Daerah

Buaya Bertelur Di Pekebunan Sawit, BKSDA Sterilkan Lokasi

Tanjung Mutiara, Prokabar — Buaya Bertelur Di Perkebunan Sawit, Jorong Ujuang Labuah Timur, Nagari Tiku Limo Jorong, sempat menghebohkan masyarakat setempat telah mendapat penanganan dari BKSDA Provinsi Sumatra Barat, Resor Agam. Ade Putra, selaku Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA menyebutkan setelah mendapat informasi dan melihat langsung ke lokasi, membenarkan adanya penampakan buaya yang menjaga telurnya.

“Setelah kita telusuri dan menangapi laporan masyarakat, benar adanya penampakan buaya disekitarnya ada tumpukan jerami, didalamnya ada telur diperkirakan 40 buah. Diperkirakan ia akan menjaga telur itu sekitar 60 hingga 80 hari,” terang Ade.

Ia melanjutkan Buaya yang dekat sekali dengan pohon sawit tersebut memiliki panjang 4 meter dengan jenis kelamin jantan. “Buaya itu berjenis kelamin jantan, dan dimungkinkan Buaya betina mencari makanan,” ungkapnya lagi.

Ade kembali berkata, sebelumnya di 2018 lalu, juga ada Buaya yang bertelur di sekitar sini. Bahkan ukurannya melebihi Buaya saat ini. “Lokasi ini tepat berada di perkebunan sawit, berjarak 300 meter dari pemukiman masyarakat. Buaya ini juga sudah menjahui lokasi habitannya di Muara Sungai sekitar 500 meter. Dan sebelumnya, bulan januari 2018, juga ada Buaya yang bertelur,” tutur Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam tersebut.

Melihat situasi Dan kondisi dilapangan ini, terlihat persediaan air yang cukup dan jauh dari predator lainnya menjadikan lokasi tersebut nyaman untuk bertelur. Lokasi tersebut sudah diamankan dengan tali pembatas disertai berbagai tanda baca peringatan kepada masyarakat. Selain hewan buas berbahaya bagi manusia, ternyata hewan yang dilindungi undang-undang.

“Kami menghimbau seluruh warga untuk bersama-sama menjaga dan melindungi hewan tersebut. Sehingga proses penetasan telurnya tidak terganggu,” pungkas Ade.

Sementara itu, Zaida Koto (55) warga setempat menambahkan kejadian penampakan Buaya bertelur sudah ke dua kali di sekitar lokasi. Meski demikian sejauh ini tidak ada korban atau pemangsaan hewan ternak yang berjarak 300 meter dari pemukiman. 

Meski demikian, setelah mengetahui hal tersebut, warga setempat turut andil menjaga dan melindungi lokasi, sehingga tidak ada warga yang masuk ke area tersebut. “Tahun lalu saat penampakan pertama, banyak warga yang berbondong-bondong ke sini. Dan kali ini, kita melarang keras warga, yang terkadang hanya sekedar melihat-lihat saja. Padahal itu sangat membahayakan diri mereka sendiri,” tegasnya. (rud)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik

Loading...
To Top