintasi Liwa, Padang Panjang, Tarutung dan Aceh.</p>
<p>Penelitian di kemudian hari menyatakan bahwa gempa 28 Juni 1926 dengan epicentrum di Padang Panjang itu terjadi karena aktifitas Patahan Semangko tersebut, tepatnya pada segmen Sesar Sianok yang dikatakan bergerak 14 mm per tahun.</p>
<p>Peristiwa dahsyat 94 tahun silam itu menimbulkan kerusakan hebat diseluruh penjuru kota, ratusan rumah hancur terutama yang berstruktur beton, termasuk rumah Asisten Resident juga mengalami rusak berat.</p>
<p>Digambarkan jalan-jalan terbelah, Sebagian jembatan terputus, rel kereta api melengkung tak beraturan, stasiun kereta api dan pasar porak poranda. Ratusan rumah penduduk, gedung penjara, sekolah-sekolah rubuh. Bahkan Gedung Sekolah Sumatera Thawalib dan Diniyah pun tak luput dari kerusakan yang membuat aktifitas belajar mengajar di kedua lembaga pendidikan itu terpaksa dihentikan untuk sementara waktu.<br />
Konon di Pasar Usang air membusar dari perut bumi disela-sela rengkahan tanah. Gempa besar itu juga menimbulkan gelombang tsunami di danau Singkarak, catatan menunjukan terjadi penurunan dasar danau sekian meter di bagian selatan, yang memicu tsunami dengan perkiraan kecepatan 120 Km per jam ke arah tepian utara dan menghancurkan rumah-rumah dan menimbulkan banyak korban penduduk di area tersebut.</p>
<p>Koran Dagblad Radio dan Soeara Koto Gedang terbitan 7 Juli 1926 memprediksi jumlah korban jiwa mencapai hampir 1000 orang di seantero Sumatera Barat, mengingat parahnya kerusakan dan banyak penduduk yang tertimbun di bawah puing bangunan. Sedangkan bangunan yang rusak diperkirakan mencapai 2.383. Data resmi untuk korban di Padang Panjang sendiri dilaporkan sebanyak 354 penduduk tewas.</p>
<p>Resident Sumatra Barat saat itu, merasa perlu berkunjung dan menginap di Padang Panjang untuk mengecek kondisi lapangan dan menyaksikan betapa parahnya kerusakan yang terjadi. Bahkan Whitlaw pun ikut merasakan gempa susulan demi susulan selama di Padang Panjang karena getaran gempa berlangsung selama beberapa hari.</p>
<p>Sang Resident atau setara Gubernur saat ini segera berkirim kabar ke Gubernur Jendral di Buitenzorg (Bogor) tentang kondisi kerusakan di Padang Panjang. Pemerintah Kolonial Belanda baru dapat mengerahkan bantuan mulai tanggal 3 Juli 1926 dengan mengerahkan kekuatan militer untuk memasok bantuan dan penanganan darurat di daerah terdampak.</p>
<p>Kendala terbesar saat itu adalah menjangkau daerah pedalaman karena transportasi darat yang nyaris lumpuh karena kerusakan pada badan jalan dan rel kereta api. Kedahsyatan gempa di senin kelabu itupun tersiar keluar negeri yang memicu turunnya bantuan dari pihak-pihak luar yang disalurkan melalui Resident di Padang.</p>
<p>Laiknya setiap tragedi, manusia sering mengaitkan bencana yang terjadi dengan ulah dan perangai manusia. Muhammad Radjab menulis bahwa ayahnya mengatakan dunia akan kiamat,<br />
“Dia menasehati orang-orang kampungnya di Nagari Sumpur, yang sedang meringkuk di surau agar bertawakal,” tulis Radjab</p>
<p>Radjab mengingat, orang-orang kampungnya ketakutan, langsung mengumandangkan takbir atau seruan minta pengampunan kepada Tuhan, Surau penuh sesak oleh orang yang akan melaksanakan sholat berjamaah.</p>
<p>Di Padang Panjang sendiri berkembang pemikiran masyarakat bahwa gempa besar itu terjadi karena Tuhan murka dengan maraknya konflik saat itu. Kaum tua dengan kaum muda reformis, apalagi dengan kemunculan dan berkembangnya kelompok komunis pada awal 1920 yang digagas Datuk Batuah yang notabene salah satu murid Haji Rasul yang berwatak radikal.</p>
<p>Kelompok merah yang terkenal dengan pemikiran revolusioner itu mewarnai atmosfir pergerakan saat itu. Walaupun paham komunis mereka pakai sebagai alat perjuangan melawan penjajah, tetapi kelompok ini juga berkonflik dengan Muhammadyah yang baru berkembang dan dengan Haji Rasul sendiri yang notabene adalah guru mereka.</p>
<p>Mungkin betul juga apa yang diduga penduduk Padang Panjang saat itu, kalau Tuhan marah melihat komunis tumbuh di Negeri Serambi Mekah, marah ketika murid melawan pada guru-gurunya, marah melihat anak muda berdebat bersitegang urat leher dengan orang tua, marah pada pribumi yang menjilat pada penjajah Belanda, marah melihat hedonisme pejabat kolonial dari hasil menjajah pribumi.</p>
<p>*********<br />
<img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-75143" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-1-300x214.jpg" alt="" width="580" height="414" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-1-300x214.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-1-1024x732.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-1-768x549.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/10/pp-1.jpg 1509w" sizes="auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px" /></p>
<p>Haji Rasul termangu di depan puing rumahnya di Gatangan, apa yang dikhawatirkannya sepanjang perjalanan akhirnya terbukti. Rumah tempat beliau bernaung bersama keluarga hancur begitupun Sekolah Sumatra Thawalib yang dirintisnya bersama Abdullah Ahmad juga mengalami kerusakan berat.</p>
<p>Gelar kehormatan Doktor Honoris Causa yang baru diterimanya tempo hari dari Universitas Al Azhar tak mampu mengobati kegundahannya atas musibah yang terjadi dan ratusan orang yang tewas. Tetapi untung tak ada satupun keluarganya yang meninggal karena musibah itu. Untuk keamanan keluarganya, Haji Rasul menyuruh mereka pulang ke Maninjau sementara waktu.</p>
<p>Di tempat lain, tak jauh dari Gatangan, Diniyah School juga berduka. Mereka baru saja membangun gedung baru secara bergotong royong, karena daya tampung asrama tak lagi mencukupi dengan banyaknya murid di sana. Tapi apa daya, gempa telah meluluhlantakan gedung baru dan gedung lama yang mereka bangun dengan susah payah itu.</p>
<p>Bahkan salah satu murid Diniyah dari Agam tewas tertimpa bangunan. Melihat parahnya kondisi saat itu, Rahmah El Yunusiah, Sang Kartini Minangkabau itu memerintahkan seluruh muridnya untuk pulang ke rumah dan kampung masing-masing.</p>
<p>Hal yang sama juga diikuti juga oleh murid-murid Thawalib, bahkan para perantau yang bermukim di Padang Panjang pun banyak yang keluar dari Padang Panjang. Aliran manusia keluar dari Padang Panjang saat itu digambarkan Rahmah seperti rombongan kafilah di Padang Sahara.</p>
<p><em><strong>(Dari berbagai sumber)</strong></em></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/gempa-besar-padang-panjang-1926-ketika-haji-rasul-bergumam-pelan-innalillahi-wainna-ilaihi-rojiun/">Ketika Haji Rasul Bergumam Pelan, Innalillahi Wainna Ilaihi Roji&#8217;un</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Inilah Riwayat Uang 5 Juta Dolar yang Tidur Selama 11 Tahun</title>
		<link>https://prokabar.com/inilah-riwayat-uang-5-juta-dolar-yang-tidur-selama-11-tahun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[prokabar]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2020 02:22:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Dollar]]></category>
		<category><![CDATA[#nrs]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=72137</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padang, Prokabar, Uang 5 juta dolar terperangkap selama 11 tahun di Bank Nagari Sumbar. Sudah berbagai cara ditempuh, tetap tak bisa cair. Uang itu...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/inilah-riwayat-uang-5-juta-dolar-yang-tidur-selama-11-tahun/">Inilah Riwayat Uang 5 Juta Dolar yang Tidur Selama 11 Tahun</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang, Prokabar,</strong> Uang 5 juta dolar terperangkap selama 11 tahun di <a href="https://prokabar.com/tag/banknagari">Bank Nagari</a> Sumbar. Sudah berbagai cara ditempuh, tetap tak bisa cair.</p>
<p>Uang itu setelah 11 tahun ekuivalen Rp 86 miliar, lipat dua kurang sedikit. Sekarang akan dipakai untuk beasiswa. Belum semua, baru sekedar &#8220;penjawab tanya&#8221; Rp 5 miliar. Itu pun belum langsung cair, karena menunggu pergub. Pergub baru akan selesai, setelah ada masukan dari pakar.</p>
<p>Pada awalnya adalah PT Semen Padang, yang diakuisisi Semen Gresik jadi anak perusahaan. Gresik yang sudah masuk bursa itu, melego sahamnya pada Cemex dalam porsi yang kecil. Sekarang Cemex hendak jadi mayoritas. Beli saham lagi.</p>
<p>Rakyat Sumbar menolak <a href="https://prokabar.com/tag/semenpadang">PT Semen Padang</a> jadi bagian yang akan dijual. Muncul apa yang disebut spin off.</p>
<p>Cemex mundur, tak kuat berhadapan dengan kondisi seperti itu. Sahamnya dibeli oleh PT Rajawali. Saat itu pada 1999 Rajawali memberi hibah pada Pemprov Sumbar 5 juta dolar. Oleh Gubernur Gamawan Fauzi dan Ketua DPRD Leonardy Harmainy, dana ini disepakati disimpan di Bank Nagari.</p>
<p><strong>Terkunci</strong><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Niat hati dana tersebut dipakai untuk beasiswa. Sudah dua kali dibuat badan atau yayasan pengelola, ternyata uang tak bisa dicairkan karena terbentur aturan. Nomenklaturnya tak ada. Belum ada dalam sejarah Indonesia ada uang bukan milik pemerintah masuk APBD. Nah ini ada, 11 tahun dari Padang ke Jakarta, dipikirkan orang-orang hebat, tak dapat juga caranya.<br />
Pada Rabu (6/8/2020) Gubernur Irwan Prayitno dan DPRD Sumbar dalam rapat vikon, sepakat: dana bisa cair. Tinggal mengeluarkan pergub.</p>
<p>Menuruts seorang ketua DPRD <a href="https://prokabar.com/tag/sumbar">Sumbar</a> zaman dana itu dihibahkan, Masful, sebaiknya hibah dipakai dengan baik dan tepat sasaran.</p>
<p>&#8220;Hilangkan kader-kader, lenyapkan politik-politik, fokus pada generasi muda yang benar-benar berhak, agar pendidikan mereka tidak terputus.&#8221; <strong>(nrs)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/inilah-riwayat-uang-5-juta-dolar-yang-tidur-selama-11-tahun/">Inilah Riwayat Uang 5 Juta Dolar yang Tidur Selama 11 Tahun</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Historia: Di Balik Kemesraan Soekarno dan Nikita Khrushchev, Lahirlah Stadion Utama GBK</title>
		<link>https://prokabar.com/historia-di-balik-kemesraan-soekarno-dan-nikita-khrushchev-lahirlah-stadion-utama-gbk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2020 15:19:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#GBK]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#Soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[#Stadion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=69916</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, Prokabar &#8211; Hubungan paling mesra Indonesia dan Uni Soviet terjadi ketika di bawah Presiden Soekarno dan Nikita Khrushchev. Salah satu hasil kemesraan itu...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-di-balik-kemesraan-soekarno-dan-nikita-khrushchev-lahirlah-stadion-utama-gbk/">Historia: Di Balik Kemesraan Soekarno dan Nikita Khrushchev, Lahirlah Stadion Utama GBK</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Prokabar</strong> &#8211; Hubungan paling mesra Indonesia dan Uni Soviet terjadi ketika di bawah Presiden Soekarno dan Nikita Khrushchev. Salah satu hasil kemesraan itu lahirlah Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang dulu bernama Stadion Utama Senayan, Jakarta.</p>
<p>Dalam suatu kunjugan ke Indonesia, salah satu agenda Presiden Nikita Khrushchev adalah meninjau proyek-proyek pemerintah. Dalam sebuah kesempatan, Presiden Soekarno mengundang rombongan Khrushchev menyaksikan lokasi rekonstruksi kompleks olahraga. Sebuah stadion dengan atap melingkar menjadi pusatnya.</p>
<p>“Soekarno meminta agar kami membangun stadion di ibu kota negaranya, Jakarta, yang akan menampung ribuan penonton,” kenang Khrushchev dalam memoarnya Memoirs of Nikita Khrushchev: Volume 3.</p>
<p>Pada Februari 1960, proyek itu masih berbentuk maket ketika Khrushchev meninjaunya. Kini, ia menjadi stadion kebangaan milik rakyat Indonesia: Gelora Bung Karno (GBK). “Ini dibangun oleh spesialis Soviet yang sudah berpengalaman dalam proyek seperti ini,” ujar Khrushchev.</p>
<p>Permintaan itu sebenarnya sudah diajukan bertahun sebelumnya. Setelah gagal mendapat kredit dari Amerika Serikat, Soekarno beralih kepada Uni Soviet. Dalam kunjungan ke Moskow pada 1956, Sukarno melontarkan keinginannya terhadap Khrushchev: pemerintah Indonesia butuh pinjaman untuk pembangunan.</p>
<p>Khrushchev menyambut dengan tangan terbuka. Dalam pandangan sang kamerad, Indonesia masih negara terbelakang yang sedang berkembang. Dia lantas menawarkan pinjaman lunak dengan bunga ringan dan dapat dibayar dalam jangka panjang. Negosiasi pun terjalin diantara keduanya.</p>
<p>Di tengah pembicaraan, Krushchev tercengang. Tiba-tiba, hal pertama yang disebut Soekarno adalah keinginan untuk membangun stadion. Dalam memoarnya, Khrushchev mengurai silang pendapat dengan Soekarno.</p>
<p>“Untuk apa anda menginginkannya?” Khrushchev bertanya pada Sukarno.<br />
“Untuk mengadakan demonstrasi publik yang besar,” kata Soekarno.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-69917" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/karno-300x168.jpg" alt="" width="632" height="354" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/karno-300x168.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/karno.jpg 700w" sizes="auto, (max-width: 632px) 100vw, 632px" /></p>
<p>Khrushchev terkejut dan menyarankan bahwa itu bukan cara yang rasional untuk menghabiskan uang. Dalam hatinya, Khrushchev menganggap pembangunan stadion sebagai permintaan konyol. Namun pada akhirnya, dia dapat memahami alasan di balik keinginan Soekarno untuk membangun stadion.</p>
<p>“Secara umum, dia (Soekarno) lebih suka mengumpulkan kerumunan orang, Sepertinya dia selalu membutuhkan penonton, dan karena itu dia butuh panggung besar, dan itu adalah stadion yang pada akhirnya kami bangun.&#8221;kata Khrushchev</p>
<p>Dana pembangunan stadion GBK cair pada 1959. Jumlahnya cukup mahal: 12.5 juta dolar. Para insinyur dan teknisi Uni Soviet dilibatkan untuk merancang stadion berkapasitas 110.000 orang itu. Untuk ukuran Asia Tenggara, stadion ini diproyeksikan menjadi yang termegah dan terbesar.</p>
<p>Pembangunan stadion GBK tak luput dari kritik di dalam negeri. Pasalnya, proyek ini ditengarai sebagai ambisi pribadi dari Presiden Soekarno pada saat kesejahteraan rakyat masih terbilang sulit. Dalam otobiografinya, Soekarno mengakui banyak orang yang menganggap dirinya menghambur-hamburkan harta rakyat.</p>
<p>“Ini semua bukanlah untuk kejayaanku, semua ini dibangun demi kejayaan bangsa. Supaya bangsaku dihargai oleh seluruh dunia,” kata Soekarno dalam otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.</p>
<p>Walhasil pembangunan stadion yang berasal dari kucuran dana Uni Soviet cukup memuaskan Soekarno. Kota-kota lain di dunia, menurutnya, boleh jadi punya stadion yang lebih besar, tapi tak satu pun yang mempunyai atap melingkar seperti yang ada di ibu kota Indonesia.</p>
<p>“Ya, memberantas kelaparan memang penting, akan tetapi memberi makan jiwa yang telah diinjak-injak dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggan mereka&#8211;ini pun penting,” ungkap Soekarno.</p>
<p>Stadion GBK mulai dibuka dan diresmikan pada tahun 1962. Ia menjadi saksi perhelatan olahraga terbesar se-Asia. yaitu Asian Games pada tahun itu juga. Setahun kemudian, pentas olahraga bertaraf internasional yakni GANEFO (Games of the New Emerging Forces) pun digelar di sana.</p>
<p>Selain untuk kegiatan olahraga, Stadion GBK pun acapkali menjadi pusat rapat-rapat akbar, dan yang terpenting jadi gelanggang bagi Soekarno mengumandangkan pidato-pidato heroiknya.(*)</p>
<p>Sumber: <strong>historia.id</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-di-balik-kemesraan-soekarno-dan-nikita-khrushchev-lahirlah-stadion-utama-gbk/">Historia: Di Balik Kemesraan Soekarno dan Nikita Khrushchev, Lahirlah Stadion Utama GBK</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Historia: Bung Hatta Ternyata Jago Main Sepakbola, Dijuluki Onpas Serbaar</title>
		<link>https://prokabar.com/historia-bung-hatta-ternyata-jago-main-sepakbola-dijuluki-onpas-serbaar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2020 14:16:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#bung hatta]]></category>
		<category><![CDATA[#historia]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#SepakBola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=69834</guid>

					<description><![CDATA[<p>prokabar – Sejak kecil, Muhammad Hatta atau Bung Hatta, suka dengan sepakbola. Suatu hari, dia terlambat pulang karena bermain sepakbola. Dia pun dihukum neneknya,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-bung-hatta-ternyata-jago-main-sepakbola-dijuluki-onpas-serbaar/">Historia: Bung Hatta Ternyata Jago Main Sepakbola, Dijuluki Onpas Serbaar</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<header class="entry-header entry-header-01"></header>
<div class="g1-content-narrow g1-typography-xl entry-content">
<div id="essb_displayed_top_1084388334" class="essb_links essb_displayed_top essb_share essb_template_color-leafs essb_1084388334 essb_size_xl essb_links_center print-no" data-essb-postid="7474" data-essb-position="top" data-essb-button-style="icon" data-essb-template="color-leafs" data-essb-counter-pos="hidden" data-essb-url="https://www.bolabeten.com/bola/historia-bung-hatta-ternyata-jago-main-sepakbola-dijuluki-onpas-serbaar/" data-essb-twitter-url="https://www.bolabeten.com/bola/historia-bung-hatta-ternyata-jago-main-sepakbola-dijuluki-onpas-serbaar/" data-essb-instance="1084388334">
<p><strong>prokabar</strong> – Sejak kecil, Muhammad Hatta atau Bung Hatta, suka dengan sepakbola. Suatu hari, dia terlambat pulang karena bermain sepakbola. Dia pun dihukum neneknya, disuruh berdiri di bawah pohon jambu. Dia tidak boleh keluar dari garis lingkaran di sekitar pohon itu.</p>
<p>“Neneknya tidak mengizinkan dia sering bermain karena dia satu-satunya anak lelaki di kalangan keluarga, sehingga neneknya takut kalau Hatta main dengan teman-temannya. Kepada Hatta inilah tertumpah harapan seluruh keluarga,” tulis Solichin Salam dalam Bung Hatta: Profil Seorang Demokrat.</p>
<p>Hatta akhirnya bisa bebas bermain bola ketika sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau sekolah menengah pertama) di Padang. Tidak seperti ketika masih di Bukittinggi, neneknya melarang Hatta bermain bola karena cemas cucu kesayangannya cedera.</p>
<p>“Aku tidak boleh bermain bola, dia (neneknya, red) takut kakiku patah. Sekarang aku bebas. Aku bermain di tanah lapang dengan bola yang agak kecil, bola kulit yang dipompa. Saban sore pukul 17.00, aku sudah di tanah lapang. Kalau tidak bertanding, kami berlatih menyepak bola dengan tepat ke gawang,” kata Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku.</p>
<p>Hatta masuk perkumpulan sepakbola Swallow. Keahlian olah bolanya mulai terasah lantaran sering berlatih dan bermain di Plein van Rome (kini Lapangan Imam Bonjol, Kota Padang). Teman-temannya mengenal Hatta sebagai pemain bertahan yang tangguh. Sukar dilewati pemain lawan sehingga dijuluki Onpas Serbaar (sulit ditembus).</p>
<p>Di perkumpulan Swallow, Hatta tidak hanya menjadi pemain. Dia juga diminta kawan-kawannya sesama penghuni voorklas (kelas pendahuluan MULO) untuk menjadi bendahara. Dia dianggap cakap mengelola keuangan. Apalagi untuk bisa bermain, bolanya harus beli sendiri dari uang iuran perbulan. “Bola harus dibeli dan uang pembeliannya harus dikumpulkan berangsur-angsur dengan jalan membayar kontribusi tiap-tiap bulan,” ujar Hatta.</p>
<p>Hatta masih sering bermain bola meski sudah menjadi anggota Jong Sumatranen Bond (JSB). Bersama tim sepakbola asuhan JSB, Hatta berubah posisi menjadi penyerang tengah. Kendati tidak ada catatan berapa gol yang disarangkan, Hatta berhasil mempersembahkan juara Piala Sumatra Selatan tiga tahun beruntun.</p>
<p>Kegemarannya terhadap sepakbola tak pernah hilang meski diasingkan pemerintah Hindia Belanda ke Boven Digul, Papua. Bersama Sutan Sjahrir, Mohamad Bondan dan beberapa tahanan politik lainnya, Hatta menggelar friendly match antara pendatang baru dan penghuni lama Boven Digul pada 1935. Penghuni lama menang dengan skor 3-1.</p>
<p>Dalam Memoar Seorang Eks-Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan, Mohamad Bondan masih ingat posisi pemain pendatang baru: Marwoto sebagai penjaga gawang, di depannya berjaga dua pemain bertahan Bung Hatta dan Burhanuddin. Tiga pemain gelandang Datuk Singo di kiri, Maskun di tengah, serta Sabilal Rasad di kanan. Di depan berjejer lima penyerang yakni Suka, Bondan, Sjahrir, Lubis dan Muhidin.</p>
<p>Setahun berikutnya jelang Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Banda Neira, mereka menggelar laga perpisahan pada 1 Februari 1936. Entah ketika itu berapa skornya dan siapa yang menang.</p>
<p>Seiring waktu berjalan, Hatta yang telah menjadi dwitunggal dengan Sukarno, masih terus menyukai sepakbola. Meski tidak lagi bermain, dia masih sering mengikuti beberapa pertandingan klub-klub lokal maupun tim nasional PSSI.</p>
<p>Pada medio Mei 1952 di Lapangan Ikada (kini Kompleks Monas) digelar pertandingan persahabatan antara PSSI melawan tim dari India, Aryan Gymkhana. Dalam laga itu, PSSI kalah dan Hatta nyaris tiada habisnya beradu argumen dengan Sukarno yang ketika itu juga nonton di tribun kehormatan.</p>
<p>“Begitu pertandingan usai dengan 1-0, Bung Hatta jadi agresif dan antusias membahas kekalahan PSSI yang diutarakan dengan amat sistematik dan mendetail kepada Bung Karno seperti membicarakan politik yang urgent dan rumit. Bung Karno tampak terpojok dan keteter menjawab argumentasi Bung Hatta,” kenang Guntur Sukarnoputra dalam “Nonton Bola, Apa Tafakur?” termuat dalam Pribadi Manusia Hatta.</p>
<p>Sumber: <em>historia.id</em></p>
</div>
</div>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-bung-hatta-ternyata-jago-main-sepakbola-dijuluki-onpas-serbaar/">Historia: Bung Hatta Ternyata Jago Main Sepakbola, Dijuluki Onpas Serbaar</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Features: Maracanazo, Tragedi Sepakbola Brasil dan Pemain-pemain Timnas Dianggap Penjahat Terkutuk</title>
		<link>https://prokabar.com/features-maracanazo-tragedi-sepakbola-brasil-dan-pemain-pemain-timnas-dianggap-penjahat-terkutuk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2020 14:57:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#brasil]]></category>
		<category><![CDATA[#maracanazo]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#penjahat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=69769</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Rizal Marajo Stadion Maracana, Rio de Janeiro, 16 Juli 1950, adalah adalah waktu dan tempat yang pasti tak akan pernah dilupakan oleh rakyat...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-maracanazo-tragedi-sepakbola-brasil-dan-pemain-pemain-timnas-dianggap-penjahat-terkutuk/">Features: Maracanazo, Tragedi Sepakbola Brasil dan Pemain-pemain Timnas Dianggap Penjahat Terkutuk</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong>Oleh Rizal Marajo</strong></p>
<p>Stadion Maracana, Rio de Janeiro, 16 Juli 1950, adalah adalah waktu dan tempat yang pasti tak akan pernah dilupakan oleh rakyat Brasil. Cerita duka kegagalan Brasil meraih gelar juara dunia di rumah sendiri hari itu dan di tempat itu, menyisakan luka teramat dalam, bahkan sampai hari ini.</p>
<p>Hari itu final Brasil melawan Uruguay di Piala Dunia 1950. Seluruh Brasil sepakat, negara mereka sudah ditakdirkan menjadi juara dunia kali ini. Sombong, percaya diri, dan memandang Uruguay sebelah mata, ternyata berakhir pahit.</p>
<p>Selain faktor tuan rumah, ambisi besar, dukungan penuh publik, bermain di &#8220;katedral&#8221; sepakbola Brasil, Stadion Maracana, membuat tak ada keraguan secuilpun, mereka akan jadi juara dunia dan bersiap menggelar pesta besar.</p>
<p>Kemudian skuad Brasil di Piala Dunia 1950 adalah salah satu yang terbaik sepanjang sejarah. Anak asuh Flavio Costa punya trisula terlalu mumpuni, Friaca-Ademir-Chico, di lini depan. Ada pula si gelandang serang ajaib yang juga pemain idola Pele sejak kecil, Zizinho; serta bek dan kiper tangguh, Juvenal dan Moacyr Barbosa.</p>
<p>Sejak turnamen dibuka hingga menjelang laga terakhir, Seleccao menjadi tim dengan paling sangar dan merajalela menggebuk setiap lawan. Lihatlah statistiknya; mereka mencetak 21 gol dalam lima pertandingan (rata-rata 4,2 gol per laga). Bahkan sebelum laga terakhir, mereka sempat membantai Swedia 7-1 dan Spanyol 6-1.</p>
<p>Dengan format final Piala Dunia 1950 yang memakai aturan round-robin (seperti fase grup), yang dibutuhkan Brazil untuk juara tinggal satu: bermain minimal imbang melawan Uruguay dalam partai terakhir di Stadion Maracana pada 16 Juli 1950 itu.</p>
<p>Maka, pertandingan yang dianggap cuma formalitas belaka itu, Brasil sudah &#8220;dipastikan&#8221; akan juara. Rakyat Brasil sudah siap melakukan berbagai persiapan pesta untuk Seleccao. Di Maracana yang berkapasitas 200 ribu pentonton, catatan sejarah menunjukan, hari itu menunjukan sebanyak 199.854 tiket pertandingan ludes terjual. Fakta, laga Brasil vs Uruguay menjadi pertandingan dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.</p>
<p>Gilanya, staf FIFA bahkan telah mengukir nama setiap pemain Brasil di atas 22 medali emas yang mereka siapkan menjelang laga terakhir. Bahkan koran terbesar di Brazil saat itu, O Mundo, pada pagi hari sebelum laga menerbitkan headline lengkap disertai foto para pemain Brazil dengan judul “Inilah para juara dunia”.</p>
<p>Belum cukup? Walikota Rio de Janeiro Angelo Mendes de Moraes telah memberi pidato kemenangan untuk para pemain Seleccao beberapa jam sebelum sepak mula. “Kalian, para pemain, dalam beberapa jam ke depan akan dipuji sebagai juara, kalian tidak akan punya pesaing lagi di belahan bumi ini. Kalian lah juara dunia,” tutur Moraes lantang.</p>
<p><strong><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-69771" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1-300x169.jpg" alt="" width="593" height="334" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1-300x169.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1-1024x576.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1-768x432.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1-1536x864.jpg 1536w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 593px) 100vw, 593px" /></strong></p>
<p>Brasil telah mendahului takdir. Karena hasil pertandingan berbanding terbalik, Brasil kalah 1-2, dan gagal menjadi juara dunia. Saat babak pertama Brasil sudah unggul 1-0 melalui Friaca, makin membuat Brasil sombong dan makin yakin juara sudah di depan mata.</p>
<p>Tapi kenyataan pahit itu datang, menit ke-66, Uruguay mencetak gol penyama kedudukan lewat sepakan terukur Juan Alberto Schaffino dari jarak dekat. Lalu 13 menit berselang sebuah tembakan ke tiang dekat, yang dilepaskan winger Edgardo Alcides Ghiggia, memuat Uruguay berbalik unggul.</p>
<p>Gol Ghiggia menandai perubahan suasana di Maracana. Saat wasit asal Inggris, George Reader, meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, skor akhir 1-2 untuk kemenangan Uruguay. Seketika, tribun di Stadion Maracana menjadi muram, sunyi seperti kuburan.</p>
<p>Bahkan Ghiggia, pemain Uruguay yang mencetak gol &#8220;pembunuh&#8221; Brasil, ikut merinding melihat situasi di stadion. “Saya senang mencetak gol kemenangan Uruguay. Tapi, ketika melihat ke tribun dan mendapati orang-orang Brasil semuanya menangis tidak terkontrol, saya tidak bisa tidak merasa sedih,”kenang Ghiggia.</p>
<p>Mengerikan, laporan Guardian menyebutkan, sekurang-kurangnya 165 suporter terkena serangan jantung setelah pertandingan. Tiga di antaranya dikabarkan tewas meski telah mendapat pertolongan di rumah sakit. Seorang suporter Brazil membuat testimony di beberapa media mengklaim ada tiga orang—yang menyimak laga itu dari siaran radio melakukan aksi bunuh diri.</p>
<p>Di lapangan, saking tidak percaya dengan kekalahan Brasil, panitia Piala Dunia dari FIFA sempat lupa menggelar upacara penyerahan trofi juara untuk Uruguay. Presiden FIFA Jules Rimet akhirnya turun tangan dan menyerahkan sendiri trofi tersebut kepada kapten Uruguay, Obdulio Varela, meski tanpa seremonial dan podium. Tidak ada pula penyerahan medali pada hari itu karena 22 medali yang disiapkan FIFA sudah terlanjur dihiasi ukiran nama-nama pemain Brazil.</p>
<p>Tragedi yang dialami Brazil pada 16 Juli 1950, sekitar 70 tahun lalu, itu biasa disebut dengan istilah &#8216;Maracanazo&#8217; alias &#8216;pukulan untuk Maracana&#8217;. Tragedi ini membekas di ingatan semua orang, tak terkecuali bagi pemain legendaris Brazil, Pele, yang saat itu masih berusia 10. Pele mengaku, hari itu dia melihat pertama kali ayahnya menangis.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-69770" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-300x169.jpg" alt="" width="566" height="319" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-300x169.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana.jpg 640w" sizes="auto, (max-width: 566px) 100vw, 566px" /></p>
<p><strong>Bagaimana pemain-pemain Brasil itu sendiri?</strong><br />
Sungguh menyedihkan, skuad Brasil sat itu mengalami pukulan psikologis yang luar biasa, dan juga mendapat perlakuan yang tak terbayangkan. Bahkan berpuluh-puluh tahun mereka mendapat perlakuan bak penjahat terkutuk.</p>
<p>Striker Brazil, Ademir, mengaku usai laga itu dia tidak berani bertemu kekasih dan keluarganya. Sekeluarnya dari Maracana, dia memacu mobil pribadinya sejauh mungkin, menuju sebuah dermaga terpencil. Dia menghabiskan waktu 15 hari hanya berdiam dan mengurung diri di dermaga itu.</p>
<p>Pemain lain, Zizinho, merasakan trauma tidak kalah telak. Sampai 50 tahun sejak kekalahan itu, setiap tanggal 16 Juli Zizinho selalu mematikan telepon maupun jaringan internet di rumahnya. “Jika tidak, telepon hanya akan berdering sepanjang hari. Orang-orang di seluruh Brazil akan terus menanyakan kenapa kami kalah di Piala Dunia [1950],” akunya seperti dikutip Guardian.</p>
<p>Dampak signifikan juga terjadi dalam karier masing-masing pemain. Sebagian besar penggawa Seleccao tidak pernah lagi mendapat kesempatan memperkuat tim nasional untuk ajang Piala Dunia. Hanya dua pemain yang masih boleh memperkuat timnas untuk Piala Dunia, yakni Nilton Santos dan Carlos Jose Castilho.</p>
<p>Keduanya lantas berhasil membawa Brazil juara Piala Dunia 1958 dan 1962. Tapi ironisnya, di dua edisi itu Santos dan Castilho tidak diberi jatah medali emas sebagaimana rekan-rekan setim mereka, karena mereka adalah sisa &#8220;penjahat&#8221; 1950.</p>
<p>Aturan yang tidak kalah kejam: CBF melarang kiper kulit hitam memperkuat timnas Brasil. Kiper kulit hitam dianggap bisa mengingatkan publik kepada Moacyr Barbosa, kiper Brasil di laga kontra Uruguay.</p>
<p>Barbosa memang sosok yang dicap paling hina atas kekalahan Brazil. Dia adalah orang yang paling disalahkan atas dua gol Uruguay. Sejak kekalahan itu sahabat-sahabat terdekatnya mulai menjauh dan Barbosa hidup terkucilkan dan terlunta-lunta selama puluhan tahun. “Di Brazil hukuman pidana paling berat adalah 30 tahun. Tapi saya menjalani hukuman atas sesuatu yang bukan kesalahan saya selama 50 tahun,” keluh Barbosa.</p>
<p>Barbosa memang pantas merasa tidak bersalah, sebab dua gol Uruguay ke gawang Brazil memang bukan terjadi atas kesalahannya. Keduanya murni karena kecerdikan pemain Uruguay, Schaffino dan Ghiggjo, menempatkan bola ke ruang sempit.</p>
<p>Kiper Brazil di akhir 1990-an dan 2000-an, Nelson Dida, adalah orang yang paham betul akan hal itu. Dida merupakan orang kulit hitam pertama yang diperkenankan memperkuat Brazil di ajang Piala Dunia (edisi 2006) sejak kasus Barbosa.</p>
<p>Dida mengajukan pembelaan untuk salah sosok idolanya tersebut. “Faktanya dia adalah kiper nomor satu dan telah menunjukkan jasa besarnya untuk sepakbola Brazil. Sudah seharusnya orang-orang menghargai jasanya,” ungkap Dida.</p>
<p>Namun sia-sia, pembelaan Dida tak berdampak besar untuk memulihkan reputasi Barbosa. Hingga meninggal pada 7 April 2000, kiper kelahiran Campinas, Sao Paulo itu tetap diperlakukan seperti makhluk terkutuk. Tak banyak orang menghadiri pemakamannya. Dia meninggal dalam kesepian dan kemiskinan setelah menghabiskan masa tua dengan bekerja sebagai petugas honorer di Stadion Maracana.</p>
<p>Sembilan mantan pemain Brazil 1950 lain juga telah meninggal sepanjang periode 1990-an hingga 2000-an. Meski demikian, kematian-kematian itu tak mengubah fakta bahwa luka Maracanazo masih hidup sampai detik ini.(*)</p>
<p><strong><em>*) dari berbagi sumber</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-maracanazo-tragedi-sepakbola-brasil-dan-pemain-pemain-timnas-dianggap-penjahat-terkutuk/">Features: Maracanazo, Tragedi Sepakbola Brasil dan Pemain-pemain Timnas Dianggap Penjahat Terkutuk</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Historia: Ternyata Jenderal Soedirman Bintang Lapangan Hijau;  Bek Tangguh, Cedera Kaki, dan Mata Cacat Akibat Sepakbola</title>
		<link>https://prokabar.com/historia-ternyata-jenderal-soedirman-bintang-lapangan-hijau-bek-tangguh-cedera-kaki-dan-mata-cacat-akibat-sepakbola/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2020 13:15:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#jenderal]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#SepakBola]]></category>
		<category><![CDATA[#soedirman]]></category>
		<category><![CDATA[cedera]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=69748</guid>

					<description><![CDATA[<p>Prokabar &#8211; Suatu hari menjelang tengah malam pada 1944. Soedirman menyampaikan rencana bergabung dengan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) yang dibentuk Jepang. Dia meminta...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-ternyata-jenderal-soedirman-bintang-lapangan-hijau-bek-tangguh-cedera-kaki-dan-mata-cacat-akibat-sepakbola/">Historia: Ternyata Jenderal Soedirman Bintang Lapangan Hijau;  Bek Tangguh, Cedera Kaki, dan Mata Cacat Akibat Sepakbola</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Prokabar</strong> &#8211; Suatu hari menjelang tengah malam pada 1944. Soedirman menyampaikan rencana bergabung dengan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) yang dibentuk Jepang. Dia meminta pengertian istrinya, Siti Alfiah.</p>
<p>Namun, Alfiah mengkhawatirkannya karena mata sebelah kiri suaminya itu kurang terang. “Lalu, kaki mas yang terkilir waktu main bola itu…”</p>
<p>“Tidak apa-apa, Bu, semua pengalaman ada gunanya. Saya harap ibu berhati mantap,” kata Soedirman.</p>
<p>Dialog itu termuat dalam biografi Perjalanan Bersahaja Jenderal Sudirman karya Soekanto S.A. seperti dicuplik buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir garapan tim majalah Tempo.</p>
<p>Sepakbola merupakan olahraga kesukaan Soedirman ketika muda. Saat dia aktif di organisasi Hizbul Wathan, kepanduan Muhammadiyah, kemudian Pemuda Muhammadiyah. “Soedirman biasanya main sebagai back. Permainannya cukup baik, akan tetapi kasar,” tulis Solichin Salam dalam Djenderal Soedirman Pahlawan Kemerdekaan.</p>
<p>Karena permainan Soedirman cukup baik, catat buku Sudirman Prajurit TNI Teladan, lebih-lebih kalau sebagai back, maka dia temasuk pemain kelas A. Pada masa itu, istilahnya bukan yunior dan senior, tetapi kelas A dan kelas B.</p>
<p>Pemuda pendiam dan terlihat lemah itu, ternyata ketika main bola cukup tangkas dan agak keras dalam mengamankan pertahanan. Sebagai back, nampak sekali ketangkasannya jika musuh telah mengurung bentengnya. Jika barisan depan musuh mulai menyerangnya, dia pun mengeluarkan segala taktik dan teknik untuk memberesihkan semua gerak serangan.</p>
<p>“Di sanalah para penonton akan kagum dan tidak menyangka bahwa back yang cekatan itu adalah pemuda yang bernama Soedirman yang biasa digelari kajine (si haji) dalam pergaulan sehari-hari karena alimnya,” demikian tercatat dalam buku terbitan Dinas Sejarah TNI AD itu.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-69750" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/generale-sudirman-300x168.jpg" alt="" width="527" height="295" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/generale-sudirman-300x168.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/generale-sudirman.jpg 700w" sizes="auto, (max-width: 527px) 100vw, 527px" /></p>
<p>Soedirman memimpin kesebelasan Banteng Muda di Cilacap. Klubnya selalu ikut bertanding ketika jambore Hizbul Wathan atau konferensi Pemuda Muhammadiyah di berbagai kota di Karesidenan Banyumas. Sebagai back kuat Banteng Muda, dia pun menjadi pemain bond (perkumpulan, red.) sepakbola Banyumas. Bahkan, dia kemudian dipilih menjadi Ketua Pesatuan Sepakbola Banyumas.</p>
<p>Mokhammad Samingan, adik Soedirman, menceritakan karena dia pemain back yang tangguh, maka sering diancam lawannya. Dalam salah satu pertandingan, dia pernah disikat pemain lawan sehingga kakinya cedera –ada sumber yang menyebut sambungan tulang lutut kirinya bergeser. Cedera itu masih ada sampai dia wafat. Sepakbola juga membuat mata sebelah kanan sedikit cacat.</p>
<p>Kendati kaki dan matanya cedera, Soedirman tetap dapat menjadi anggota Peta. Dia mengikuti latihan Peta angkatan kedua sebagai daidancho (komandan batalion) di Bogor. Setelah itu, dia ditempatkan sebagai daidancho Daidan III di Kroya, Banyumas.</p>
<p>Setelah Indonesia merdeka, Kolonel Soedirman menjabat komandan Divisi V TKR Purwokerto. Saat itulah, dia mengatur strategi melawan Sekutu di Ambarawa. Karier militernya mencapai puncak setelah dia terpilih menjadi panglima besar tentara Indonesia.</p>
<p>Ketika Belanda melancarkan agresi militer kedua, dia dalam keadaan sakit melawan dengan bergerilya dari 19 Desember 1948 sampai 10 Juli 1949. Panglima Besar Jenderal Soedirman meninggal dunia pada 29 Januari 1950.(*)</p>
<p><em>Sumber: Hendri F. Isnaeni (historia.id)</em></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-ternyata-jenderal-soedirman-bintang-lapangan-hijau-bek-tangguh-cedera-kaki-dan-mata-cacat-akibat-sepakbola/">Historia: Ternyata Jenderal Soedirman Bintang Lapangan Hijau;  Bek Tangguh, Cedera Kaki, dan Mata Cacat Akibat Sepakbola</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membangkitkan Sejarah Di Surga Bumi Maninjau</title>
		<link>https://prokabar.com/membangkitkan-sejarah-di-surga-bumi-maninjau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 May 2020 04:00:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Maninjau]]></category>
		<category><![CDATA[#Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=67292</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar — Keberagaman geografis dan keelokan alamnya, membuat semua mata terpana. Keindahan memukai, mengkucak kagum setiap insan yang datang. Baru saja melintasi Matur negeri...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/membangkitkan-sejarah-di-surga-bumi-maninjau/">Membangkitkan Sejarah Di Surga Bumi Maninjau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><span class="s1"><strong>Agam, Prokabar — </strong>Keberagaman geografis dan keelokan alamnya, membuat semua mata terpana. Keindahan memukai, mengkucak kagum setiap insan yang datang. Baru saja melintasi Matur negeri di atas awan, maka tertataplah keelokan panaroma danau bernama Maninjau. Sebuah danau yang lahir dari letusan Gunung Api Sitinjau berusia sekitar 700 tahun lalu. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Entah sudah berapa juta manusia yang menikmati keindahan alamnya. Tidak satupun terdengar ocehan dan cemooh akan keelokan alam itu. Hanya rasa syukur dan pujian terlafalkan kepada Sang Maha Pencipta, karena serasa berada di surga bumi Allah. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Dari Puncak Matur, Puncak Lawang dan Lawang Park sama indahnya mata memandang. Pesona yang begitu tabjub, memberi kedamaian, ketenangan dan kesejukan. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Sejuk sungguh seasri udara tanpa dosa debu seperti hidup di kota-kota besar. Mengotori udara dari limbah pabrik, limbah udara mesin-mesin dengan bahan bakar masih dari alam itu juga. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Panaroma dari atas kaldera dan perbukitan, sisa letusan Gunung Api Sitinjau. Adalah suatu nikmat terindah yang selalu dirasakan anak cucu adam dan hawa. Saksi bisu pertahanan terakhir Kaum Padri dipimpin Tuanku Nan Tuo (Syekh Abdullah Alif atau Tuanku Pariaman) melawan Penjajah Kolonial Belanda.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Sangatlah merugilah kita, masih ada rasa keluh kesah dan tak mampu menjadikannya sebuah peluang atau potensi terhebat itu. Untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup masyarakatnya.</span></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-67293" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/4DEA27E8-27E7-4B7B-9EA0-DD59B71CD09D-1024x576.jpeg" alt="" width="1000" height="563" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/4DEA27E8-27E7-4B7B-9EA0-DD59B71CD09D-1024x576.jpeg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/4DEA27E8-27E7-4B7B-9EA0-DD59B71CD09D-300x169.jpeg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/4DEA27E8-27E7-4B7B-9EA0-DD59B71CD09D-768x432.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/4DEA27E8-27E7-4B7B-9EA0-DD59B71CD09D.jpeg 1040w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p class="p1"><span class="s1">Tidak sedikit tokoh besar yang menyempatkan diri, terpukau dengan magnet atau energi alam Danau Maninjau. Sampai-sampai, Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI, sahabat baik Buya Hamka mengukirnya dengan sebuah Pantun:</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Jika adik memakan pinang, makanlah dengan sirih hijau, jika adik datang ke Minang, jangan lupa singgah ke Maninjau…” Soekarno. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Pantun Soekarno itu terketik rapi dalam “Kenang-kenangan Hidup”. Bung Karno berucap, “Maninjau yang indah permai”. Dengan danaunya yang dahsyat, dengan sawahnya bersusun, dengan jalannya berkelok, terlukis dalam sanubari Bung Karno sebagai negerinya sendiri. (M. Subhan Kompasiana.com/2011).</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Rasa syukur itu memang harus diimbangi ilmu pengetahuan yang baik, sehingga dapat mencapai perpaduan manusia dengan alam dan Sang Pencipta-NYA. Ilmu memahami sejarah terbentuknya Danau Maninjau. Sejarah kedatangan umat manusia ke Danau Maninjau. Ilmu memahami geografis alam berupa tanah, udara, air, pohon, flora dan fauna beserta seisi alam seluruh yang ada di dalamnya. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Ilmu pengetahuan itulah yang akan membuat mereka mampu membangkitkan potensi dan peluang besar itu. Membuat mereka sejahtera bersama dan makmur bersama. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">&#8220;Iman tanpa Ilmu, ibarat lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, ibarat lentera di tangan pencuri,&#8221; Buya Hamka. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Sudah berapa banyak pencuri yang mengkuras dan membabat alam Danau Maninjau itu, hingga akhirnya menimbulkan bencana besar. Telah berapa banyak korban jiwa akibat segelintir orang yang katanya berilmu, merusak alam Danau Maninjau beserta Hutan Cagar Alamnya? Padahal alam telah diciptakan dengan keseimbang terbaik untuk makluk-NYA. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Keindahan, kesuburan, kesejukan dan keelokan alam serta budaya itu, melahirkan banyak Tokoh Pahlawan Nasional dan Pejuang Hebat asal Danau Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya, Agam).</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Dalam buku Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka, ulama pejuang itu menulis; “Saya sangat terkesan pada desa kelahiran saya. Saya sudah sering keliling dunia, tapi rasanya tidak ada pemandangan yang seindah Maninjau. Desa itu pun mempunyai arti penting bagi hidup saya. Begitu indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada dibalik pemandangan itu…” </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Kalimat terakhir, &#8221; &#8230;Begitu indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada dibalik pemandangan itu&#8230; &#8220;. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Satu uraian kalimat itu, memberi sejuta makna dan sangat memberi dampak besar bagi masyarakat Danau Maninjau, terkhusus di Kampung Halaman Buya Hamka itu. Jika dicermati kata-kata itu, sudah semestinya rasa syukur tidak hanya dirasakan, didengar dan dilihat saja. Semestinya, mampu menggunakan akal pikiran untuk menggali potensi diri dari alam dan budaya mereka sendiri. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Budaya Alam Minangkabau, dengan kesukuan atau salah satu klan terbaik di NKRI. Klan dengan memiliki falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Klan yang terkenal dengan kecerdasan intelektual, mentalitas dan loyalitas terhadap bangsa dan negara Indonesia ini.</span></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-67294" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/B07B1918-9D3D-4507-ACE1-A8F583E7B142-1024x576.jpeg" alt="" width="1000" height="563" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/B07B1918-9D3D-4507-ACE1-A8F583E7B142-1024x576.jpeg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/B07B1918-9D3D-4507-ACE1-A8F583E7B142-300x169.jpeg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/B07B1918-9D3D-4507-ACE1-A8F583E7B142-768x432.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/B07B1918-9D3D-4507-ACE1-A8F583E7B142.jpeg 1040w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p class="p1"><span class="s1">Rela berkorban dan siap miskin meski menjabat kekuasaan tinggi di negara ini. Dan pendiri bangsa itu bernama Bung Hatta, H. Agus Salim, Buya Hamka, Rasuna Said, Rohana Kudus, M.Natsir dan sebagainya. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Dan sudah saatnya pula, putra-putri daerah Danau Maninjau, kembali bangkit dari alam sadarnya, menggali dan memanfaatkan kekayaan alam dan budayanya guna kemakmuran, kesejahteraan mereka. Tentu dengan tetap menjaga keseimbangan dan sesuai Kepatuhan kita kepada Allah SWT. Memperdalam pengetahuan jati diri disertai ilmu pengetahuan lebih yang lebih luas. Mengenal jati diri sejarah leluhur dan Keislamanan yang telah dititipkan melalui nenek moyang mereka terdahulu di sana.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Ulama Tua (Tuanku Nan Tuo, Syekh Guguk Katur dan Syekh Muhammad Amrullah dsb), Hingga ulama pergerakan pembaharuan seperti Syekh Abdul Karim Amrullah, Yusuf Ambillah, A.R. Sutan Mansur sampai pada Buya Hamka.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Dan merugilah hanya memanfaatkan alam dan budaya tanpa memikirkan keelokan jangka panjang. Bahkan hanya mengambil keuntungan sesaat dan berdampak buruk pada masa akan datang. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Kelestarian alam dan budaya yang elok itu, harus dipertahankan. Bahkan harus terus maju seiring tekanan globalisasi. Bertahan dan terus melawan budaya krisis moral dan &#8220;malu&#8221;. (*)</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b><i>Penulis : R. Rajo Intan, Jurnalis dan Alumni FIB Unand</i></b></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/membangkitkan-sejarah-di-surga-bumi-maninjau/">Membangkitkan Sejarah Di Surga Bumi Maninjau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 69/303 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/21 queries in 0.053 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 20:48:24 by W3 Total Cache
-->