Daerah

Ini Cara BKSDA Agam Mengenalkan Satwa Dilindungi ke Masyarakat

Agam, Prokabar — Maraknya kemunculan sejumlah satwa liar yang dilindungi menggerakan banyak pihak untuk peduli. Hal tersebut tidak terkecuali dari pihak Kepolisian Republik Indonesia.

Kali ini, Satuan Polisi Air Polres Agam menjalin kerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Agam untuk melaksanakan sosisalisasi peraturan perundangan tentang tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Sasaran mereka adalah masyarakat Tiku V Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam. Kegiatan dilaksanakan pada, Jumat (22/2) kemaren.

Menurut Kasat Pol Air Polres Agam, AKP Irwandi Idam, sosialisasi itu bertujuan agar masyarakat sebagian nelayan dapat memahami dan mengetahuan jenis-jenis satwa dilindungi tersebut. Seperti Pari, Penyu, dan Buaya Muara.

“Peserta diberi pemahaman seputar satwa yang dilindungi. Seperti Buaya Muara, beserta tingkah laku serta kebiasaannya. Karena tidak menutup kemungkinan akan bertemu dengan habitat tersebut,” terangnya.

Irwandi menambahkan, kita perlu mengingatkan, habitat itu dekat dengan pemukiman warga. Dan sosialisasi ini dilakukan juga dalam rangka Quick Wins Polri sebagai penggerak revolusi mental. Serta pelopor tertib sosial di ruang publik.

Sementara itu Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam, Ade Putra, menjelaskan, sesuai undang-undang Nomor 5 tahun 1990 pasal 21 jo pasal 40 ayat (2) menerangkan bahwa bagi setiap orang yang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup atau mati akan dikenakan ancaman pidana paling lama 5 tahun dan denda Rp100 juta.

“Sosialisasi sebagai penggerak revolusi mental dan pelopor tertib sosial di ruang publik tersebut. Diharapkan mendapatkan perhatian serius dari seluruh masyarakat. Mengingat selama ini mereka belum mengetahui apa saja jenis satwa yang dilindungi,” ungkap Ade.

Dalam pertemuan tersebut terungkap beberapa waktu lalu ditemukan 7 (tujuh) ekor Penyu yang mati. Satwa itu ditemukan masyarakat karena tersangkut mata kail diduga dipasang oleh nelayan dari daerah luar. Namun saat ini tidak ditemukan lagi tubuhnya.

Selain itu masyarakat juga menyampaikan adanya satwa dilindungi jenis Lumba-lumba yang sering ditemukan oleh masyarakat disekitar lautan Nagari Tiku V Jorong. “Kami berharap nelayan bisa menjadi pelopor perlindungan satwa dilindungi tersebut. Hal ini berkaitan juga dengan rantai makanan ekosistem laut. Bila ini terganggu, dapat dipastikan, hasil tangkapan ikan mereka juga akan terganggu,” pungkas PEH BKSDA Resor Agam tersebut. (rud)

Berani Komen Itu Baik

Loading...
To Top